JawaPos.com - Rusia menolak rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengambil alih Jalur Gaza. Dilansir dari laman Reuters pada Kamis (6/2), Donald Trump mengatakan bahwa ada rencana untuk menghancurkan bangunan yang tersisa di Gaza dan mengubah wilayah tersebut di bawah “kepemilikan” AS.
Pernyataan tersebut dijelaskan oleh Donald Trump pada konferensi pers pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu di Washington. Jalur Gaza yang diambil alih akan menggusur warga Palestina yang tinggal di wilayah tersebut dan membangun “Riviera of Middle East”.
Rencana pengambil alihan Jalur Gaza oleh AS itu menuai banyak perdebatan dan penolakan. Rusia termasuk salah satu negara yang menolak rencana tersebut.
Dilansir dari laman AL24 News, Rusia mengecam rencana Donald Trump untuk mengambil alih Jalur Gaza dan menyebutnya sebagai suatu bentuk “cancel culture” negara-negara Barat. Pernyataan ini disampaikan pada pertemuan meja bundar di Moskow bersama dengan para Duta Besar Ukraina.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menekankan bahwa “cancel culture” menjadi sangat jelas pada situasi Timur Tengah.
Lavrov berpendapat bahwa apabila keputusan Dewan Keamanan PBB terkait Palestina telah diabaikan. Tindakan tersebut mencerminkan adanya kecenderungan pengabaian perjanjian internasional, terutama perjanjian tersebut bertentangan dengan kepentingan Barat.
Dilansir dari laman Al Jazeera pada Kamis (6/2), Lavrov menjelaskan bahwa terdapat rencana Israel untuk mengambil alih kendali penuh atas Tepi Barat yang diduduki dan upaya pengusiran warga Palestina dari Jalur Gaza. Menteri Luar Negeri Rusia ini menambahkan bahwa Rusia menolak metode praktek kebijakan hukuman kolektif.
Baca Juga: Mentalitas Korban atau Kerentanan? Ketahui Perbedaannya agar Tidak Keliru dalam Menyikapinya!
Dmitry Peskov, Juru Bicara Kremlin menjelaskan bahwa Rusia yakin penyelesaian yang memungkinkan terkait Timur Tengah adalah penyelesaian berbasis solusi dua negara.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah