Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Jurusan Pendidikan Profesi Arsitek Binus Tonjolkan Materi Kewirausahaan, Harapkan Lulusan Mandiri dan Berdaya Saing

Zalzilatul Hikmia • Minggu, 27 April 2025 | 09:42 WIB

Gedung Binus School Serpong tampak depan (Dok. serpong.binus.sch.id)
Gedung Binus School Serpong tampak depan (Dok. serpong.binus.sch.id)

JawaPos.com – Binus University resmi memiliki program studi (prodi) Program Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) tahun ini. Uniknya, di jurusan baru ini, tak hanya sibuk belajar soal arsitektur tapi juga kewirausahaan. 

Kepala Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek BINUS University Albertus Galih Prawata menjelaskan, pendekatan kewirausahaan ini diberikan guna mendorong lulusan untuk tidak hanya bekerja di biro arsitek. Tetapi juga membangun praktik arsitektur mandiri dan berdaya saing. 

“Fokusnya pada design manajemen dalam lingkup arsitektur. Jadi bagaimana nanti mahasiswa-mahasiswa ini berlajar memanage kaitannya dengan projek, dengan sumber daya manusianya seperti apa,” paparnya dalam peluncuran program studi PPAr di BINUS @Kemanggisan, Jakarta, Rabu (23/4). 

Selain kewirausahaan, kurikulum PPAr juga akan berfokus pada pendekatan climate responsive design. Yakni, metode perancangan arsitektur yang mempertimbangkan karakteristik iklim lokal untuk menghasilkan bangunan yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan. 

Albertus menilai, prodi PPAr ini merupakan bagian dari upaya BINUS dalam mendukung peningkatan kualitas dan profesionalisme arsitek di Indonesia. Mengingat, International Union of Architects (IUA) yang merupakan organisasi yang menaungi seluruh arsitek seluruh dunia, menyatakan bahwa untuk bisa menjadi arsitek profesional harus menempuh pendidikan arsitektur selama 5 tahun. Sementara, di Indonesia baru 4 tahun. 

“Sehingga, Binus berupaya menerapkan skema 4 plus 1, di mana 4 tahun sarjana arsitekturnya dan 1 tahun pendidikan profesinya,” jelasnya. 

Dimulai pada September 2025, program PPAr BINUS dilaksanakan selama dua semester yang mencakup mata kuliah utama seperti Studio Perancangan Arsitektur serta Kode Etik Profesi Arsitek. Kurikulumnya dirancang tidak hanya untuk memenuhi standar akademik, tetapi juga untuk memberikan kesiapan praktis dan etika kerja bagi para calon arsitek. 

Nina Nurdiani, Dekan Fakultas Teknik Binus University menambahkan, prodi ini sekaligus menjawab kebutuhan tenaga arsitek bersertifikasi yang semakin mendesak di tengah pesatnya pembangunan nasional. Misalnya, proyek strategis nasional seperti Ibu Kota Negara (IKN). 

“Indonesia menghadapi tantangan serius dalam ketersediaan arsitek profesional. Hingga bulan Maret 2025, tercatat sejumlah 5.910 arsitek di Indonesia yang memiliki Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA), dokumen legal yang menjadi syarat utama untuk dapat berkarya secara profesional di bidang arsitektur,” jelasnya. Padahal, dengan populasi yang sudah melampaui 280 juta jiwa, Indonesia membutuhkan rasio arsitek yang jauh lebih tinggi demi mendukung tata kota yang layak, berkelanjutan, dan adaptif terhadap tantangan lingkungan. 

Kendati begitu, dia menekankan, bahwa. ini bukan hanya soal jumlah lulusan sarjana arsitektur. Tapi juga kualitas lulusan yang memenuhi kompetensi arsitek profesional berstandar global. 

“Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) menjadi langkah penting agar lulusan arsitektur Indonesia dapat memenuhi standar internasional dan memiliki otoritas penuh sebagai arsitek professional,” ungkapnya. 

Baca Juga: Kejari Tangsel Tunggu Pengembalian Berkas Perkara Perundungan Siswa Binus

Editor : Hendra
#arsitek #binus #kewirausahaan