Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Suara Komunitas Comic Frontier ke-20 (CFXX): Menakar Masa Depan Industri Kreatif di Era AI

Indri Ramadani • Rabu, 28 Mei 2025 | 19:00 WIB

Suasana dan jajaran booth pada Comic Frontier ke-20 Day 1, Sabtu (24/5/2025). (JawaPos.com/Indri Ramadani)
Suasana dan jajaran booth pada Comic Frontier ke-20 Day 1, Sabtu (24/5/2025). (JawaPos.com/Indri Ramadani)
JawaPos.com - Comic Frontier ke-20 (CFXX) yang digelar dua hari pada Sabtu dan Minggu, 24–25 Mei 2025 lalu di ICE BSD City, menjadi saksi nyata bagaimana komunitas kreatif Indonesia terus bergerak dan bertumbuh.

Di tengah hiruk-pikuk booth penuh merchandise dan cosplay yang memikat, ada satu isu yang tidak bisa dihindari: perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Bagi banyak kreator dan penikmat seni, AI bukan sekadar teknologi, tapi juga tantangan eksistensial.

AI: Alat atau Ancaman?

Bert (20), salah seorang artist yang turut meramaikan event CFXX dan baru tiga bulan menjajaki dunia merchandise. Ia mengungkapkan kegelisahannya terhadap AI.

"AI sudah banyak mengurangi lowongan kerja bagi artist, namun di saat yang sama AI sangat berguna bagi pihak-pihak yang ingin menghemat budget aset," ujarnya kepada JawaPos.com pada Sabtu (24/5/2025). 

Bert sendiri menggunakan AI sebagai alat bantu dalam proses kreatif, khususnya untuk riset awal.

"Ada, terutama dari segi research, seperti ChatGPT dan Gemini, namun hanya berupa data dan tidak pernah dalam bentuk gambar atau visual generate AI," tambahnya.

Sementara itu, Xav (27), artist yang aktif di industri kreatif sejak 2013, memilih untuk tidak menggunakan AI dalam proses kreatif.

"Tidak, karena memang tidak mengerti cara pakainya," ujarnya singkat. Meski begitu, ia tetap memantau perkembangan teknologi ini. 

"AI masih berkembang dan malah mengambil resource bumi yang harusnya buat manusia," tuturnya.

Ia memandang AI sebagai alat yang sebaiknya digunakan secara hati-hati, karena dampaknya tidak hanya menyentuh bidang pekerjaan, tapi juga lingkungan.

Human Touch Tak Tergantikan

Pintan (19), salah seorang pengunjung dan pembeli, melihat AI sebagai alat bantu yang tetap butuh batas.

"Adanya AI generate image seperti Midjourney dan ChatGPT yang bisa gratis itu bisa menghemat biaya produksi. Tapi, gambar yang dihasilkan juga belum bisa bagus dan banyak kekurangannya," ujarnya.

Menurutnya, sentuhan manusia tetap penting karena hanya manusialah yang bisa menyuntikkan emosi dan ekspresi dalam karya seni.

Suasana dan jajaran booth pada Comic Frontier ke-20 Day 1, Sabtu (24/5/2025). (JawaPos.com/Indri Ramadani)
Suasana dan jajaran booth pada Comic Frontier ke-20 Day 1, Sabtu (24/5/2025). (JawaPos.com/Indri Ramadani)

Pesannya kepada para kreator manusia di era AI ini cukup jelas. "Intinya terus berkembang lebih jauh agar tidak ketinggalan sama AI. Jangan lupa pakai layer noise biar AI susah detect. Jangan jadikan AI sebagai musuh utama, gunakan sebagai teman saja. AI masih dapat membantu berbagai hal, kita berkembang bersama AI, namun untuk membuat seni, say no to AI generated image especially for commercial use!" ujarnya.

Calot (20), yang sudah mengikuti event sejenis Comic Frontier sejak masih di Balai Kartini, punya pandangan lebih tegas.

"Sentuhan manusia sangat penting. Karena kalau dibuat AI, terlihat 'soulless' atau malas, tidak ada pemikiran di dalamnya," katanya. Ia menyarankan agar AI "dismantle saja atau dibuat ethical in any way possible."

