Atrofi otak adalah kondisi medis yang ditandai dengan kerusakan atau hilangnya sel-sel otak dan koneksi antar sel secara progresif, menyebabkan penurunan ukuran otak. Kondisi ini dapat memengaruhi seluruh atau sebagian otak dan berkembang seiring waktu.
Atrofi otak seringkali dapat diakibatkan oleh penyakit otak tertentu, seperti Alzheimer, hidrosefalus, atau peningkatan tekanan intrakranial. Penyakit Alzheimer adalah salah satu penyebab demensia, biasanya jarang terjadi pada orang yang berusia kurang dari 65 tahun.
Dilansir dari laman alodokter.com, berikut beberapa penyebab terjadinya atrofi otak, antara lain:
1. Kurang Berolahraga
Sebaiknya lakukan olahraga secara rutin sejak dini untuk menghindari penyusutan otak di usia yang muda. Disarankan untuk melakukan olahraga minimal 150 menit setiap minggunya untuk menjaga kesehatan otak. Selain itu, kamu juga disarankan untuk melakukan berbagai aktivitas fisik ringan, seperti berjalan, menari, hingga berkebun untuk memperlambat penyusutan otak.
2. Mengalami Tekanan Darah Tinggi
Tekanan darah tinggi yang tidak dikontrol dengan baik dapat menyebabkan penyusutan otak di usia muda. Ada berbagai cara yang bisa kamu lakukan untuk mengontrol tekanan darah di usia muda. Seperti misalnya dengan mengelola stres dengan baik, batasi asupan garam, kurangi konsumsi alkohol, penuhi kebutuhan istirahat, hingga menjaga berat badan tetap seimbang.
3. Cedera Kepala
Sebaiknya selalu berhati-hati saat berkendara dan berkegiatan karena berisiko menyebabkan cedera otak traumatis. Jangan lupa untuk selalu menggunakan alat pelindung diri saat berkendara atau melakukan kegiatan ekstrim untuk menghindari kondisi cedera pada bagian kepala.
Kondisi ini dapat ditandai dengan berbagai penyakit otak, terutama demensia. Demensia mengakibatkan penurunan kemampuan memori dan fungsi intelijensia secara perlahan, serta mengganggu kemampuan bekerja dan berinteraksi sosial. Penyusutan ukuran otak pada demensia menyebabkan kesulitan dalam orientasi, belajar, berpikir abstrak, mengenali ruang, dan fungsi eksekutif seperti pengambilan keputusan.
Gejala lain yang mungkin muncul adalah kejang, yang ditandai oleh disorientasi, gerakan berulang, kehilangan kesadaran, atau konvulsi. Selain itu, ada aphasia, yaitu kesulitan dalam berkomunikasi, baik dalam berbicara maupun memahami bahasa. Aphasia dapat bersifat reseptif atau ekspresif.
Dilansir dari laman hellosehat.com, untuk mencegah dan memperlambat atrofi otak, penting untuk menerapkan gaya hidup sehat dan menghindari konsumsi alkohol berlebihan.
Penanganan terhadap penyebab kerusakan sel otak juga penting agar proses atrofi tidak semakin cepat. Perubahan gaya hidup yang meliputi aktivitas fisik dan suplementasi vitamin B dapat membantu. Konsultasikan dengan dokter saraf untuk risiko atau pencegahan yang lebih tepat serta lakukan pemeriksaan di rumah sakit yang spesifik.
Editor : Candra Mega Sari