JawaPos.com – Dugaan insiden keracunan makanan dalam Program Makanan Bergizi (MBG) di beberapa sekolah wilayah Bandung dan Tasikmalaya mendapat perhatian serius dari Badan Gizi Nasional (BGN). Sejumlah siswa dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, dan diare usai mengonsumsi makanan program MBG yang dibagikan di sekolah.
Salah satu insiden terbaru terjadi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Tasikmalaya, pada Kamis lalu (1/5). Menanggapi hal ini, epidemiolog dan pakar kesehatan masyarakat Dicky Budiman menilai kasus keracunan massal semacam ini sangat mungkin disebabkan oleh kontaminasi biologis, kimia, atau fisik sepanjang rantai pengolahan makanan.
“Kontaminasi bisa terjadi mulai dari penyimpanan bahan baku, pengolahan, distribusi, hingga penyajian. Rantai ini harus ditelusuri secara menyeluruh agar tidak terjadi lagi, setidaknya di tempat yang sama,” ujar Dicky, yang juga memiliki pengalaman panjang di bidang keamanan pangan dan pernah berdinas di wilayah Tasikmalaya.
Dia menjelaskan dari sisi biologis, bakteri seperti Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan Salmonella adalah agen penyebab umum dalam kasus keracunan makanan. Staphylococcus aureus biasanya berkembang pada makanan yang dibiarkan terlalu lama di suhu ruang dan disentuh tangan yang tidak higienis, sedangkan Bacillus cereus sering ditemukan pada nasi dan sayuran matang yang disimpan terlalu lama.
Selain itu, Dicky juga menyoroti potensi kontaminasi kimia. Contohnya sisa pestisida pada sayuran yang tidak dicuci bersih, residu deterjen, hingga logam berat dari peralatan dapur berkarat. Kontaminasi fisik seperti rambut, plastik, atau serangga juga bisa memicu gejala seperti mual dan muntah. “Masalah utama dalam penyajian makanan massal seperti program MBG adalah lemahnya pengawasan higienitas. Apalagi jika volume masak besar dan waktu antara masak dan konsumsi terlalu panjang, ini memicu multiplikasi bakteri,” kata Dicky.
Dicky mengingatkan bahwa zona suhu berisiko untuk pertumbuhan mikroba adalah antara 5–60 derajat Celsius. Hal ini umum terjadi jika makanan tidak disimpan atau disajikan sesuai standar. Ketidakhadiran sistem rantai dingin atau cold chain dan SOP sanitasi yang lemah di dapur penyedia makanan, menurutnya, juga merupakan faktor risiko serius.
Dicky menambahkan bahwa dalam jangka pendek, langkah krusial adalah pengamanan sampel makanan sisa untuk uji laboratorium, wawancara epidemiologis, serta audit terhadap sanitasi dapur dan alat masak. “Dan dalam jangka panjang, sangat penting untuk mewajibkan sertifikasi bagi semua petugas dapur program MBG. Ini soal membangun sistem yang menjamin keamanan anak-anak kita,” tuturnya.
Secara terpisah, Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim investigasi gabungan ke lokasi kejadian di Tasikmalaya dan Bandung. Dia juga sedang menunggu hasil uji laboratorium yang diperkirakan keluar dalam sepuluh hari ke depan. “Kami berkomitmen untuk mengusut secara tuntas penyebab insiden dan melakukan evaluasi menyeluruh agar tidak terulang kembali,” ujar Dadan.
Sebagai langkah pencegahan, BGN juga melakukan pengetatan prosedur distribusi makanan. Dalam hal ini termasuk protokol pengantaran, penyimpanan di sekolah, serta uji organoleptik (rasa, aroma, tampilan, tekstur) sebelum makanan dibagikan kepada siswa.