JawaPos.com – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) menjadi 5,5 persen tidak membuat regulator khawatir terhadap kondisi industri keuangan nasional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan sektor jasa keuangan masih berada dalam kondisi sehat dan memiliki daya tahan yang kuat menghadapi tekanan eksternal maupun gejolak nilai tukar rupiah.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, pihaknya menghormati langkah Bank Indonesia yang kembali menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin sebagai upaya menjaga stabilitas rupiah.
”Kami menghargai semua upaya yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah. Dalam konteks Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), kami bekerja sama sangat erat untuk mencermati situasi saat ini,” ujarnya di Jakarta (10/6).
Kiki, sapaan akrabnya, menjelaskan OJK terus melakukan asesmen terhadap dampak kenaikan suku bunga, terutama terhadap industri perbankan yang memiliki eksposur cukup besar terhadap pergerakan nilai tukar. Pemantauan dilakukan tidak hanya secara sektoral, tetapi juga lintas sektor guna mengantisipasi potensi risiko yang dapat menjalar ke industri keuangan lainnya.
Meski ketidakpastian global masih tinggi, OJK menilai kondisi sektor jasa keuangan nasional hingga saat ini tetap stabil. Karena itu, masyarakat dan pelaku pasar diminta tidak berlebihan merespons kenaikan suku bunga acuan. ”Namun tentu saja kami tidak lengah dan terus mencermati berbagai perkembangan yang ada,” tegasnya.
Pemulihan Pasar Domestik
Di sisi lain, OJK juga melihat tanda-tanda pemulihan mulai muncul di pasar keuangan domestik. Setelah sempat mengalami tekanan cukup dalam, pasar saham Indonesia mulai menunjukkan rebound seiring meredanya sentimen negatif global.
Menurut Kiki, sejumlah langkah yang ditempuh regulator dan pelaku pasar berpotensi menjadi katalis positif bagi pemulihan kepercayaan investor. “Kita kemarin cukup dalam turunnya, tetapi pada Selasa (9/6) Alhamdulillah sudah rebound. Beberapa hal yang menjadi perhatian investor juga sudah dijelaskan. Upaya buyback saham tanpa RUPS mulai diwacanakan sehingga kami berharap pasar bisa kembali pulih,” katanya.
Stabilitas Fondasi Ekonomi
Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menilai keputusan BI menaikkan suku bunga acuan merupakan langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan, kenaikan suku bunga mencerminkan respons tegas bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya tekanan global. Tekanan tersebut antara lain dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah dan keluarnya sebagian dana investor asing dari pasar domestik.
“Stabilitas yang terjaga merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan aktivitas ekonomi, kepercayaan pelaku usaha dan masyarakat, serta penciptaan ruang pertumbuhan yang sehat dalam jangka panjang,” ujarnya.
Terkait kemungkinan penyesuaian bunga simpanan maupun kredit, Novita menegaskan perseroan akan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai kondisi pasar, likuiditas, hingga prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan risiko. ”Setiap penyesuaian suku bunga simpanan maupun kredit akan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar, dinamika likuiditas, serta pengelolaan risiko yang prudent,” jelasnya.
Bank Mandiri juga optimistis mampu menjaga momentum pertumbuhan pembiayaan, baik untuk korporasi, UMKM, maupun segmen ritel.
Pergerakan BI Rate Sepanjang 2026
21 Januari 4,75%
19 Februari 4,75%
17 Maret 4,75%
22 April 4,75%
20 Mei 5,25%
9 Juni 5,5%,
Sumber: Bank Indonesia
Editor : Hendra