Hotel Jakarta dan Bali Bidik Tamu Berdaya Beli Tinggi, Tak Lagi Andalkan MICE

JawaPos.com – Tingkat hunian kamar bukan lagi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan bisnis hotel. Di tengah perubahan perilaku wisatawan dan melemahnya sejumlah segmen pasar, pelaku industri mulai mengalihkan fokus pada kualitas pendapatan. Mereka membidik tamu dengan daya belanja lebih tinggi demi menjaga profitabilitas jangka panjang.
Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, perubahan strategi tersebut terlihat jelas di pasar hotel Jakarta maupun Bali.
"Jakarta dan Bali memang menghadapi dinamika pasar yang berbeda. Namun, keduanya bergerak menuju tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kualitas pendapatan," ujarnya kemarin (2/8).
Menurut Ferry, hotel kini tidak lagi sekadar mengejar tingkat okupansi yang tinggi. Operator lebih selektif menyasar tamu yang mampu memberikan kontribusi pendapatan lebih besar melalui tingkat belanja, pengalaman menginap, maupun loyalitas.
Di Jakarta, perubahan strategi dipicu melemahnya permintaan dari sektor pemerintahan. Selama bertahun-tahun, hotel bergantung pada kegiatan rapat, konferensi, dan acara resmi pemerintah. Namun, kebijakan efisiensi fiskal membuat permintaan dari segmen tersebut menurun.
Sebagai gantinya, hotel mulai menggarap segmen perjalanan korporasi, free independent travelers (FIT), wisata keluarga, staycation, pesta pernikahan, hingga berbagai kegiatan sosial dan hiburan.
"Permintaan MICE (meetings, incentives, conferences, and exhibitions) dari sektor pemerintah masih berada di bawah tingkat historis. Karena itu, hotel semakin aktif menyasar pelaku perjalanan korporasi dan FIT," jelasnya.
Fenomena staycation menjadi salah satu penggerak utama permintaan domestik. Sementara itu, penyelenggaraan pesta pernikahan dan berbagai acara sosial berkembang menjadi sumber pendapatan baru. Hotel pun bertransformasi menjadi destinasi gaya hidup, bukan sekadar tempat menginap.
Bali Fokus Wisatawan Premium
Sementara itu, fokus industri perhotelan di Bali bergeser dari mengejar jumlah wisatawan menjadi meningkatkan nilai ekonomi yang dihasilkan setiap pengunjung. Karena itu, hotel lebih membidik wisatawan dengan daya beli tinggi dibanding sekadar mengejar volume tamu.
Segmen hotel mewah terus mendominasi pengembangan baru di Pulau Dewata. Wisata berbasis wellness, pengalaman budaya, serta layanan yang dipersonalisasi menjadi daya tarik utama bagi wisatawan premium.



