Dolar AS Sempat Sentuh Rp. 17.500, BI Yakin Tekanan Segera Reda
Muhtamimah• Rabu, 13 Mei 2026 | 11:26 WIB
Petugas menghitung rupiah dan dollar di sebuah money changer. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
JawaPos.com - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan, selain faktor eksternal, BI mencermati meningkatnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri yang bersifat musiman. Permintaan valas naik untuk pembayaran utang luar negeri (ULN), dividen perusahaan, hingga kebutuhan ibadah haji.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI tetap aktif di pasar melalui strategi smart intervention, baik di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun Non Deliverable Forward (NDF).
’’BI akan terus berada di pasar dengan melakukan smart intervention serta mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter guna mengurangi tekanan terhadap rupiah,” paparnya.
Meski rupiah tertekan, BI menilai kepercayaan investor asing terhadap aset keuangan domestik masih terjaga. Hal itu tercermin dari aliran modal asing (capital inflow) ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai Rp 61,6 triliun sepanjang April 2026.
Likuiditas valas perbankan domestik juga dinilai memadai. Hingga akhir Maret 2026, dana pihak ketiga (DPK) valas tumbuh 10,9 persen secara year to date (ytd).
’’BI memperkirakan tekanan musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah dapat kembali ke level fundamentalnya,” tandas Destry.