JawaPos.com - Di tengah perhatian dunia yang selama beberapa tahun terakhir tersita oleh pandemi dan berbagai wabah penyakit menular baru, muncul kembali satu nama lama yang memicu kekhawatiran kalangan epidemiolog: Hantavirus.
Virus ini bukan patogen baru. Ia telah lama dikenal dalam dunia medis sebagai penyakit zoonotik, penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia—namun karakteristiknya yang unik, kemampuan menyebabkan penyakit berat, dan tingkat fatalitas yang tinggi membuatnya tetap menjadi ancaman serius ketika muncul dalam klaster penularan.
Perhatian global terhadap hantavirus kembali meningkat setelah terjadinya klaster kasus di kapal ekspedisi mewah MV Hondius, yang memicu respons cepat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan otoritas kesehatan di Eropa. ABC News melaporkan perkembangan terbaru, WHO menduga terjadi penularan antarmanusia dalam kontak sangat dekat—sesuatu yang selama ini dianggap sangat jarang pada hantavirus. Namun para ahli menegaskan, kasus seperti itu adalah pengecualian, bukan pola umum.
Hewan Pengerat
Secara ilmiah, hantavirus adalah kelompok virus RNA yang dibawa terutama oleh hewan pengerat liar, seperti tikus hutan, tikus rusa, dan beberapa spesies rodensia lain yang menjadi reservoir alami virus.
Hewan-hewan ini sering kali tidak menunjukkan gejala sakit, tetapi mereka mengeluarkan virus melalui urine, air liur, dan kotoran. Ketika material biologis tersebut mengering, partikel virus dapat terangkat ke udara sebagai aerosol mikroskopis dan terhirup manusia. Jalur inilah yang menjadi cara penularan paling umum.
Karena itu, seseorang sebenarnya dapat terinfeksi bukan karena digigit tikus, melainkan hanya karena membersihkan gudang lama, menyapu loteng berdebu yang terkontaminasi kotoran tikus, atau memasuki bangunan tertutup yang menjadi sarang hewan pengerat tanpa perlindungan pernapasan yang memadai. Virus juga dapat berpindah ketika tangan menyentuh permukaan terkontaminasi lalu menyentuh hidung, mulut, atau mata.
Yang membuat hantavirus menakutkan bukan hanya jalur penularannya yang diam-diam, tetapi juga efek klinisnya yang brutal. Kantor berita Reuter juga menyebut pada banyak kasus di benua Amerika, infeksi dapat berkembang menjadi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), kondisi ketika paru-paru tiba-tiba dipenuhi cairan, tekanan darah jatuh drastis, dan pasien masuk ke fase gagal napas akut hanya dalam hitungan jam hingga hari.
Tingkat Kematian
Dalam bentuk berat seperti ini, tingkat kematian bisa mencapai 40 hingga 50 persen, bahkan dengan perawatan intensif modern.
Di Eropa dan Asia, hantavirus lebih sering menyebabkan bentuk penyakit berbeda yang dikenal sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yakni demam berdarah dengan keterlibatan ginjal. Pasien dapat mengalami perdarahan, gangguan pembuluh darah, penurunan tekanan darah, hingga gagal ginjal akut. Tingkat kematiannya lebih rendah dibanding bentuk paru di Amerika, tetapi tetap signifikan, bergantung pada strain virus yang menginfeksi.
Berbeda dengan influenza, COVID-19, atau campak yang mudah menyebar lewat interaksi sosial biasa, hantavirus secara umum tidak mudah menular dari manusia ke manusia. Sebagian besar kasus murni berasal dari paparan hewan pengerat. Namun ada satu strain yang menjadi pengecualian penting: Andes virus, strain yang ditemukan di Amerika Selatan. Strain ini adalah satu-satunya hantavirus yang terbukti dapat berpindah antarmanusia melalui kontak sangat dekat dan berkepanjangan.
“Kami meyakini bahwa mungkin ada penularan dari manusia ke manusia yang terjadi di antara kontak yang sangat dekat, suami dan istri, orang-orang yang berbagi kabin,” Direktur Epidemic and Pandemic Management WHO, Dr. Maria Van Kerkhove kepada ABC News.
