Jaga Stabilitas Rupiah, Pemerintah Hidupkan Lagi Dana Stabilitas Obligasi dan Percepat Penerbitan Panda Bond di Tiongkok

JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) menjamin, di tengah pelemahan rupiah, stabilitas nilai tukar tetap terjaga. Fundamental ekonomi Indonesia, menurut bank sentral, juga tetap kuat.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terjadi hampir terhadap seluruh mata uang dunia. Kondisi itu dipicu kenaikan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga tinggi The Fed yang membuat imbal hasil aset dolar semakin menarik.
Meski demikian, Perry menegaskan, kondisi rupiah masih relatif stabil dibanding mata uang negara berkembang lainnya. Menurut dia, BI telah melakukan langkah stabilisasi secara agresif melalui tujuh strategi kebijakan.
Di antaranya, intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga offshore non-deliverable forward (NDF) di pusat keuangan dunia seperti Hongkong, Singapura, London, dan New York. "Itu bukan business as usual. Kami intervensi around the clock di pasar global," kata Perry di Jakarta kemarin.
Untuk menjaga likuiditas, BI mempertahankan pertumbuhan uang primer di atas 10 persen, bahkan terakhir mencapai 14,1 persen. Di sisi lain, BI mempertahankan BI Rate pada level 4,75 persen selama Februari-April 2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. Inflasi April 2026 tercatat rendah di level 2,42 persen atau masih dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen.
Fundamental ekonomi Indonesia, kata Perry, juga masih solid. Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen, termasuk salah satu yang tertinggi di kelompok G20.
Neraca perdagangan Januari-Maret 2026 juga surplus USD 5,5 miliar yang didorong surplus nonmigas. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat USD 148,2 miliar dan dinilai lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas eksternal.
Redam Gejolak Pasar
Pemerintah juga mulai menyiapkan langkah tambahan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah kenaikan yield SBN dan tekanan di pasar keuangan global. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, Kemenkeu akan menghidupkan kembali skema Bond Stabilization Fund (Dana Stabilitas Obligasi) untuk meredam gejolak pasar obligasi domestik.
"Sebetulnya sudah ada tapi mati, saya mau hidupin aja," tuturnya.
Langkah tersebut dilakukan setelah yield SBN mengalami kenaikan cukup tajam dalam beberapa bulan terakhir. Dari kisaran 5,9 persen, yield obligasi pemerintah kini bergerak di level sekitar 6,7 persen. Kenaikan yield membuat harga obligasi turun dan memicu potensi capital loss bagi investor asing.