Menurutnya, AI saat ini menguras terlalu banyak energi dan mencuri karya orang lain tanpa izin. "Jika ingin buat AI 'ethical', developer AI harus mencari tahu cara agar penggunaannya tidak menguras energi dan dalam bidang karya, harus menggunakan aset sendiri atau seizin pemilik jika bukan miliknya."

Adaptasi: Kunci Bertahan di Era Baru

Di tengah dinamika ini, banyak kreator tidak serta-merta menolak AI, tapi mencoba menyesuaikan diri. Mereka mencari jalan tengah yang memungkinkan tetap berkarya tanpa kehilangan arah. Bert menyarankan fokus ke pengembangan akun media sosial dan membangun branding yang kuat.

"Iya, karena bisa menambah pengalaman dari segi menjual merch, dan karena pengunjungnya cenderung banyak, artist yang berpengalaman bisa mendapatkan banyak penghasilan dalam waktu singkat," ujarnya soal peran penting event seperti Comic Frontier dalam menghidupkan ekosistem kreatif.

Xav menyarankan agar kreator tidak takut mencoba teknologi baru. "It's fine to try tools here and there, but don't forget why drawing is such a compassion yet taxing hobby," katanya.

Bagi Xav, menggambar bukan hanya urusan teknis, tapi juga aktivitas emosional yang membutuhkan tenaga, kesabaran, dan cinta terhadap prosesnya.

Menjaga Etika dan Masa Depan

Dalam menghadapi derasnya arus AI, ada satu hal yang tak boleh dilupakan: etika. Mulai dari konsumsi energi yang besar, pelanggaran hak cipta, hingga proses pelatihan AI yang masih sering abu-abu, semuanya perlu ditinjau dengan hati-hati. Komunitas kreatif berharap akan ada kesadaran kolektif dan regulasi yang berpihak, agar teknologi berkembang tanpa merugikan pencipta karya asli.

Penting juga bagi semua pihak, seniman, pengembang AI, dan pemerintah, untuk saling mendengar dan membuka ruang dialog. Kita perlu duduk bersama, bukan untuk saling menyalahkan, tapi untuk menyusun pedoman yang adil dan berimbang. Sebab pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya pekerjaan kreatif, tapi juga nilai-nilai kemanusiaan yang melekat pada proses berkarya.

Dorongan untuk tetap menjaga orisinalitas datang dari hati yang mencintai proses. Boleh saja kita belajar berdampingan dengan AI, tapi jangan sampai kehilangan sentuhan manusia di dalam seni. Terutama saat menyangkut karya komersial, garis batas ini harus dijaga dengan jelas—bukan untuk membatasi, tapi untuk melindungi yang tak tergantikan.

Komunitas Kreatif Tetap Tangguh

Event seperti Comic Frontier membuktikan bahwa komunitas kreatif Indonesia masih sangat hidup dan berdaya. Di ruang-ruang ini, seniman bisa mendapatkan penghasilan, relasi, dan validasi dalam waktu singkat. Tak hanya pameran dan penjualan merchandise, tetapi juga menjadi ruang tumbuh yang memupuk solidaritas antar kreator.

Di tengah gempuran dunia digital, ruang fisik seperti Comic Frontier punya keajaiban tersendiri. Bertemu langsung dengan artist favorit ataupun penggemar online, mendengar tawa, sapa, bahkan kritik membangun, menciptakan koneksi emosional yang tak bisa digantikan oleh algoritma. Ada rasa yang hanya bisa hadir saat dua manusia berbagi ruang dan saling menghargai karya satu sama lain.

Teknologi boleh berkembang, tapi kompas para seniman tetap sama: berkarya dengan hati. AI akan terus hadir dan berubah, tapi rasa, kejujuran, dan empati tak bisa ditiru begitu saja. Dunia seni akan selalu punya tempat untuk manusia, selama kita tak lupa siapa yang seharusnya memegang kendali—kita sendiri.

Editor : Candra Mega Sari
#kecerdasan buatan Ai #ice bsd city #komunitas #comic frontier