Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Menteri PPPA Klaim Populasi Perempuan Nyaris Separuh Warga Indonesia, Mendikdasmen Minta Peringatan Hari Kartini Tak Sebatas Sanggul dan Kebaya

Zalzilatul Hikmia • Minggu, 5 April 2026 | 08:58 WIB
Peringatan bulan pemberdayaan perempuan. (Dok. JawaPos)
Peringatan bulan pemberdayaan perempuan. (Dok. JawaPos)

JawaPos.com – Menteri Perlindungan Anak dan Perlindungan Perempuan (PPPA) Arifah Fauzi menyebut, populasi perempuan saat ini nyaris separuh dari total populasi yang ada di Indonesia. Memiliki potensi besar dalam pembangunan, sayangnya banyak halangan yang membuat peran itu akhirnya seolah dikerdilkan. 

Menurutnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan bahwa populasi perempuan mencapai 49,85 persen. Kemudian, populasi anak-anak berada di 29,15 persen, dan sisanya baru laki-laki. 

“Namun demikian kita juga tidak menutup mata, masih banyak sekali kendala yang dihadapi oleh perempuan dan anak-anak, terutama ketimpangan akses terhadap pendidikan hingga peluang ekonomi,” ujarnya dalam acara pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan, di Kantor Badan Bahasa, Jakarta, Rabu (1/4). 

Mirisnya lagi, perempuan dan anak harus mengalami tingginya kerentanan terhadap berbagai kekerasan. Hal ini menurutnya, menunjukkan bahwa pembangunan yang dilakukan masih perlu diperkuat dengan perspektif keadilan gender. 

Di sektor pendidikan misalnya. Masih banyak, anak perempuan yang harus putus sekolah karena perkawinan anak, keterbatasan ekonomi, bahkan aturan norma sosial di mana pendidikan lebih diprioritaskan kepada anak laki-laki. 

Padahal, lanjut dia, pendidikan adalah fondasi utama pemberdayaan. Sebab, pendidikan bukan hanya sekadar untuk mendapatkan akses pengetahuan, tapi juga membangun kepercayaan diri, memperluas pilihan hidup, dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. 

Karenanya, pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam pengaruh utama gender sebagai strategi nasional dalam pembangunan. Yang kemudian diwujudkan melalui beberapa hal.

Mulai dari penguatan kebijakan dan perencanaan yang responsif gender, transformasi kurikulum dan bahan ajar, penciptaan lingkungan pendidikan yang aman dan inklusif, peningkatan kapasitas tenaga pendidik dan kependidikan, serta perluasan akses dan partisipasi perempuan khususnya dalam bidang STEM. 

“Saya berharap pencanangan bulan pemberdayaan perempuan melalui pendidikan ini menjadi awal dari gerakan besar yang berkelanjutan,” ungkapnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk memberikan ruang yang lebih luas kepada para perempuan untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan mengembangkan potensi yang dimiliki. 

Diakuinya, masih ada kendala yang ditemukan dalam implementasinya. Di mana, sebagian berkaitan dengan kendala teologis.

“Misalnya masih ada yang berpendapat bahwa perempuan itu adalah makhluk yang diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Saya agak mengkritisi ini walaupun ada lagunya, karena pemandangan ini kemudian berimplikasi kepada posisi perempuan dalam posisi yang subordinate, yang sebagian dari subordinasi itu bermuara pada teologi,” paparnya. 

Selain itu, ada juga kendala kultural dimana seringkali perempuan dianggap sebagai second class gender atau konco-wingking di pemikiran zaman dahulu. Yang mana, aktivitasnya tak lebih dari 3M, masak, macak, dan mana. Atau ada pula sebagian yang mengatakan bahwa perempuan itu kecerdasannya separuh laki-laki.

“Padahal kekuatan memori perempuan itu jauh lebih kuat daripada laki-laki. Perempuan itu lebih kuat dalam memori yang bersifat detail,” paparnya. 

Karenanya, bersamaan dengan bulan peringatan Hari Kartini, pihaknya pun mencanangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan. Dalam peringatan ini, peringatan Hari Kartini dihadirkan melalui kegiatan penguatan karakter, literasi, dan kesetaraan gender. Sehingga, perempuan dapat berpartisipasi secara penuh dalam ranah politik, ekonomi, sosial, budaya, dan bahasa.

“Saya kira ini menjadi sebuah arah baru dalam peringatan hari Kartini, yang sebelumnya kan identik dengan sanggul dan kebaya ya. Itu juga penting karena identitas budaya Indonesia, tapi esensinya adalah bagaimana kita memberikan pemberdayaan dan ruang aktualisasi yang lebih luas lagi, serta afirmasi untuk memperkuat pendidikan bagi kaum perempuan,” pungkasnya. 

Menurutnya, arah baru dalam peringatan Hari Kartini merupakan ide dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1993-1998, Wardiman Djojonegoro. Ide ini muncul usai melihat langsung bagaimana kehidupan para perempuan di daerah-daerah. 

Editor : Hendra
#kartini #mendikdasmen #pppa