JawaPos.com – Di tengah hiruk-pikuk Kota Tangerang Selatan, terdapat sebuah monumen yang menyimpan kisah heroik dan bersejarah besar bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi keluarga besar Presiden Prabowo Subianto.
Letnan Satu Subianto Djojohadikusumo dan kadet Sujono Djojohadikusumo bukan hanya tokoh pahlawan dalam sejarah Indonesia, tetapi juga bagian dari cerita keluarga besar Prabowo Subianto.
Prabowo, yang kini menjabat sebagai Presiden, mengadopsi nama "Subianto" dari pamannya sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengorbanan sang pahlawan dalam perjuangan kemerdekaan.
Tangkapan Layar - (Kolase foto Subianto Djojohadikusumo dan Sujono Djojohadikusumo YouTube Pinter Politik TV)
Dua paman Prabowo bersama Mayor Daan Mogot serta 33 prajurit gugur dalam Pertempuran Lengkong di Serpong, Tangerang Selatan, Banten pada 25 Januari 1946. Mereka hendak melucuti senjata tentara Jepang tapi gagal dan terjadilah pertempuran.
Tugu Peringatan Peristiwa Lengkong
Setiap tahun, monumen Palagan Lengkong digunakan sebagai tempat peringatan pertempuran Lengkong yang terjadi pada tanggal 25 Januari. Pada permukaan depan monumen tersebut terdapat marmer hitam yang bertuliskan rangkaian kata menggunakan tinta emas yang berbunyi:
"Pada Hari Jumat petang tanggal 25 Januari 1946, telah terjadi peristiwa berdarah di Lengkong/Serpong, dimana pasukan dari Akademi Militer Tangerang yang dipimpin oleh Mayor Daan Mogot yang tengah merundingkan penyerahan senjata dari Pasukan Jepang di Lengkong kepada Pasukan TRI secara tiba-tiba sekali telah dihujani tembakan dan diserbu oleh Pasukan Jepang, sehingga mengakibatkan gugurnya 34 Taruna Akademi Militer Tangerang dan 3 Perwira TRI, diantaranya Mayor Daan Mogot sendiri."
21 Januari 1946 adalah tanggal bersejarah dalam perjuangan rakyat Indonesia, khususnya bagi masyarakat di Tangerang dan sekitarnya. Pada hari tersebut, terjadilah peristiwa berdarah yang dikenal dengan nama Peristiwa Lengkong.
Pada hari itu, Mayor Daan Mogot memimpin puluhan taruna akademi untuk mendatangi markas Jepang di Desa Lengkong, Serpong. Kedatangan Mayor Daan Mogot dan puluhan taruna bertujuan untuk melucuti senjata tentara Jepang setelah kekalahan mereka.
Baca Juga: Biar Mirip Bobby Kertanegara Milik Presiden Prabowo, Ini Enam Tips Agar Kucing Bisa Gemuk dan Sehat
Pada awalnya, proses pelucutan senjata berjalan lancar. Namun tiba-tiba terdengar suara letusan dari luar lokasi pelucutan senjata. Dalam kejadian tersebut, 34 taruna tewas dan 3 perwira gugur, yaitu Mayor Daan Mogot, Letnan Soebianto, dan Letnan Soetopo.
Untuk mengenang kejadian tersebut, Pemerintah Kabupaten Tangerang membangun Monumen Lengkong pada tahun 1993. Monumen ini berdiri di lahan seluas 500 meter persegi di depan Perumahan Bumi Serpong Damai, Serpong, Tangerang.
Terdapat pula sebuah bangunan berbentuk rumah di dalamnya, rumah tersebut merupakan tempat berlangsungnya negosiasi terakhir Mayor Daan Mogot dengan pasukan Jepang dan sempat dijadikan sebagai markas persinggahan sementara tentara Jepang tahun 1945-1946.
Setiap tahunnya, monumen tersebut digunakan sebagai tempat peringatan pertempuran Lengkong yang jatuh pada tanggal 25 Januari. Selain itu, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu menjadikan tanggal tersebut sebagai Hari Bakti Taruna Akademi Militer.
Terletak di kawasan Lengkong, monumen ini menjadi salah satu destinasi sejarah yang sering dikunjungi oleh masyarakat setempat hingga wisatawan yang ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah perjuangan di wilayah ini.
Tidak hanya sebagai ikon sejarah, Monumen Palagan Lengkong juga berfungsi sebagai sarana edukasi untuk generasi muda, mengingatkan mereka akan betapa pentingnya menjaga dan menghormati perjuangan para pahlawan.
Bagi anda yang ingin berkunjung, monumen ini berlokasi di Jl. Bukit Golf Utara No.2, Lengkong Wetan, Kec. Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Banten. Tempatnya tidak terlalu jauh dari BSD Plaza dan berada di lingkungan perumahan yang mudah untuk dijangkau.
Sampai saat ini, tempat wisata monumen Palagan Lengkong memiliki akses gratis yang terbuka untuk umum, namun diharapkan pengunjung untuk tetap menjaga kebersihan dan menaati peraturan yang berlaku.
Editor : Hendra