JawaPos.com - Sebanyak 7 dari 47 perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dilaporkan masih memiliki laporan keuangan yang negatif alias rugi. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan bahwa pihaknya terus mengupayakan penyehatan tujuh BUMN tersebut melalui langkah-langkah restrukturisasi.
”Beberapa perusahaan BUMN yang cashflow-nya negatif. Ada tujuh yang memang kita harus kerja keras untuk beberapa tahun ke depan,” ujarnya di Jakarta kemarin (5/11).
Adapun ketujuh BUMN tersebut adalah PT Krakatau Steel (Persero), PT Bio Farma (Persero), PT Wijaya Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero), PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Perumnas dan Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI).
Erick mengatakan, Krakatau Steel (KS) sebenarnya sudah melakukan restrukturisasi pada 2019. Namun, perseroan sempat mengalami kebakaran, sehingga mempengaruhi operasional secara menyeluruh. Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga kuartal III tahun ini, rugi periode berjalan KS membengkak menjadi USD 185,2 juta. Rugi tersebut naik 201,6 persen dari periode yang sama pada 2023 yang sebesar USD 61,4 juta.
Sedangkan Bio Farma, Erick menyebutkan bahwa kendala yang dihadapi adalah korporasi itu mendapat penugasan untuk pengadaan vaksin COVID-19, serta adanya masalah fraud yang dihadapi oleh anak usahanya, PT Indo Farma Tbk. ”Lalu juga ada beberapa penyelesaian Indo Farma, sama kita juga akan cari partner, ada suplai bahan baku lalu diproses di Indo Farma. Indo Farma termasuk kita perbaiki, terlepas isu-isunya, termasuk kita selesaikan kepegawaiannya, tetapi kita mesti scale up sedikit supaya jadi supply chain itu,” urai Erick.
Selanjutnya, sambung Erick, Wijaya Karya (Wika) juga telah melakukan restrukturisasi. Wika telah terjadi penandatanganan restrukturisasi senilai Rp 26 triliun dengan 21 kreditur. Pada Jiwasraya, progresnya semakin baik dan menunggu likuidasi. Kemudian Perumnas, Kementerian BUMN akan mengubah model bisnis dari fokus pada rumah tapak atau landed house menjadi hunian tingkat seperti rumah susun maupun apartemen. (agf/dio)
Editor : Hendra