Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Sejarah dan Makna Lontong Cap Go Meh: Perpaduan Budaya dalam Hidangan Lezat Khas Perayaan Imlek

Dewi Aspara • Rabu, 12 Februari 2025 | 21:45 WIB

Ilustrasi lontong opor cap go meh
Ilustrasi lontong opor cap go meh
JawaPos.com - Pada 2025, Cap Go Meh jatuh pada tanggal 12 Februari. Perayaan ini menandai malam purnama pertama setelah Tahun Baru Imlek dan menjadi momen penting bagi komunitas Tionghoa di berbagai negara, termasuk Indonesia. 

Sebagai puncak dari rangkaian perayaan Imlek, Cap Go Meh bukan sekadar tradisi, tetapi juga simbol harapan akan keberuntungan, keharmonisan, dan kebersamaan dalam tahun yang baru. Di Indonesia, Cap Go Meh memiliki sentuhan khas budaya lokal yang membuatnya berbeda dari perayaan serupa di Tiongkok. 

Salah satu hidangan ikonik dalam perayaan ini adalah lontong Cap Go Meh, sajian yang mencerminkan perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa. Hidangan ini disajikan bersama berbagai hidangan khas seperti opor ayam, sambal goreng hati, telur pindang, dan sayur lodeh. 

Bukan hanya lezat, lontong Cap Go Meh ternyata memiliki makna simbolis yang diyakini membawa keberuntungan bagi yang menyantapnya. Lalu, bagaimana sejarah dan makna di balik lontong Cap Go Meh? Mari telusuri lebih dalam, dilansir dari Indonesia Travel, Rabu (12/2). 

Sejarah Lontong Cap Go Meh

Terdapat legenda yang mengisahkan asal-usul nama Lontong Cap Go Meh. Konon, ketika Laksamana Cheng Ho berlabuh di Semarang, ia mengadakan perlombaan untuk menemukan hidangan terbaik dalam perayaan Cap Go Meh. Seorang kepala desa setempat yang mendengar kabar ini memutuskan untuk ikut serta dengan menyajikan lontong bersama berbagai lauk khas Jawa. 

Saat pengumuman hasil perlombaan, salah satu juru bicara Cheng Ho menyebut hidangan tersebut sebagai "Luan Dang Cap Go Mia," yang dalam dialek Hokkian berarti "hidangan ke-15 dengan banyak bahan." Seiring waktu, penyebutan ini berubah menjadi "Lontong Cap Go Meh" dan menjadi tradisi yang terus diwariskan.

Makna Lontong Cap Go Meh 

Lontong Cap Go Meh adalah hidangan khas peranakan Tionghoa Indonesia yang menjadi bagian dari perayaan Cap Go Meh, yaitu hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek. Berbeda dengan tradisi di Tiongkok yang menyajikan yuanxiao atau tangyuan (bola-bola tepung beras), komunitas Tionghoa di Jawa mengadaptasinya dengan lontong.

Hidangan lontong Cap Go Meh mencerminkan makna akulturasi budaya antara Tionghoa dan Jawa yang telah berlangsung selama berabad-abad. Bentuk lontong yang panjang dipercaya melambangkan umur panjang, sementara telur pindang melambangkan keberuntungan. 

Sedangkan, kuah santan berwarna kuning dari kunyit melambangkan emas dan kemakmuran, menjadikan hidangan ini penuh dengan simbol keberuntungan bagi yang menyantapnya.

Dari Tradisi Menjadi Menu Sehari-hari

Meskipun awalnya hanya disajikan pada perayaan Cap Go Meh, saat ini Lontong Cap Go Meh dapat ditemukan di berbagai restoran yang menyajikan masakan peranakan dan Indonesia. Hidangan ini tetap menjadi simbol kebersamaan dan keberuntungan, menjadikannya favorit banyak orang di berbagai kesempatan.

Dengan kelezatannya yang unik dan makna budaya yang mendalam, Lontong Cap Go Meh bukan sekadar makanan, tetapi warisan kuliner yang menghubungkan sejarah, tradisi, dan cita rasa dalam satu sajian istimewa.

Editor : Candra Mega Sari
#tradisi #Makna Lontong Cap Go Meh #lontong cap go meh #imlek #Sejarah Lontong Cap Go Meh