JawaPos.com - Sering kali, ketika seorang pria berteriak karena frustrasi, kita menganggapnya hanya sedang marah. Jika ia tiba-tiba diam saat berbicara, kita mungkin berpikir ia tidak tertarik.
Namun, tak selalu sesederhana itu. Banyak perilaku yang kita lihat pada seseorang sebenarnya bisa ditelusuri kembali ke masa kecilnya, terutama hubungannya dengan sang ayah.
Pola asuh dan kedekatan dengan ayah sangat berpengaruh dalam membentuk karakter seorang pria saat dewasa. Beberapa perilaku cenderung lebih sering muncul pada mereka yang tidak memiliki ikatan erat dengan ayahnya.
Dilansir dari Geediting pada Kamis (30/1), berikut ini delapan perilaku yang umum ditemukan pada pria yang tidak memiliki hubungan dekat dengan ayahnya.
1. Kesulitan Membangun Koneksi Emosional
Emosi bisa menjadi ranah yang rumit. Terkadang perasaan muncul begitu saja dan bisa menghantam tanpa peringatan. Hal ini bisa membingungkan, terutama bagi pria yang tidak memiliki hubungan dekat dengan ayahnya.
Tanpa figur ayah yang membimbingnya dalam memahami emosi, mereka sering kali kesulitan mengenali dan mengelola perasaan mereka sendiri, apalagi memahami emosi orang lain.
Ketika dewasa, kondisi ini bisa membuat mereka sulit menjalin hubungan emosional yang dalam. Rasanya seperti membaca peta dalam bahasa yang tidak mereka pahami. Namun, bukan berarti ini tidak bisa diubah. Memahami akar permasalahan adalah langkah pertama untuk berkembang.
2. Sulit Berhadapan dengan Sosok Otoritas
Banyak pria yang tumbuh tanpa kedekatan dengan ayah mengalami kesulitan berinteraksi dengan figur otoritas.
Sejak kecil, mereka tidak terbiasa dengan keberadaan sosok pria yang membimbing dan memberikan arahan. Akibatnya, mereka sering merasa tidak nyaman atau bahkan menentang aturan dari atasan, guru, atau figur otoritas lainnya.
Dalam banyak kasus, perilaku ini bukan sekadar pemberontakan, melainkan upaya untuk membuktikan sesuatu kepada diri sendiri atau mengisi kekosongan yang pernah ada. Menyadari pola ini bisa membantu mereka lebih memahami diri sendiri dan mencari cara untuk mengatasi hambatan tersebut.
3. Cenderung Berusaha Berlebihan
Baca Juga: Resmi! Besaran Zakat Fitrah Kota Tangsel Tahun 2025/1446 H Sebesar Rp 47 Ribu dan Fidyah Rp 60 Ribu
Ketika seseorang merasa ada yang kurang dalam hidupnya, ia sering mencoba mengimbanginya dengan cara lain.
Banyak pria yang tidak memiliki kedekatan dengan ayahnya cenderung berusaha berlebihan dalam berbagai aspek kehidupan. Mereka mungkin selalu ingin menjadi pusat perhatian atau bekerja tanpa henti demi pengakuan.
Secara psikologis, ini bisa dikaitkan dengan kebutuhan mendalam untuk mendapat validasi yang tidak mereka dapatkan saat kecil. Dengan memahami alasan di balik perilaku ini, mereka bisa lebih bijak dalam menentukan prioritas dan membangun harga diri yang lebih sehat.
4. Menghindari Kerentanan
Membuka diri dan menunjukkan sisi rapuh bisa terasa menakutkan. Bagi pria yang tumbuh tanpa kedekatan dengan ayah, ketakutan ini bisa menjadi lebih besar. Mereka mungkin tidak pernah memiliki ruang aman untuk mengungkapkan perasaan tanpa rasa takut dihakimi.
Sebagai mekanisme pertahanan, mereka bisa saja menghindari pembicaraan serius, mengalihkan obrolan dengan candaan, atau menutup diri dari orang lain.
Namun, menutup diri dari emosi juga berarti kehilangan kesempatan untuk menjalin hubungan yang lebih dalam. Menyadari hal ini bisa menjadi langkah awal untuk berubah.
5. Kurang Percaya Diri
Banyak pria yang tidak memiliki hubungan dekat dengan ayahnya mengalami masalah dengan kepercayaan diri. Sejak kecil, kita cenderung melihat orang tua sebagai cerminan diri.
Ketika pantulan itu tidak jelas atau bahkan tidak ada, seseorang bisa tumbuh dengan rasa kurang percaya diri. Menyadari bahwa kepercayaan diri tidak harus berasal dari masa lalu bisa menjadi langkah besar dalam membangun harga diri yang lebih kuat.
6. Terlalu Mengandalkan Kemandirian
Menjadi mandiri memang hal yang baik. Namun, ada perbedaan antara kemandirian yang sehat dan sikap yang terlalu bergantung pada diri sendiri. Pria yang tumbuh tanpa figur ayah cenderung merasa harus menyelesaikan segalanya sendiri. Mereka mungkin menganggap meminta bantuan sebagai tanda kelemahan.
Padahal, manusia adalah makhluk sosial yang butuh dukungan satu sama lain. Menemukan keseimbangan antara kemandirian dan keterbukaan untuk menerima bantuan adalah hal penting.
7. Kesulitan Mengekspresikan Emosi
Emosi adalah bagian penting dalam kehidupan manusia. Namun, bagi pria yang tidak memiliki hubungan dekat dengan ayahnya, mengekspresikan emosi bisa menjadi tantangan.
Mereka mungkin tumbuh dengan anggapan bahwa menunjukkan perasaan adalah tanda kelemahan, sehingga akhirnya mereka lebih memilih untuk menekan emosi mereka.
Padahal, mengekspresikan emosi bukanlah sesuatu yang buruk. Justru, ini bisa membantu mereka membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang lain.
8. Berusaha Menjadi Lebih Baik di Masa Depan
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, ada satu hal yang sering terlihat pada pria yang tidak memiliki kedekatan dengan ayahnya: keinginan untuk menjadi lebih baik.
Mereka berusaha memutus siklus yang mungkin pernah mereka alami dan menjadi ayah, pasangan, serta individu yang lebih baik. Kesadaran akan masa lalu mereka mendorong mereka untuk terus belajar, tumbuh, dan menciptakan masa depan yang lebih positif.
Jika kamu sampai di bagian ini, berarti kamu tertarik memahami bagaimana hubungan masa kecil memengaruhi kehidupan seseorang saat dewasa. Perilaku yang terbentuk dari pengalaman masa kecil bukanlah takdir yang tak bisa diubah. Dengan kesadaran dan usaha, setiap orang bisa berkembang.
Seperti kata Carl Jung, "Saya bukan apa yang terjadi pada saya, saya adalah apa yang saya pilih untuk menjadi". Masa lalu memang membentuk kita, tetapi kita sendirilah yang menentukan masa depan. Pada akhirnya, yang terpenting adalah kesadaran dan keinginan untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah