Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Sindrom Tsundoku: Kebiasaan Membeli Buku tapi Malas Membacanya, Ketahui Dampak dan Cara Mengatasinya

Muhammad Naufal Rabbani • Kamis, 16 Januari 2025 | 14:30 WIB

Ilustrasi seseorang yang hendak membeli buku
Ilustrasi seseorang yang hendak membeli buku
JawaPos.com - Pernahkah anda merasa senang saat membeli buku baru, membayangkan akan segera menyelami kisah di dalamnya, tetapi kemudian buku tersebut hanya berakhir menjadi pajangan di rak?

Jika iya, mungkin anda sedang mengalami apa yang disebut dengan sindrom tsundoku. Melansir dari laman Tree Hugger, tsundoku berasal dari istilah Jepang dengan asal kata Tsunde-oku, yang berarti menumpuk sesuatu untuk nanti, dan dokusho, yang berarti membaca buku. Maka tsundoku dapat diartikan sebagai tindakan membeli buku dan membiarkannya menumpuk tanpa dibaca.

Mengapa Tsundoku Terjadi?

Mengutip dari Thomas de Neuville, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mengalami tsundoku, antaranya:

Antusiasme Awal yang Tinggi

Anda mungkin pada mulanya tertarik dengan sebuah buku saat melihatnya di toko buku. Anda kemudian mengambilnya karena mulai menyukai sinopsis dan cover dari bukunya, sehingga langsung membelinya. Namun, antusiasme ini kemudian memudar ketika sampai di rumah.

Prioritas yang Berubah

Bagi sebagian orang, kesibukan pekerjaan membuatnya kesulitan meluangkan waktu untuk membaca, maka buku yang sudah dibeli pun akhirnya hanya menumpuk dan terlupakan.

Takut Kehilangan Kesempatan

Adanya buku baru yang viral dari seorang penulis membuat seseorang untuk membelinya agar tidak ketinggalan tren, meski tahu nanti tidak akan membaca buku tersebut.

Ketersediaan dan Kemudahan pada Saat Ini

Membeli buku dengan diskon dari platform belanja daring membuat orang memborong buku secara impulsif, tetapi tidak memiliki waktu untuk menghabiskan semuanya.

Pada dasarnya, tsundoku memiliki dampak positif dan negatif. Dari sisi positif, menumpuk buku bisa dianggap sebagai investasi pengetahuan di masa depan.

Artinya, buku yang dibeli dipandang sebagai sumber informasi yang akan digali ketika waktu dan kesempatan memungkinkan.

Keberadaan tumpukan buku juga dapat berfungsi sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk terus belajar dan mengembangkan diri.

Namun, tak menutup kemungkinan kalau koleksi buku yang banyak dapat meningkatkan citra diri dan memberikan rasa bangga.

Di lain sisi, terdapat sisi negatif dari sindrom tsundoku ini. Pembelian buku yang impulsif dan tidak terkontrol berujung pada pemborosan finansial, karena ilmu dalam buku tidak terserap.

Selain itu, tumpukan buku yang tidak tidak terorganisir dapat memakan ruang dan menciptakan kesan berantakan. 

Oleh karenanya, penting untuk mengevaluasi diri agar tidak terjebak dalam perilaku konsumtif tetapi tidak produktif ini.

Bagaimana Mengatasi Tsundoku?

Untuk mengatasi tsundoku, mulailah dengan membuat daftar bacaan prioritas, sehingga anda bisa menentukan urutan baca dari buku yang paling menarik untuk anda.

Setelah itu tentukan waktu membacanya, apakah setiap hari atau setiap minggu. Sehingga konsumsi buku dapat berprogres dan segera beralih ke buku selanjutnya.

Jangan lupa untuk membatasi pembelian buku dengan menyadari bahwa buku yang sebelumnya belum sempat dihabiskan. Dengan cara berpikir ini, anda akan berusaha menghabiskan buku yang ada di rumah sebelum membeli buku baru.

Tsundoku pada dasarnya bukanlah penyakit atau gangguan mental, melainkan sebuah istilah untuk menggambarkan kebiasaan membeli buku tetapi tidak membacanya.

Kebiasaan ini memiliki dampak positif dan negatif. Namun yang terpenting, adalah menyadari tujuan anda dalam membeli buku dan menikmati proses membacanya.

Editor : Candra Mega Sari
#malas membaca #kebiasaan membeli buku #sindrom tsundoku