Pernyataan itu menegaskan bahwa bila penularan antarmanusia terjadi, konteksnya adalah kedekatan intens—misalnya pasangan suami-istri, orang yang tidur dalam satu kabin, atau caregiver yang terpapar cairan tubuh pasien dalam waktu lama.
Meski demikian, WHO meminta publik tidak panik. WHO menggambarkan paradoks hantavirus: virus ini sangat mematikan, tetapi tidak sangat menular. Dari perspektif epidemiologi, ini membuat hantavirus berbeda dari virus pandemi klasik. Ia lebih menyerupai “predator tersembunyi”, kasusnya relatif jarang, namun ketika menyerang, konsekuensinya bisa sangat fatal.
Sampai hari ini belum ada antivirus spesifik yang terbukti efektif secara luas untuk hantavirus, dan belum tersedia vaksin global yang digunakan secara massal. Penanganan medis masih bertumpu pada terapi suportif—oksigen intensif, ventilasi mekanik, stabilisasi tekanan darah, dan perawatan ICU. Karena itu, diagnosis dini menjadi faktor penentu keselamatan pasien.
Menurut penjelasan Neil Stone dalam unggahannya di X, Hantavirus pertama kali diidentifikasi pada 1978 dan dinamai berdasarkan Hantan River, lokasi di South Korea tempat virus tersebut pertama kali berhasil diisolasi.
"Virus ini umumnya ditularkan melalui hewan pengerat, meski varian Andes virus diketahui menjadi pengecualian karena dapat menular dari manusia ke manusia dalam kontak sangat dekat," tulis dokter spesialis penyakit infeksi dan mikrobiologi di National Health Service (NHS) Inggris ini
Infeksi hantavirus dapat menimbulkan gejala seperti demam, nyeri otot, hingga kesulitan bernapas, dan pada kasus berat memiliki tingkat kematian yang dilaporkan bisa mencapai 40 persen.
Pada akhirnya, hantavirus adalah pengingat bahwa ancaman penyakit menular tidak selalu datang dari virus yang menyebar cepat lewat udara di ruang publik. Kadang ancaman justru datang diam-diam dari gudang kosong, loteng berdebu, kabin terpencil, atau sudut rumah yang lama tak dibersihkan dan dibawa oleh hewan kecil yang selama ini hidup berdampingan dengan manusia tanpa disadari.
Indonesia Diminta Waspada
Sementara itu, dosen sekaligus peneliti mikrobiologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Dr drh Ni Luh Putu Ika Mayasari, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai penularan virus yang berasal dari hewan pengerat tersebut dengan menjaga kebersihan lingkungan.
Menurutnya, hantavirus tergolong penyakit zoonosis yang penularannya umumnya terjadi secara tidak langsung melalui urine atau kotoran tikus yang mencemari permukaan rumah, peralatan makan, maupun makanan. Virus juga dapat masuk ke tubuh ketika seseorang menyentuh area yang terkontaminasi lalu menyentuh wajah, atau menghirup partikel virus di udara dari lingkungan yang tercemar.
Ia menjelaskan, laporan kasus hantavirus di Indonesia mulai muncul sekitar 2020. Berdasarkan data terbaru, tercatat delapan kasus pada periode 15–21 Juni 2025 yang tersebar di West Java, Special Region of Yogyakarta, East Nusa Tenggara, dan North Sulawesi. Meski jumlahnya masih terbatas, masyarakat diminta tidak lengah dan memahami jalur penularannya.
Langkah pencegahan paling penting, kata Dr Ika, adalah membatasi akses tikus masuk ke rumah, menutup celah di saluran air atau atap bocor, menjaga kebersihan rumah, serta menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat. Area yang diduga terkontaminasi kotoran tikus juga sebaiknya dibersihkan dengan sarung tangan dan masker.
“Menjaga kebersihan diri dan lingkungan menjadi kunci utama mencegah penyakit yang ditularkan dari hewan, termasuk hantavirus,” ujarnya di situs resmi IPB.
Editor : Hendra