Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Delapan Alasan Mengapa Gen Z Sering Dipecat dan Kesulitan Mempertahankan Pekerjaan

Siti Nur Qasanah • Senin, 11 November 2024 | 12:00 WIB
Ilustrasi Gen Z saat sedang bekerja
Ilustrasi Gen Z saat sedang bekerja

JawaPos.com - Gen Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1996 dan 2010. Dilansir dari mckinsey.com, Gen Z berada di antara generasi milenial dan generasi Alpha. Mereka adalah generasi termuda kedua.

Gen Z paling awal lahir ketika internet baru saja digunakan secara luas. Mereka disebut "penduduk asli digital"—generasi pertama yang tumbuh dengan internet sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sebagai generasi digital, Gen Z dikenal sangat aktif online, sering kali menjalani aktivitas seperti bekerja, berbelanja, berkencan, dan bersosialisasi secara daring. Di Asia, mereka bahkan bisa menggunakan ponsel lebih dari enam jam dalam sehari.

Berbicara mengenai pekerjaan, sebagaimana yang dilansir dari yourtango.com, Gen Z rupanya sering kali dipecat dari tempatnya mencari rupiah.

Menurut data yang dilaporkan oleh Intelligent.com, 60% pengusaha telah memecat karyawan Gen Z dalam setahun terakhir. Gen Z sering dikritik sebagai generasi yang kurang motivasi. Namun, apa yang dianggap sebagai kekurangan ambisi ini mungkin sebenarnya adalah bentuk perlindungan diri.

Generasi Z cenderung ragu untuk sepenuhnya berkomitmen pada sistem perusahaan yang tidak memberikan jaminan keamanan yang cukup. Alasan utama mengapa Gen Z lebih sering dipecat dan kesulitan mempertahankan pekerjaan tidak selalu berkaitan karena kurangnya etos kerja, tetapi lebih berkaitan dengan pola pikir mereka terhadap budaya perusahaan.

Dilansir dari yourtango.com, berikut adalah delapan alasan mengapa Gen Z sering dipecat dan kesulitan mempertahankan pekerjaan.

1. Ketidakpastian ekonomi

Gen Z tumbuh di era ketidakpastian ekonomi dan politik. Menurut laporan dari Pew Research Center, Gen Z awalnya bersiap untuk menghadapi ekonomi yang kuat dengan tingkat pengangguran rendah. Namun, situasi berubah drastis ketika pandemi melanda dunia, mengacaukan kondisi sosial, politik, dan ekonomi. Gen Z menjadi generasi yang menghadapi ketidakpastian besar ini secara langsung.

Pandemi menghantam ekonomi dengan keras, dan Gen Z terkena dampak ketidakstabilan tersebut. Dalam survei Pew Research Center tahun 2020, setengah dari anggota tertua Gen Z, yang saat itu berusia antara 18 hingga 23 tahun, melaporkan bahwa mereka atau seseorang di rumahnya mengalami kehilangan pekerjaan atau pemotongan gaji akibat Covid-19.

Empat tahun kemudian, dampak dari ketidakstabilan ekonomi itu masih dirasakan oleh Gen Z. Pasar kerja terus berubah cepat, dan mereka berjuang keras untuk mengikuti perubahan ini. Harapan akan keamanan kerja kini tidak lagi sekuat di masa generasi sebelumnya, khususnya generasi baby boomer yang banyak di antaranya menunda masa pensiun, mempersempit kesempatan bagi Gen Z untuk menaiki tangga karier.

Di saat baby boomer mengkritik Gen Z sebagai generasi yang enggan bekerja, realitas ekonomi yang diwarisi oleh Gen Z justru menempatkan mereka dalam posisi yang kurang menguntungkan. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa Gen Z lebih sering mengalami pemutusan kerja dan kesulitan mempertahankan pekerjaan mereka.

Baca Juga: Ramalan 12 Zodiak Tanggal 11 November 2024: Mulai dari Aries Harus Jaga Emosi hingga Gemini Butuh Waktu Sendiri

2. Harapan yang tinggi terhadap fleksibilitas di tempat kerja

Berbeda dari generasi milenial yang mengagung-agungkan budaya kerja keras hanya untuk menghadapi penyesalan dan keinginan untuk menurunkan intensitas karier, Gen Z lebih menekankan fleksibilitas dalam pekerjaan. Mereka menginginkan keseimbangan kehidupan kerja yang nyata, bukan sekadar janji-janji kosong. Gen Z mencari keseimbangan yang sejati dan tidak mau menerima kurang dari apa yang mereka anggap pantas.

