JawaPos.com - Pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Cipeucang akan terealisasi. PSEL tersebut akan mulai beroperasi pada 2029.
Sebagaimana diketahui, Pemkot Tangsel menetapkan Konsorsium IEH-CNTY sebagai pemenang lelang proyek pembangunan dan pengoperasian fasilitas PSEL di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Serpong. Kemudian Konsorsium GPE-AKP-SUS ditetapkan sebagai pemenang cadangan dalam proyek berbasis skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) itu.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengatakan, Kota Tangsel akan menjadi tonggak lahirnya pengelolaan sampah perkotaan dengan teknologi modern yang ramah lingkungan di Indonesia. Adapun investasi pembangunan PSEL di kota Tangsel tersebut menelan biaya Rp 2,650 triliun.
"Masa pelaksanaan pembangunan fasilitas PSEL direncanakan akan selesai dalam waktu 2 tahun dengan masa persiapan 1 tahun. Jadi diharapkan sudah mulai beroperasi pada 2028 dan mulai beroperasi full pada 2029," kata Benyamin usai Penyerahan SPPL Pembanguban dan Pengoperasian Fasilitas PSEL Kota Tangsel di Puspemkot Tangsel, Ciputat (5/5).
Dia menuturkan, PSEL Cipeucang akan mengolah sedikitnya 1.100 ton sampah per hari menggunakan teknologi MGI atau Moving Grate Incenerator yang dapat mereduksi secara maksimal hampir seluruh sampah yang dihasilkan kota Tangsel.
"Pembangunan prasarana pengolahan sampah ini merupakan salah satu bukti komitmen pemerintah daerah dalam membenahi tata-kelola persampahan di kota Tangsel," tutur Benyamin.
Sementara itu, Pimpinan atau Ketua Konsorsium IEH-CNTY Bobby Gafur Umar mengungkapkan, sampah-sampah rumah tangga dan sampah lainnya terus menggunung di TPA Cipeucang. Selama ini TPA Cipeucang menjadi satu-satunya tumpuan tempat penampungan dan pengolahan akhir sampah yang berasal dari seluruh wilayah Tangsel.
"TPA Cipeucang ini sudah penuh dan tidak lagi memadai, karena volume sampah masyarakat terus bertambah. Fasilitas pengolahan sampah yang efektif, teruji dan maksimal dalam pengolahan sampah (Zero Waste) sangat dibutuhkan," ungkapnya.
Bobby menjelaskan, PSEL yang akan dibangun di Kota Tangsel adalah prasarana modern yang sangat ramah lingkungan. Listrik yang dihasilkan oleh PSEL tersebut adalah listrik yang bersih.
"Proses dari fasilitas pengolahan sampah ini akan mengikuti standar ramah lingkungan internasional yang tidak menimbulkan dampak kerusakan lingkungan seperti dampak emisi karbon, polusi udara dan dampak bau. Dijamin tidak mengeluarkan bau apapun dari sampah yang diolah sehingga tidak akan menimbulkan gejolak sosial dari masyarakat setempat," teranganya.
Bobby memaparkan, fasilitas itu nantinya akan mampu memproses sedikitnya 1.000 ton sampah baru ditambah 100 ton hasil pemilahan dari timbunan sampah lama yang ada di TPA Cipeucang dalam sehari. Proses pengolahan sampah tersebut sangat efisien dan maksimal serta dapat mengolah sampah sedikitnya 90% dari sampah yang masuk tanpa proses pemilahan jenis sampah sebagaimana metoda pengolahan sampah yang lain yang memerlukan pemisahan sampah yang masih menyisakan problem dari sampah yang tidak terolah.
"Pengolahan sampah-lama yang ada di TPA Cipeucang menjadi hal yang sangat penting dalam rangka mengeliminasi pencemaran lingkungan dan resiko kelongsoran serta kebakaran di wlayah tersebut. Sudah saatnya daerah Tangsel, khususnya Serpong, memiliki prasarana dan fasilitas penampungan dan pengolahan sampah yang modern dan ramah lingkungan," ujarnya.
Menurut Bobby, nantinya PSEL Cipeucang akan mampu mengurangi beban TPA yang sudah sangat sesak sampah dan cenderung menjadi lokasi yang tidak sehat.
Dia menambahkan, pembangunan PSEL senilai Rp 2,650 triliun sepenuhnya merupakan investasi dari investor dan tidak menggunakan dana APBD Pemkot Tangsel. Untuk masa operasionalnya sendiri selama 27 tahun.
"Yang jelas, PSEL ini nantinya akan menjadi salah satu fasilitas yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Tangsel. Selain itu, PSEL ini tidak hanya memberikan solusi modern bagi masalah persampahan, tapi juga berkontribusi pada penyediaan energi terbarukan," imbuhnya.