JawaPos.com — Jas Merah, jangan lupakan sejarah!
Menjelang peringatan Hari Pahlawan, yuk, muda-mudi bangsa, kita jelajahi tempat-tempat bersejarah yang ada di Surabaya sekaligus menapaktilasi lagi perjuangan para kusuma bangsa yang telah gugur mempertahankan kemerdekaan Indonesia!
1. Jembatan Merah, Dibangun pada era Daendels, Jadi Saksi Tewasnya AWS Mallaby
Bangunan bersejarah di Surabaya satu ini bukan hanya jembatan wisata biasa, Jembatan Merah juga ternyata jadi saksi bagaimana rakyat Surabaya berperang melawan tentara Sekutu saat peristiwa 10 November 1945. Di jembatan inilah terjadi baku tembak antara arek-arek Suroboyo dengan bala tentara Sekutu yang mengakibatkan tewasnya AWS Mallaby.
Jembatan yang ada di atas Kali Mas ini merupakan penghubung daerah Surabaya bagian timur dan barat yang dibuat pada era Gubernur Jenderal Daendels, tahun 1809, untuk menghubungkan Jalan Kembang Jepun dengan Jalan Rajawali.
Di sekitar kawasan Jembatan Merah, yang kini menjadi kompleks wisata Surabaya Kota Lama, banyak bangunan tua yang dapat anda kunjungi untuk melakukan wisata sejarah, seperti Taman Sejarah, Klenteng Hong Tiek Hian, Pasar Pabean, dan Museum House of Sampoerna.
2. Gedung Internatio, Markas Sekutu yang Dikepung Arek-arek Suroboyo
Gedung yang juga disebut Internationale Kredieten Handelsvereeniging adalah sebuah bangunan bersejarah yang dibangun pada tahun 1850 dan terletak berdekatan dengan Jembatan Merah.
Gedung ini lekat dengan pertempuran Surabaya pada Oktober 1945. Setelah pasukan Jepang menyerah tanpa syarat, 6000 tentara sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby mendarat di dermaga Tanjung Perak. Mereka tanpa seizin pihak Indonesia langsung membebaskan tawanan (Belanda) dan menempati gedung ini.
Tindakan pasukan sekutu menyinggung perasaan masyarakat Surabaya. Inggris yang terdesak meminta Presiden RI untuk membantu mendamaikan pertempuran. Setelah terjadi perundingan, maka disepakati pembentukan mediator yang disebut Kontak Biro. Kala itu, komunikasi melalui Kontak Biro hampir berhasil. Namun, pihak Inggris justru berkhianat. Mereka menembakkan mortir ke mobil Kontak Biro dari dalam Gedung Internatio.
Kejadian tersebut lantas membuat arek-arek Suroboyo marah besar dan mengambil sikap yang pada akhirnya membuat Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby gugur di Jembatan Merah. Kejadian Inilah yang menjadi akar mula terjadinya peristiwa 10 november 1945 di Surabaya.
3. Gedung Cerutu, dari Kantor Pabrik Gula sampai Jadi Kantor Bank Mandiri
Berseberangan dengan Gedung Internatio, ada pula gedung bersejarah yang disebut Gedung Cerutu. Sesuai namanya, gedung itu memiliki bagian berupa menara yang berbentuk seperti cerutu.
Gedung ini berdiri sejak tahun 1916, dan tadinya merupakan kantor pabrik gula NV Maatschappij Tot Exploitatie van Het Bureau Gebroeders Knaud. Nama "Gedung Cerutu" sendiri merujuk pada menaranya yang berbentuk seperti cerutu. Setelah tidak lagi menjadi kantor pabrik gula, Gedung Cerutu sempat menjadi kantor Said bin Oemar Bagil dan kantor Bank Bumi Daya dan sekarang menjadi aset milik Bank Mandiri.