Seiring dengan harapan mereka akan jam kerja yang fleksibel dan opsi kerja jarak jauh, Gen Z berupaya untuk menjalani kehidupan yang tidak menempatkan pekerjaan sebagai fokus utama. Mereka tidak mendasarkan identitas atau harga diri mereka pada pekerjaan, yang menunjukkan pola pikir yang sehat. Lebih dari generasi sebelumnya, Gen Z cenderung mengutamakan kebahagiaan di luar pekerjaan.

Morgan Sanner, pakar karier untuk Gen Z, menyatakan bahwa "pencarian pekerjaan seharusnya tidak hanya tentang mencari tujuan; Anda tidak perlu menemukan jati diri di sana". Meski pencarian akan fleksibilitas sering membuat Gen Z kesulitan mempertahankan pekerjaan, ini bukan cerminan etos kerja yang rendah, melainkan perubahan prioritas yang tengah berlangsung. Kini, perusahaan yang perlu beradaptasi dengan perubahan ini.

3. Mencari lingkungan yang lebih dinamis daripada yang ditawarkan

Salah satu alasan Gen Z sering mengalami kesulitan mempertahankan pekerjaan adalah karena mereka menginginkan lingkungan kerja yang lebih dinamis daripada yang biasanya tersedia. Selain minat mereka pada pekerjaan jarak jauh, Gen Z juga mengharapkan tantangan yang belum mampu atau tidak ingin disediakan oleh banyak pekerjaan konvensional.

Studi dari Current Psychology pada 2022 membandingkan nilai-nilai antara Gen X dan Gen Z, menunjukkan bahwa Gen X memiliki tingkat ketahanan lebih tinggi, sedangkan Gen Z cenderung lebih terbuka terhadap pengalaman baru dan pengembangan diri. Studi ini juga mendapati bahwa Gen Z sangat menghargai inovasi dan perubahan, berbeda dengan kecenderungan mempertahankan status quo.

Karakteristik ini sering kali bertolak belakang dengan budaya perusahaan tradisional, sehingga Gen Z kerap kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan harapan mereka. Dunia kerja saat ini belum sepenuhnya siap untuk memenuhi kebutuhan generasi ini, yang menjadi alasan mengapa Gen Z kerap dipecat atau kesulitan mempertahankan pekerjaan.

4. Menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan nilai-nilai mereka

Gen Z menginginkan pekerjaan yang sejalan dengan nilai-nilai mereka, sehingga mereka tak ragu meninggalkan pekerjaan yang dirasa kurang memuaskan. Berdasarkan Survei Generasi Z dan Milenial 2024 dari Deloitte, sebanyak 86% Gen Z menganggap penting memiliki tujuan hidup untuk mencapai kesejahteraan dan kepuasan dalam bekerja. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa Gen Z semakin berani menolak perusahaan yang nilainya tak sesuai dengan pandangan mereka.

Selain itu, 75% dari Gen Z mempertimbangkan dampak sosial dan kontribusi perusahaan terhadap masyarakat saat mencari pekerjaan, dengan isu lingkungan berada di puncak pertimbangan mereka. Menurut survei tersebut, 62% Gen Z merasa cemas tentang perubahan iklim, dan dua dari 10 Gen Z bahkan telah berganti pekerjaan atau industri untuk menemukan yang lebih sejalan dengan nilai-nilai lingkungan mereka.

Mungkin tampak seperti Gen Z sering dipecat atau berjuang mempertahankan pekerjaan karena mereka tidak peduli dengan pekerjaan mereka, tetapi pada kenyataannya, mereka sangat peduli. Mereka hanya ingin pekerjaan mereka sesuai dengan prioritas politik dan sosial mereka.

5. Berjuang dengan hierarki tradisional

Baca Juga: Jamu Kunyit Asam: Rahasia Tradisional untuk Kesehatan Tubuh, Bantu Meredakan Nyeri Haid, Mencegah Alzheimer, Melawan Depresi, hingga Mecerahkan Kulit

Gen Z sering dipecat dan berjuang untuk mempertahankan pekerjaan karena mereka kesulitan menyesuaikan diri dengan tempat kerja yang memiliki hierarki tradisional. Mereka cenderung merasa frustrasi dengan cara perusahaan beroperasi. Gen Z tidak mengaitkan identitas pribadi mereka dengan pekerjaan mereka, yang berarti mereka biasanya tidak sependapat dengan rekan kerja yang lebih tua, yang menginginkan akses ke simbol status di tempat kerja .

