JawaPos.com – Zaman nan pesat dan berkembang membawa banyak hal baru dan mengubur hal lama yang seharusnya selalu dijaga dan diingat selalu. Pengetahuan paling mendasar mengenai negara kecintaan sendiri terkadang ikut tergores akibat pesatnya perkembangan.
Karena itu, mengingat kembali hal paling mendasar mengenai tanah air Indonesia perlu diingatkan dan ditanamkan kembali hal yang paling berharga dan dihormati sejak benua di mana Indonesia berasal, dihuni oleh manusia.
Baca Juga: Resensi Buku Filsafat Maut: Memaknai Kehidupan dengan Merenungi Kematian
Buku yang ditulis oleh sejarawan, sastrawan, budayawan, dan politikus Muhammad Yamin akan mengantarkan pembaca ke dalam isi pemikiran jeniusnya. Dengan sejarah, bukti, dan penelitian yang ditemukan membuat kita kagum atas apa yang dituliskan oleh Muhammad Yamin dalam buku ini.
Merah Putih, dua kata yang melekat pada jantung Indonesia dan perjuangan pahlawan kemerdekaan sudah menjadi hal yang dihormati sejak zaman purba kala. Waktu di mana manusia purba masih berpindah, berburu, meninggalkan bukti dalam bentuk benda, menjadi asal usul penghormatan Merah Putih bermula.
Diawali zaman prasejarah di mana leluhur manusia belum mengenal tulisan dan belajar untuk hidup di bumi, hingga era perjuangan kemerdekaan yang akhirnya mengantarkan sang Merah Putih ke pucuk tiang bendera dan menandakan awal kedaulatan Indonesia.
Yamin menyebut zaman Aditiacandra sebagai awal Merah Putih dihormati oleh leluhur bangsa Indonesia. Zaman bermulanya perpindahan bangsa Austronesia dari wilayah lain dengan membawa kesan Aditiacandra kepada bangsa Indonesia yang sudah menghuni tanah air.
Penghormatan Aditiacandra atau Suryacandra mengawali penanaman penghormatan terhadap Merah Putih pada bangsa Indonesia di zaman purba kala. Aditia atau Surya bermakna matahari yang menghasilkan sinar berwarna merah, dan Candra yang membawa makna sang rembulan dengan sinar putih terangnya.
Penghormatan terhadap Merah Putih yang dihasilkan oleh sang mentari dan rembulan dibawa oleh bangsa Austronesia dalam perjalanannya mencari tempat baru yang saat ini dikenal dengan India, Indonesia, dan Pasifik.
Bangsa Indonesia yang kala itu bertemu dengan Austronesia, mengadopsi Aditiacandra ketika melihat lambang Dwiwarna lewat pantulan cahaya di tanah Indonesia yang berakhir menjadi sebuah kepercayaan. Kian hari kepercayaan tersebut sudah tertanam kokoh menjadi bagian kehidupan Purba Indonesia.
Penetapan awal penghormatan Merah Putih sejak 6000 tahun didukung oleh banyak bukti yang ditunjukkan oleh Yamin dalam buku ini. Bukti berupa tulang belulang, perkakas kuno, dan gambar dengan warna merah-putih serta pendapat ahli menetapkan penghormatan Merah Putih sudah dilakukan 6000 tahun lamanya.
Merah Putih dihormati sebagai sebuah kesaktian dalam bentuk getah getih, ialah zat cair yang menjadi sumber kehidupan dan tenaga yang menunjukkan kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa. Zat getah dan getih mengalir dalam seluruh batang tubuh makhluk hidup.
Getah mengalir dalam tumbuhan dan berwarna putih, aliran getah pada tumbuhan membuatnya dapat hidup. Sedangkan getih mengalir di dalam batang tubuh manusia dan binatang berupa darah berwarna merah.
Zat Merah Putih ini menjadi bentuk kesaktian yang dipercayai oleh nenek moyang Indonesia sebagai bentuk kebesaran Yang Maha Kuasa. Getah dan getih menghidupkan segala yang hidup dan mengalir tanpa putus sejak lahir hingga badan tidak dapat digerakkan lagi (Hal. 225)
Tidak hanya dalam alam dan kesaktian. Merah Putih telah menjadi bagian kehidupan bangsa Indonesia hingga era perjuangan kemerdekaan terjadi.
Bukti sejarah berupa kesenian, prasasti, kesusastraan meninggalkan banyak cerita dan kisah untuk dibedah oleh manusia saat ini. Setiap peninggalan memiliki cerita tersendiri, serta menyimpan penghormatan dan makna Merah Putih yang telah ada sejak dahulu kala.
Yamin banyak memunculkan akar kata Merah Putih yang memiliki makna sama dalam banyak bahasa. Penelitian dan tekunnya Yamin dalam menyelidiki makna dua kata tersebut menunjukkan bahwa kata ‘Sang’ dan ‘Putih’ pada sang saka Merah Putih memiliki makna yang memuliakan benda bersejarah tersebut.
Sesungguhnya buku yang ditulis oleh Muhammad Yamin membuka pengetahuan baru mengenai seluk beluk dan makna Merah Putih dari awal ditemukannya. Namun sungguh di sayangkan pengembangan dan penyesuaian bahasa dalam buku ini sedikit kurang dan memerlukan penyesuaian untuk memudahkan pembaca.
Namun, kekurangan pada buku 6000 Tahun Sang Merah Putih tidak membuat buku ini sulit dicerna. Justru buku ini akan mengantarkan masyarakat Indonesia untuk semakin memahami keberadaan Merah Putih yang ternyata selalu ada di segala momen dan peristiwa bangsa Indonesia dari zaman prasejarah hingga kemerdekaan.
Merah Putih secara awam diketahui sebagai simbol keberanian dan kesucian. Namun di balik itu Merah Putih memiliki makna lain yang lebih mendalam dengan sejarah menarik nan panjang untuk dijelajahi lebih dalam lagi.
Karena itu, guna menanamkan makna dan kebanggaan terhadap sang Merah Putih, serta kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ada baiknya menilik sejenak pemikiran jenius sang sejarawan yang mengupas Merah Putih lewat kacamata dan kegigihannya untuk menanamkan rasa bangga terhadap Merah Putih pada masyarakat Indonesia .
Spesifikasi buku:
Judul: 6000 Tahun Sang Merah Putih
Penulis: Prof. H. Muhammad Yamin
Penerbit: PT. Balai Pustaka
Cetakan: 1958 (Pertama), 2017 (Kedua)
Tebal Halaman: xxxii + 330
ISBN: 978-602-260-098-5
Editor : Hendra