JawaPos.com - Beberapa orang tampaknya sangat sulit tergoyahkan oleh stres. Ketika situasi memanas dan semua orang di sekitarnya panik, mereka tetap mampu menjaga ketenangan.
Menariknya, ilmu psikologi mengungkapkan bahwa ketenangan ini bukanlah bakat bawaan sejak lahir, melainkan hasil dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dibangun secara konsisten.
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang belajar menerima pikiran dan emosinya tanpa menghakimi diri sendiri memiliki kesehatan mental yang jauh lebih baik.
Untuk menjadi pribadi yang tangguh, Anda tidak perlu mengubah kepribadian secara drastis. Anda hanya perlu melakukan penyesuaian sederhana dalam merespons hal-hal di sekitar Anda.
Dilansir dari laman YourTango pada Senin (3/8), ada 12 kebiasaan kecil yang dilakukan oleh orang-orang yang tetap tenang dan stabil meski sedang di bawah tekanan.
Baca Juga: Unik! Ini 10 Ciri Kepribadian Orang yang Enggan Memakai AI Menurut Psikologi
1. Tidak Berbicara Lebih dari yang Diperlukan
Melatih diri untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara memungkinkan seseorang memahami situasi lebih dalam sebelum merespons.
Mengetahui kondisi emosional diri sendiri sebelum membuka mulut adalah langkah pertama untuk menyampaikan kata-kata yang benar-benar bermakna.
2. Tidak Membiarkan Emosi Menguasai Diri
Belajar mengamati emosi yang muncul, mencatatnya dalam kesadaran, lalu membiarkannya berlalu adalah keterampilan yang mengubah cara seseorang menghadapi tekanan.
Yale School of Medicine mengonfirmasi bahwa kemampuan mengobservasi emosi tanpa bereaksi impulsif adalah keahlian yang berdampak positif di setiap area kehidupan.
3. Menurunkan Ekspektasi terhadap Orang Lain
Setiap orang melakukan yang terbaik dengan kapasitas yang mereka miliki, dan memahami hal ini membantu seseorang menghindari konflik yang tidak perlu.
Memberi diri sendiri waktu untuk merespons dengan tenang membuka ruang bagi rasa ingin tahu alih-alih reaksi emosional yang menyulut ketegangan.
4. Membiarkan Hasil Kerja Berbicara Sendiri
Tidak ada kebutuhan untuk membanggakan pencapaian karena menjalani hidup sepenuhnya sudah menjadi pernyataan yang paling kuat dari dalam diri.
Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang berhenti bergantung pada pengakuan luar, pekerjaan itu sendiri berubah menjadi sumber kepuasan yang jauh lebih tahan lama.
5. Berhenti Menyenangkan Semua Orang
Kebiasaan selalu mengutamakan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri secara perlahan menggerus kepercayaan diri dan kemampuan membentuk hubungan yang autentik.
Melepaskan kebiasaan menyenangkan semua orang membuka jalan bagi seseorang untuk hadir sebagai diri yang paling sejati dan tidak terbebani.
6. Menganggap Pengkritik sebagai Penggemar Tersembunyi
Mengubah cara pandang terhadap orang yang tidak menyukai kamu menjadi sinyal bahwa kamu sudah cukup berarti untuk diperhatikan adalah cara cerdas melindungi ketenangan batin.
Ketika kamu bertindak hanya untuk diri sendiri dan bukan untuk menyenangkan orang lain, pengaruh opini luar menjadi jauh lebih kecil dari sebelumnya.
Baca Juga: 7 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Cek Menu Online Sebelum Makan di Luar Menurut Psikologi
7. Berkata Tidak ketika Itu Melindungi Kedamaian Batin
Menolak permintaan yang melampaui kapasitas emosional atau mental adalah cara paling langsung untuk melindungi energi dan fokus yang benar-benar berarti.
Penelitian menemukan bahwa kemampuan berkata tidak secara konsisten justru memperkuat kemampuan seseorang untuk hadir sepenuhnya pada hal-hal yang benar-benar penting.
8. Tidak Mengejar Kesempurnaan
Melepaskan diri dari tuntutan menjadi sempurna adalah langkah nyata menuju penerimaan diri yang lebih sehat dan kehidupan yang lebih ringan dijalani.
Perfeksionisme sering kali didorong oleh kekhawatiran terhadap penilaian orang lain, bukan oleh keinginan tulus untuk berkembang dari dalam diri sendiri.
9. Berpegang pada Kebenaran Diri Sendiri
Menjalani hidup secara autentik berarti melihat diri sendiri dengan jujur dan tidak membiarkan kritik dari luar mengubah cara kamu memandang diri sendiri.
Penelitian tentang harga diri mengonfirmasi bahwa rasa kestabilan batin tumbuh dari dalam, bukan dari cara orang lain memandang atau menilai kamu.
10. Melatih Empati secara Aktif
Menerima orang lain apa adanya, termasuk kekurangannya, adalah bentuk empati mendalam yang membebaskan seseorang dari kekecewaan yang tidak perlu.
Menyimpan energi emosional untuk hubungan yang benar-benar bermakna, alih-alih menghabiskannya pada hal-hal kecil yang tidak penting, adalah pilihan orang yang bijak.
11. Menemukan Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil
Kemampuan merasakan kesenangan dari momen sederhana sehari-hari adalah pelindung alami terhadap tekanan besar yang datang silih berganti.
Penelitian dari JAMA Psychiatry menemukan bahwa mencatat hal-hal yang disyukuri secara rutin secara nyata mengubah cara otak memproses realitas di sekitar seseorang.
12. Menerima Kekurangan Diri Sendiri
Penelitian tentang belas kasih diri menunjukkan bahwa menerima kekurangan sepenuhnya menghentikan pertempuran internal yang selama ini menguras energi tanpa hasil.
Menjadikan ketidaksempurnaan sebagai bagian dari identitas manusiawi adalah fondasi dari kepercayaan diri sejati yang tidak mudah digoyahkan oleh apapun dari luar.
Baca Juga: 10 Hal yang Bikin Orang Introvert Lelah meski Terlihat Menikmatinya Menurut Psikologi
Editor : Candra Mega Sari