JawaPos.com - Guru Besar bidang pendidikan anak ssia dini dan kesejahteraan sosial UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Maila Dinia Husni Rahiem berhasil mencetak prestasi membanggakan dengan masuk pada daftar Top 2% Scientists Worldwide 2024.
Prestasi ini mengukuhkan dirinya sebagai satu-satunya ilmuwan dari Perguruan Tinggi Keagamaan di Indonesia yang berhasil masuk dalam daftar ilmuwan berpengaruh yang dikeluarkan Stanford University dan Elsevier BV.
Dilansir darl laman Universitas Stanford, disebutkan perangkingan kelas dunia ini terbagi dalam dua kategori, yaitu Top2% scientist sepanjang karir dan kategori Top2% scientist dengan dampak sitasi satu tahun terakhir (single-year impact).
Maila sendiri masuk ke kategori kedua dengan menempati peringkat ke-24 dari total 150 ilmuwan dalam kategori Top 2% Scientist Single-year Impact.
Prof. Maila mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian fenomenal ini. Menjadi seorang perempuan, istri, dan juga seorang ibu sembari tetap berkiprah dalam bidang keilmuan menjadi komitmen penuh dirinya.
“Terima kasih saya juga perlu sampaikan untuk para pimpinan, kolega, dan keluarga yang terus memberikan dukungan penuh,” katanya.
Lebih lanjut, Profesor Maila mengajak para kolega akademiknya untuk terus berkiprah dalam pengetahuan dengan terus meningkatkan produktifitas berkarya. “Fokuslah pada kualitas penelitian, bukan hanya pada jumlah publikasi,” pesannya.
Rektor UIN, Asep Saepudin Jahar mengungkapkan kebanggaan dan apresiasinya atas pencapaian Profesor Maila. “Prestasi ini tidak hanya mengharumkan nama UIN, tetapi juga menjadi bukti nyata kualitas riset dan dedikasi tinggi yang ditunjukkan oleh Profesor Maila dalam di bidang pendidikan, kecerdasan artifial, dan dan ilmu-ilmu sosial,” ujar Asep.
Untuk diketahui, Maila merupakan pengajar di Program Studi Pendidikan Islam dan Anak Usia Dini di UIN Syarif Hidayatullah yang berlokasi di Tangerang Selatan. Ia menamatkan sarjana dari Universitas Negeri Jakarta (2002), ia menyelesaikan studi magister dan doktor di McGill University (2004) dan Universiti Putra Malaysia (2017).