Terletak di Jalan Rajawali Nomor 7, Gedung Cerutu adalah salah satu penanda dari Kota Lama Surabaya. Area Kota Lama sendiri mencakup Jalan Rajawali, Jalan K.H. Mas Mansyur, dan JJalan Kembang Jepun. Gedung yang juga salah satu tempat bersejarah ini adalah saksi bisu pertempuran arek-arek Suroboyo dan kematian Jenderal Mallaby, pimpinan pasukan Sekutu.
4. Penjara Kalisosok, Tempat Para Tokoh Bangsa Ditahan di Balik Jeruji Besi
Penjara Kalisosok telah berdiri sejak awal abad ke-19, dibangun pada masa Gubernur Jenderal H.W. Daendels, tepatnya pada 1 September 1808, dan menghabiskan dana sebanyak 8.000 Gulden.
Nama Penjara Kalisosok sendiri diambil dari nama tempat di mana penjara Kalisosok itu berada, yaitu kampung Kalisosok yang berada di sebelah utara wilayah Kota Surabaya. Berdiri sejak masa kolonial Belanda dan terus digunakan sampai dengan masa republik, penjara Kalisosok melewati banyak rentetan peristiwa sejarah bangsa, terutama masyarakat Surabaya dalam upaya kemerdekaan Indonesia.
Salah satu peristiwa penting yang terjadi di penjara Kalisosok adalah penyerbuan tentara Sekutu ke penjara tersebut, yang menjadi awal pertempuran di Surabaya pada bulan Oktober 1945. Penyerbuan itu sendiri disebabkan oleh penangkapan yang dilakukan pemuda Surabaya di penjara Kalisosok terhadap seorang perwira militer Sekutu, yaitu Kolonel Laut Huiyer, yang membuat pasukan Sekutu di bawah pimpinan Kapten Shaw melakukan penyergapan penjara Kalisosok untuk membebaskan Kolonel Huiyer bersama dengan beberapa orang stafnya pada 26 Oktober 1945 malam hari.
Selain itu, Penjara Kalisosok juga menjadi tempat tahanan bagi tokoh penting bangsa Indonesia. Tokoh tersebut adalah K.H. Mas Mansyur (1896-1946), seorang tokoh Muhamadiyah dan juga dikenal sebagai tokoh Empat Serangkai, bersama Sukarno, M. Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara.
Mas Mansyur harus masuk ke dalam Penjara Kalisosok, karena ia aktif membantu pergerakan pemuda-pemuda Surabaya dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda, dan hal ini membuat pihak Belanda merasa perlu menyingkirkan Mas Mansyur dengan memenjarakannya di Penjara Kalisosok. K.H. Mas Mansur pada akhirnya wafat di penjara Kalisosok Surabaya pada 25 April 1946.
5. Tugu Pahlawan dan Museum 10 November, Menjadi Pengingat Perjuangan Bangsa
Diresmikan pada tahun 1952, Tugu Pahlawan merupakan sebuah monumen yang dibangun untuk memperingati peristiwa 10 november 1945. Bagi anda yang belum mengetahuinya, Tugu Pahlawan memiliki bentuk paku terbalik yang memiliki tinggi 41,15 meter. Selain itu, tugu ini memiliki tiang yang terdiri 10 lengkungan dan 11 ruas yang menandakan tanggal terjadinya peristiwa heroik 10 November 1945.
Masih di area yang sama, berdiri pula Museum 10 November yang menyimpan berbagai dokumentasi perjuangan arek-arek Suroboyo pada pertempuran 10 November 1945. Salah satu koleksi ikonik yang ditampilkan pada museum ini adalah catatan harian dan transkrip suara Bung Tomo saat menyemangati rakyat Surabaya untuk mengusir pasukan Sekutu.
6. Gedung Siola, Mulai dari Bentengnya Arek-Arek Suroboyo, Pusat Niaga, sampai Museum
Terletak di Jalan Tunjungan, Gedung Siola adalah sebuah gedung bersejarah yang dibangun pada tahun 1877. Gedung yang dulunya bernama White Laidlaw ini dibangun oleh Robert Laidlaw, pemilik perusahaan ritel besar White Laidlaw & co.
