JawaPos.com - Pemerintah menargetkan peningkatan kuota kredit pemilikan rumah (KPR) dengan skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) menjadi 800 ribu unit pada 2025. Program itu menjadi tantangan bagi perbankan untuk menyiapkan likuiditas yang cukup. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) pun menyiapkan sejumlah strategi untuk mendapat pendanaan.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan, kenaikan kuota FLPP menjadi 800 ribu unit tahun depan masih dalam pembahasan. Pemerintah akan menanggung 50 persen dari total kebutuhan likuiditas program tersebut. Sedangkan, 50 persen sisanya dari bank-bank pelaksana, termasuk BTN.
“Anggaran yang diperlukan untuk FLPP sebanyak 800 ribu unit itu kurang lebih pemerintah harus menyiapkan Rp 70 triliun sampai Rp 72 triliun. Bank biasanya harus menyiapkan kurang lebih Rp 80 triliun," ungkap Nixon di Jakarta kemarin (2/12).
Selain dana pihak ketiga (DPK), BTN sedang menjajaki berbagai solusi pembiayaan. Termasuk penerbitan obligasi dan pinjaman luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dana mendukung program FLPP. Dari dua skema pendanaan tersebut, setidaknya mampu mendapat total Rp 10-15 triliun di tahun depan.
“Issue bonds kami mengusulkan kalau bisa bisa dijamin pemerintah agar lebih murah buat dan bisa dapet size lebih besar. Kemudian, kami akan mencari kanal-kanal pinjaman-pinjaman luar negeri. Kami lagi kerja ini, banyak ketemu investor," ujarnya.
Nixon mengungkapkan, terdapat pembahasan mengenai pemberian tenor KPR yang akan diperpanjang hingga 30 tahun. Meski sebagian besar nasabah BTN biasanya melunasi KPR dalam waktu 10 hingga 11 tahun. Oleh karena itu, masa subsidi program ini akan berlangsung selama 10 tahun.
KPR tenor 30 tahun juga untuk mewujudkan affordable housing. Nixon menegaskan, konsep itu bukan hanya soal harga rumah yang terjangkau atau suku bunga yang rendah. Melainkan lebih kepada kemampuan masyarakat untuk membayar angsuran KPR.
“Banyak yang sering keliru mengatakan affordable house itu bukan suku bunga KPR atau uang muka, DP murah. Pengalaman riset BTN yang dimaksud affordable ke masyarakat adalah angsuran. Makanya, kami lagi bikin financing yang bisa di bawah Rp 1,2 juta kurang lebih segitu," bebernya. (han/dio)
Baca Juga: Ragu Kebijakan Donald Trump Jadikan AS Pusat Kripto Dunia, Harga Bitcoin Turun Hampir Tiga Persen
Editor : Hendra