Oleh: Budhi Haryadi*
Sejak awal, kota-kota besar selalu dibangun oleh narasi. Paris hidup dalam imaji romantik yang berulang kali direproduksi oleh film dan sastra. New York menjadi panggung tanpa akhir bagi kisah ambisi, kegagalan, dan harapan. Sementara Seoul menjelma menjadi episentrum budaya global melalui gelombang Hallyu.
Jakarta, meski kaya sejarah dan keberagaman, belum sepenuhnya memiliki grand narrative yang terkurasi. Ia hadir sebagai realitas yang keras, tetapi belum sebagai imajinasi yang memikat. Di sinilah gagasan Rano Karno menjadi relevan dan penting. Jakarta kota sinema adalah politik kebudayaan ala Rano Karno. Ia bekerja mengubah kota dari sekadar ruang hidup menjadi penghasil imajinasi dan narasi.
Jakarta kota sinema adalah komponen utama strategi budaya untuk menembus 20 besar kota global. Ia menjadi jalan menginternasionalisasikan Jakarta.
Sinema, dalam pengertian ini, bukan industri hiburan belaka. Ia adalah medium yang mengarsipkan memori kolektif sekaligus mengekspor identitas. Film seperti Parasite karya Bong Joon-ho bukan hanya prestasi artistik, tetapi juga kemenangan geopolitik budaya. Ia membuat dunia melihat Korea Selatan dengan cara yang baru.
Politik Kebudayaan: Mengangkat Kembali Arsip Bangsa yang Tersembunyi
Untuk memahami urgensi politik kebudayaan, kita perlu menengok kembali akar pemikiran bangsa ini. Soekarno memandang kebudayaan sebagai alat pembebasan. Ia adalah ekspresi jiwa bangsa yang harus berdiri sejajar dengan bangsa lain. Ia pembentuk jati diri bangsa agar tegak dan bangga menatap dunia. Garis besar pemikiran kebudayaan Soekarno menekankan bahwa revolusi tidak hanya bersifat politik dan ekonomi, tetapi juga kultural.
Di sisi lain, ada nama Sutan Takdir Alisjahbana yang menawarkan perspektif yang lebih kosmopolitan. Ia mendorong Indonesia untuk terbuka pada modernitas, mengadopsi rasionalitas, dan membangun kebudayaan baru. Perbedaan antara keduanya bukan sekadar polemik, melainkan fondasi bagi politik kebudayaan Indonesia: antara menjaga akar dan merangkul masa depan.
Jakarta hari ini membutuhkan sintesis dari kedua pandangan itu. Ia harus mampu menjaga identitas lokal—terutama budaya Betawi—sekaligus terbuka pada arus global. Politik kebudayaan yang berhasil adalah yang mampu mengelola ketegangan ini menjadi energi kreatif.
Kebudayaan sebagai Instrumen Membangun Pengaruh Global
Dalam teori hubungan internasional, Joseph Nye memperkenalkan konsep soft power, kemampuan mempengaruhi bukan lewat kekuatan militer atau ekonomi, tetapi melalui daya tarik budaya. Negara atau kota yang memiliki daya tarik kultural kuat cenderung lebih mudah membangun relasi global.
Di sisi lain, Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa kebudayaan juga merupakan capital symbolic—modal budaya. Ia dapat dikonversi menjadi keuntungan ekonomi. Industri kreatif, termasuk film, adalah manifestasi konkret yang selaras dengan konversi ini. Kebudayaan adalah laboratorium kreatif bangsa untuk menginfluence dunia dengan keluhuran dan keelokan budayanya.
Ketika Jakarta mengembangkan diri sebagai Kota Sinema, ia tidak hanya membangun identitas, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi: produksi film, distribusi, festival, pariwisata, hingga pendidikan kreatif. Ia mampu mendatangkan multiplier effect mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan citra kota.
Sejarah modern menunjukkan bahwa kota-kota yang berhasil menembus panggung global hampir selalu memiliki strategi kebudayaan yang kuat. Los Angeles menjadikan Hollywood sebagai jantung ekonominya. Industri film di sana tidak hanya menghasilkan keuntungan tetapi juga membentuk persepsi global tentang Amerika. Film menjadi alutsista sosial budaya Amerika. Industri film AS menyumbang sekitar US$ 180 miliar terhadap PDB AS.
Mumbai dengan Bollywood-nya berhasil menciptakan identitas nasional sekaligus pasar global. Film-filmnya menjadi alat diplomasi budaya yang menjangkau diaspora India di seluruh dunia. Sementara itu, Berlin pasca reunifikasi menggunakan seni dan budaya sebagai alat regenerasi kota. Festival film seperti Berlinale menjadikan Berlin sebagai pusat kreativitas Eropa. Bahkan New Zealand memanfaatkan trilogi Lord of the Rings untuk membangun citra global dan mendongkrak pariwisata secara signifikan. Sedangkan film Jurrasic Park di Korea Selatan mendatangkan keuntungan setara ekspor 1,5 juta mobil Hyundai.
Jakarta memiliki potensi yang setara, bahkan mungkin lebih kompleks dan kaya. Namun potensi tanpa strategi hanyalah kemungkinan yang tertunda. Rano Karno menyadari politik kebudayaan bukan sebagai ornament penghias, melainkan strategi kebudayaan dalam industri kreatif global.
Kota-kota besar hari ini tidak hanya bersaing dalam perdagangan, tetapi dalam produksi makna dan wacana. Dalam konteks ini, Jakarta memiliki peluang historis: menjadikan sinema sebagai bahasa universal yang membawa wajahnya ke panggung global.
Jakarta memiliki semua prasyarat untuk melakukan lompatan sejarah: kompleksitas sosial yang kaya, peradaban yang multikultural, dan energi urban yang nyaris tak tertandingi. Yang dibutuhkan adalah good will dan keberanian politik untuk menempatkan kebudayaan dan terkhusus sinema sebagai arus utama pembangunan.
*Opini ditulis oleh Budhi Haryadi, Pemerhati Sosial dan Budaya
Editor : Hendra