Keinginan Gen Z untuk fleksibilitas dalam pekerjaan juga mencerminkan keinginan untuk menghindari proses pengambilan keputusan yang kaku dan formal, serta menginginkan suasana yang lebih santai. Misalnya, Gen Z biasanya tidak mempersoalkan keterlambatan beberapa menit, sedangkan generasi baby boomer menganggapnya sebagai masalah.

Sikap Gen Z terhadap pekerjaan memang mematahkan pola tradisional. Meskipun penerapan perubahan ini tidak selalu mudah, hal tersebut tetap dibutuhkan di dunia kerja saat ini

6. Mengutamakan kesehatan mental daripada pekerjaan

Kesehatan mental menjadi perhatian utama bagi Gen Z, dan perjuangan mereka dalam hal ini telah banyak dibahas. Berdasarkan analisis perbandingan tahun 2022, Gen Z menunjukkan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan generasi lain, bahkan sebelum pandemi. Kebutuhan mereka akan dukungan emosional melebihi apa yang biasanya disediakan di tempat kerja.

Gen Z sangat memprioritaskan kesehatan mental, yang sering kali menjadi alasan mereka meninggalkan lingkungan kerja yang penuh tekanan atau tidak sehat. Komitmen mereka terhadap kesehatan mental membuat mereka tidak ragu untuk keluar dari pekerjaan yang tidak memberikan dukungan yang memadai.

Walaupun banyak perusahaan berbicara tentang pentingnya kesehatan mental karyawan, pada kenyataannya, keuntungan sering kali tetap menjadi prioritas. Gen Z sering dipecat dan berjuang mempertahankan pekerjaan karena mereka tahu bahwa kesehatan mental mereka lebih penting daripada apa pun.

7. Memiliki pandangan budaya yang berbenturan dengan norma-norma tempat kerja yang sudah ketinggalan zaman

Pandangan dunia dan perspektif budaya Gen Z sering kali bertentangan dengan kebijakan tempat kerja yang sudah ketinggalan zaman. Menurut artikel Pew Research Center tahun 2020 berjudul "Di Puncak Kedewasaan dan Menghadapi Masa Depan yang Tidak Pasti", Gen Z berada di garis depan perubahan demografi Amerika: sebanyak 52% berkulit putih non-Hispanik, 25% adalah Hispanik, 14% berkulit hitam, 6% Asia, dan 5% lainnya adalah ras campuran atau beragam.

Pada 2020, Gen Z memiliki kemungkinan lebih besar untuk terdaftar di perguruan tinggi dan memiliki orang tua yang berpendidikan tinggi, dibandingkan Gen X atau milenial pada usia yang sama. Tingkat pendidikan yang tinggi ini menjadikan mereka generasi yang berpikiran terbuka.

Gen Z sangat menghargai nilai-nilai progresif dan kebijakan yang benar-benar mendukung inklusi. Mereka cenderung tidak bertahan di tempat kerja yang tidak mementingkan kesetaraan dan keberagaman, yang menjadi salah satu alasan mengapa mereka sering diberhentikan atau memilih keluar dari pekerjaan tersebut.

8. Toleransi rendah terhadap perlakuan tidak adil

Gen Z memiliki toleransi yang rendah terhadap perlakuan tidak adil, didorong oleh keyakinan kuat pada inklusi, keberagaman, dan kesetaraan yang sesungguhnya. Hal ini membuat mereka sering dipecat atau mengalami kesulitan mempertahankan pekerjaan. Mereka memahami nilai diri mereka dan enggan bertahan di perusahaan yang tidak memberikan penghargaan yang layak.

Jika generasi sebelumnya cenderung diam, Gen Z justru lebih vokal dalam menuntut rasa hormat. Baik dalam melawan diskriminasi maupun menolak upah dan kebijakan kerja yang tidak adil, mereka tidak ragu meninggalkan tempat yang tidak menghargai mereka, sehingga sering kali berujung pada tantangan dalam mempertahankan pekerjaan. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#Gen Z #dipecat #pekerjaan #karyawan