Dalam sejarahnya, Gedung Siola pernah menjadi tempat pertahanan pahlawan Indonesia dalam melawan tentara sekutu. Setelah kemerdekaan, gedung ini sempat menjadi pusat perniagaan modern, namun berkali-kali tutup sehingga dikembalikan kepada Pemerintah Kota Surabaya.
Baca Juga: Sambut Hari Pahlawan 10 November, Lafran Tayang di Over The Top
Perjalanan gedung ini kemudian tiba pada tujuan akhirnya di tahun 2015, ketika Gedung Siola resmi menjadi Museum Surabaya. Di museum ini, anda dapat menyaksikan perjalanan panjang Kota Surabaya.
7. Hotel Majapahit, Tempat Kumpul Tokoh Penting sampai Saksi Perobekan Bendera Belanda
Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit) Surabaya menjadi saksi peristiwa bersejarah perobekan warna biru pada bendera Belanda yang dikibarkan di atap hotel oleh pemuda-pemuda Surabaya, sehingga menyisakan hanya warna merah putih, warna bendera Indonesia. Insiden tersebut terjadi pada 19 September 1945, mendahului rangkaian konflik yang semakin memanas antara Republik Indonesia dengan Sekutu dan Belanda yang berpuncak pada pertempuran Surabaya 10 November 1945.
Dalam brosur khusus mengenai sejarah hotel yang diterbitkan oleh Hotel Majapahit pada tahun 2014, dijelaskan bahwa hotel yang awalnya bernama Hotel Oranje ini dibangun pada 1910 oleh Lucas Martin Sarkies, seorang pengusaha Iran keturunan Armenia yang keluarganya memiliki jaringan perhotelan di Asia Tenggara sejak akhir abad ke-19.
Menurut Ashadi dalam Peradaban dan Arsitektur Modern, hotel ini awalnya mengaplikasikan langgam Art Noveau, kemudian tahun 1931 bangunan ini direnovasi dengan menambahkan bagunan baru di bagian depan pintu masuk lama dengan langgam Art Deco oleh arsitek Belanda Charles Prosper Wolff Schoemaker.
Arsitektur hotel ini mengaplikasikan perpaduan langgam arsitektur modern Art Noveau dan Art Deco. Hotel yang telah berganti nama sebanyak lima kali ini dibangun dengan denah berbentuk huruf U, dengan ciri khas arsitektur kolonial, seperti warna dominan putih, bentuk jendela yang besar serta langit-langit yang dibuat lebih tinggi dihiasi lampu gantung. Hingga sebelum masa pendudukan Jepang, Hotel Oranje merupakan hotel mewah di Surabaya dan menjadi salah satu tempat transit pengunjung serta menjadi tempat pertemuan para perwira tinggi, sosialita dan pengusaha.
Pada masa pendudukan Jepang, nama hotel Oranje diganti menjadi Hotel Yamato dan dialihfungsikan menjadi markas komando dan wisma bagi para perwira tinggi militer Jepang, tanpa ada perubahan fisik secara signifikan.
Setelah terjadi peristiwa heroik perobekan warna biru bendera Belanda, nama hotel diganti menjadi Hotel Merdeka. Namun, beberapa bulan kemudian, ketika Sarkies bersaudara kembali mengelola hotel ini di tahun 1946, nama hotel kembali diubah menjadi LMS Hotel, akronim dari Lucas Martin Sarkies. Kemudian, setelah kepemilikan hotel berpindah kepada Mantrust Holding Co. pada tahun 1969, nama hotel diubah menjadi Hotel Majapahit.
Setelah pergantian nama yang terakhir ini, kepemilikian hotel beberapa kali memang sempat berpindah tangan. Meskipun demikian, nama Majapahit tetap dikenakan. Tahun 1993, pemerintah menetapkan hotel ini sebagai bangunan cagar budaya.
Peristiwa heroik perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato sendiri hingga kini masih menyisakan pertanyaan terkait siapakah tokoh yang dengan gagah-beraninya merobek bendera penjajah. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah