JawaPos.com - Setelah memasuki area hutan, Suhek ditampaki sosok berwajah hancur. Saat hendak turun, para pendaki diteror makhluk astral berwujud elang raksasa dengan suara menggeram. Mereka juga nyaris tak bisa pulang karena tersesat.
Sunarto Heri Kustanto alias Suhek sudah kenyang pengalaman mendaki gunung. Sejumlah gunung di Pulau Jawa sudah dia taklukkan. Pendakian berjalan lancar. Terkadang, dia menemui halangan. Tapi, itu hanya disebabkan cuaca yang tidak bersahabat.
Berbekal capaian itu, Suhek ingin mendaki gunung di luar Pulau Jawa. Pilihannya adalah Gunung Binaiya. Lokasinya berada di Pulau Seram, Maluku. Ketinggian gunung tersebut berkisar 3.027 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Pendakian berlangsung pada 2018. Suhek mengajak dua temannya, sebut saja Zaenal dan Fitri. Dalam ekspedisi menaklukkan Gunung Binaiya itu, mereka juga didampingi seorang porter lokal Seno, nama samaran.
Sebelum pendakian dimulai, rombongan mengikuti upacara adat dengan mengunyah batu kapur, buah sirih, dan pinang. Tujuannya, para pendaki diberi keselamatan. Suhek tidak terlalu percaya akan prosesi adat itu. Menurut keyakinannya, rumus mendaki gunung adalah menyiapkan fisik yang prima, bekal yang cukup, mengerti rute, serta mampu membaca tanda-tanda perubahan cuaca. ’’Pikirku kayak gunung di Jawa, cukup fisik sama bekal saja. Tidak perlu upacara segala,” tuturnya sedikit meremehkan.
Rombongan memilih rute melewati Desa Piliana. Mereka sudah mengatur barisan saat mendaki. Urutan pertama Seno, dilanjut Fitri, Zaenal, dan Suhek sebagai sweeper di belakang. Tepat setelah memasuki area hutan, gunung yang terletak di Pulau Seram itu menyambut Suhek dengan pengalaman yang menyeramkan.
Di hutan itu, perasaan Suhek sudah tidak enak. Bentang alam yang elok dengan deretan pohon sagu yang menghijau tak membuat mata Sugih terpana. Dia justru diliputi rasa waswas. ’’Kayak ada yang mengawasi gitu selama perjalanan,” ujarnya.
Pada saat melewati pos 1 Yamhitala, Suhek mencoba menoleh ke belakang. Begitu menengok, dia ditampaki sosok yang wajahnya hancur. Mata tak lagi tertata dan pipi tak lagi berbentuk rapi. ’’Wajahnya sudah nggak karu-karuan. Mau teriak, tapi khawatir nanti yang lain jadi ketakutan,” ungkapnya.
Para pendaki lantas berhenti di pos 2 Aye Moto, untuk bermalam di selter yang disediakan. Pada saat beristirahat, Suhek terus diganggu penunggu Gunung Binaiya. Kali ini dia mendengar tawa cekikikan dan obrolan seseorang di luar selter. ’’Saya coba tanya ke yang lain, tapi nggak ada yang dengar,” ujarnya.
Teror terus berlanjut hingga malam berganti pagi. Gangguan demi gangguan, baik berupa penampakan maupun tawa cekikikan, masih saja mengiringi pendakian.
Perjalanan rombongan relatif lancar. Pada hari ketiga, mereka berhasil summit di Puncak Binaiya. Pada saat hendak turun, ternyata Fitri mengalami datang bulan. Itu adalah sebuah pantangan bagi para pendaki. Konon, pendaki yang datang bulan akan diganggu penunggu gunung.
Mitos itu akhirnya dialami Suhek dan rekan-rekannya. Dalam perjalanan turun ke pos 4 Isilaili, rombongan terus dibuntuti elang raksasa. Lebar kepak sayapnya sekitar 7 meter dengan pekikan menggeram. Makhluk itu terus mengikuti perjalanan pendaki. ’’Kata porternya saat itu, si sosok elang ini mengincar si Fitri yang lagi datang bulan,” jelas Suhek.
Untuk menghindari teror si burung elang, Fitri diminta berperawakan seperti pria. Dengan menyisingkan lengan, potongan bawah kemeja dikeluarkan, serta mengenakan topi, dan berperilaku lebih maskulin. ’’Sama porternya didandanin kayak laki-laki biar nggak dikejar lagi,” ungkap Suhek.
Karena merasa lebih aman, Fitri dan Seno bergegas turun lebih dulu. Keduanya juga bertugas menyiapkan makanan di pos 4. Sementara itu, Suhek dan Zaenal masih berjalan beriringan di belakang. Jalur turun ke Isilaili sebenarnya sama seperti waktu menuju puncak. Namun, kala itu Suhek merasa jalurnya berbeda.
Medan menuju ke pos 4 itu bukan lagi batu cadas dengan diselingi tumbuhan pakis. Melainkan berganti dengan kepungan pohon-pohon raksasa yang tinggi menjulang. ’’Suasana kayak di hutan Jurassic Park gitu. Sudah kayak beda dimensi,” ujar Suhek.
Karena tak kuat terus diteror, Suhek dan Zaenal menyalakan senter pertolongan. Keduanya berharap Seno maupun pendaki lain datang untuk membantu. Beruntung, sinyal pertolongan tersebut terlihat oleh Seno. Dia bergegas meninggalkan pos 4, lalu naik mencari Suhek dan Zaenal. ’’Alhamdulillah, masih selamat. Tapi, sejak saat itu saya lebih hormat sama tradisi lokal, tidak lagi meremehkan,” terangnya. (leh/c7/aph)
Editor : Hendra