Jawapos.com - Angka kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kembali menunjukkan lonjakan signifikan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel mencatat, hingga 9 November 2025 terdapat 5.074 warga mengidap TBC.
Kepala Dinkes Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar menyampaikan, ribuan kasus tersebut tersebar di seluruh wilayah Tangsel. Kecamatan Ciputat menjadi penyumbang tertinggi dengan 1.285 kasus, disusul Pamulang sebanyak 1.079 kasus. Berikutnya ditempati Pondok Aren 860 kasus, Serpong 767, Serpong Utara 576, Ciputat Timur 363, serta Setu 144 kasus.
"Dari 5.074 kasus itu, terdapat 95 orang meninggal akibat TBC," ungkap Allin kepada Jawa Pos, kemarin (17/11). Menurutnya, peningkatan jumlah kasus tidak sepenuhnya menunjukkan penularan yang makin meluas, melainkan keberhasilan deteksi dini dari fasilitas kesehatan.
Pemeriksaan aktif yang dilakukan puskesmas dan tenaga kesehatan di tingkat wilayah membuat penderita lebih cepat teridentifikasi.
"Angka ini merupakan hasil kerja keras seluruh pihak. Semakin banyak yang terdeteksi, semakin cepat kita dapat mengobati dan memutus rantai penularan," ujarnya.
Dinkes Tangsel menegaskan komitmen menerapkan strategi temukan sebanyak-banyaknya, obati sampai sembuh dalam penanganan TBC. Pemerintah daerah mendorong masyarakat yang mengalami batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, atau keringat malam untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
"Semakin cepat diketahui, semakin tinggi peluang sembuh dan risiko penularan dapat ditekan," tambah Allin.
Selain deteksi dini, upaya pencegahan TBC dilakukan melalui edukasi dan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Allin menegaskan bahwa kedisiplinan pasien memegang peran besar dalam keberhasilan pengobatan.
Terapinya harus dijalani secara teratur selama rentang waktu tertentu dan tidak boleh dihentikan meski gejala mulai membaik. "Penderita TBC harus dipantau keluarga untuk memastikan obat diminum benar dan teratur sampai program pengobatan selesai," pungkasnya.
Editor : Hendra