Waspada Hantavirus! Reagen di Indonesia Terbatas, Menkes Budi Gunadi Sadikin Koordinasi dengan WHO

JawaPos.com - Pemerintah mulai menyiapkan langkah antisipasi menyusul merebaknya kasus hantavirus yang menjadi perhatian dunia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kini berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memperkuat sistem deteksi dini penyakit tersebut.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah tengah menyiapkan sistem skrining guna mendeteksi hantavirus lebih cepat. Pemeriksaan yang dipertimbangkan antara lain melalui rapid test maupun tes berbasis PCR.
“Ini kan virus yang lumayan berbahaya. Kita sudah koordinasi dengan WHO. Kita minta guidance untuk bisa lakukan screening-nya,” kata Budi.
Menurut dia, Indonesia memiliki keuntungan karena infrastruktur laboratorium PCR sudah jauh lebih siap sejak pandemi Covid-19. Karena itu, proses deteksi virus dinilai dapat dilakukan lebih cepat.
’’Jadi untuk deteksi virus ini harusnya bisa lebih mudah,” ujarnya.
Meski demikian, Budi mengakui, reagen khusus untuk mendeteksi hantavirus belum tersedia luas. Karena itu, pemerintah saat ini fokus memperkuat sistem pengawasan atau surveillance.
Ancaman hantavirus sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Dilansir dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes, sejumlah penelitian menunjukkan virus tersebut telah ditemukan sejak dekade 1980-an dan masih beredar hingga kini.
Studi di berbagai kota besar mencatat seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen. Artinya, sebagian masyarakat diduga pernah terpapar virus tersebut meski tidak terdiagnosis.
Sementara itu, tingkat infeksi pada populasi tikus sebagai reservoir utama dilaporkan berkisar 0 hingga 34 persen. Kondisi itu menunjukkan virus masih aktif beredar, terutama di wilayah dengan populasi rodensia tinggi.
Di Indonesia, jenis hantavirus yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus yang dibawa tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus. Kasusnya pernah ditemukan di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Denpasar.





