Resensi Buku: Kami (Bukan) Sarjana Kertas, Mengupas Fenomena Sosial tentang Perkuliahan dan Ekonomi Mahasiswa Karya J.S Khairen
Ibnu Baihaqi• Sabtu, 30 November 2024 | 23:00 WIB
Resensi Buku: Kami (Bukan) Sarjana Kertas, Mengupas Fenomena Sosial tentang Perkuliahan dan Ekonomi. (Dok. shofwhere.com)
JawaPos.com - Novel dengan sudut pandang orang ketiga ini diawali dengan tokoh utama yang bernama Ogi, dan temannya yang berasal dari SMA yang sama, Randi Jauhari (Ranjau). Keduanya mengalami nasib yang sama dimana tidak diterima di kampus manapun, dan harus gap year. Walaupun sudah jeda satu tahun, mereka berdua tetap hanya bisa masuk kampus swasta antah-berantah yang namanya harus dicari lewat Google, yaitu Universitas Daulat Eka Laksana (UDEL).
Ogi dan Ranjau bertemu dengan Arko, mahasiswa perantauan yang gemar fotografi dan beberapa kali mendapatkan pemasukan dari sana. Mereka yang sama-sama mengambil jurusan ilmu komunikasi berada di kelas dan dosen konseling yang sama. Apa mau dikata, kampus "terbuang" ini hanya memiliki sedikit mahasiswa.
Rektor baru menghilangkan masa ospek dan hanya memberikan bimbingan lewat dosen konseling per kelasnya. Dosen konseling para tokoh utama dalam novel ini bernama Bu Lira, yang kebetulan merupakan anak dari pemilik kampus. Dosen ahli biologi yang nyeleneh ini sering membawa hewan hanya untuk memberikan pelajaran. Pelajaran hidup yang pertama darinya adalah ketika ia membawa puluhan hingga ratusan tikus yang bisa dikendalikan ke dalam kelas.
"Bagaimana kalian bisa menyelesaikan masalah hidup, jika mengusir tikus saja tidak bisa?" pesannya.
Pada hari berikutnya, Bu Lira membawa anjing besar. Mahasiswa bimbingannya disuruh menulis mimpinya di kertas dan dikumpulkan. Ia menyamakan manusia dengan anjing, sedangkan mimpi adalah tuannya. Manusia yang bermimpi harus seperti anjing yang setia kepada mimpinya.
Novel ini mendalami berbagai fenomena sosial seputar perkuliahan seperti masalah ekonomi, mengadu nasib, dan keterpaksaan. Ogi sendiri menjadi personifikasi dari ketiga fenomena sosial yang umum terjadi di perkuliahan. Dimana dirinya berasal dari keluarga serba kekurangan, yang mana ayahnya harus berhutang supaya Ogi bisa kuliah. Dia juga terpaksa kuliah karena terlanjur didaftarkan oleh Ranjau, dan asal ambil jurusan yang terkesan mudah, yaitu komunikasi.
Ayah Ogi, Affandi berharap bahwa Ogi mampu meningkatkan standar hidup keluarganya, dan membantu adiknya. Bahkan ia rela berhutang kepada adik kandungnya untuk membiayai Ogi. Ini sudah menjadi perspektif masyarakat, bahwa kuliah adalah gerbang untuk menuju masa depan yang lebih baik.
Kelebihan dari novel ini adalah latar belakang dari tiap karakter yang unik, dimana kebanyakan dari mereka terpaksa untuk berkuliah di UDEL. Ada yang tidak bisa mengikuti cita-citanya, dan harus ikut kemauan orang tua. Sedangkan yang lainnya hanya sekadar kuliah untuk mengubah nasib, namun tidak diterima kampus ternama.
Setiap bab dalam buku ini selalu menyisipkan pesan penting, yang mana penulis akan membuat halaman khusus yang meringkas isi pesan tersebut. Jadi selain menikmati cerita komedi inspiratif, pembaca dapat melihat pesan inti dalam tiap babnya.
Terjadi beberapa titik balik dalam novel ini membuat ceritanya sulit ditebak. Kejadian yang memotivasi dan demotivasi tokoh utama membuat pembaca merasakan emosi yang naik turun.
Kekurangan dari novel ini adalah eksekusi dari ide yang cukup klise. Konsep institusi pendidikan buangan atau kelas buangan disertai pendidik yang inspiratif dalam sebuah cerita komedi pendidikan memang cukup umum. Jika harus menyebutkan, salah satu komik Jepang yang terkenal seperti Assassination Classroom, dimana berisi siswa SMP dari kelas buangan dan seorang guru yang berusaha meningkatkan nilai mereka.
Kekurangan dalam buku ini lainnya adalah penyelipan komedi yang terasa kurang pas, serta menggunakan terlalu banyak istilah aneh yang kurang familiar bagi sebagian orang. Terkadang scene yang harusnya serius dan menyentuh, malah dibumbui dengan komedi yang membuat pembaca sulit untuk berempati dengan tokoh.
Kalimat percakapan juga selalu diselingi dengan kalimat berbahasa Inggris. Meskipun ini dilakukan untuk menciptakan watak dari beberapa karakter, namun hal itu menjadi terasa kurang natural jika dilakukan terus-menerus.