JawaPos.com — Cinta, satu kata berjuta makna; terdengar sederhana, tapi sebenarnya sulit untuk dipahami begitu saja. Bila anda belum memahami makna cinta, begitupun dengan Violet Evergarden, protagonis dalam adaptasi anime dari seri novel ringan karangan Kana Akatsuki yang diproduksi oleh studio Kyoto Animation di bawah arahan Taichi Ishidate. Gadis juru ketik ini juga masih mencari-cari makna sebenarnya dari kata cinta yang diucapkan oleh sang Mayor, Gilbert Bougainvillea, kepadanya.
Penasaran dengan perjalanan emosional Violet Evergarden si robot boneka yang mencari arti kata cinta di antara surat-surat sarat perasaan yang dipesan dari, oleh, dan untuk orang-orang tersayang? Yuk, simak artikel berikut mengulas serial yang digadang-gadang sebagai salah satu produksi anime paling mengesankan sepanjang masa.
Kisah Haru dari Si Robot Boneka yang Ingin Bisa Pahami Emosi Manusia
Serial anime yang bisa anda saksikan di aplikasi Netflix ini mengikuti perjalanan Violet sebagai Auto-Memories Doll (semacam juru ketik) yang menuliskan surat untuk orang-orang, saat ia mengasah keahliannya di Kantor Pos CH besutan salah satu mantan atasannya, Letkol. Claudia Hodgins.
Segalanya dimulai dengan sulit bagi Violet; meskipun seorang juru ketik yang sangat kompeten, latar belakang Violet sebagai seorang prajurit membuatnya tidak dapat memahami bagaimana kehidupan normal sebagaimana mestinya, pun dengan ragam perasaan dan emosi yang dirasakan oleh orang-orang. Bagaimanapun, Violet telah dilatih murni untuk bertempur, hanya tahu sedikit lebih dari sekadar mengikuti perintah dan dengan cepat mencapai tujuannya, menggunakan pertumpahan darah jika diperlukan.
Saat ia memperoleh sertifikasinya sebagai seorang Auto-Memories Doll dan mulai menerima tugasnya sendiri untuk menuliskan surat, Violet (untuk pertama kalinya) mengalami secara langsung arti dari menjadi manusia. Ia menyaksikan saat ketika orang-orang menangis karena kegembiraan, kesedihan, tersenyum, menangis, marah, dan lain-lain. Sepanjang perjalanannya, Violet melihat betapa dunia tumpah ruah dengan bermacam perasaan; emosi-emosi ini kemudian ditangkapnya dalam kata-kata yang lantas ia transkripsikan ke atas kertas yang nantinya menjadi surat.
Hal ini membantunya memahami tindakan-nya di masa lalu; ia menerima bahwa hal-hal yang telah dilihat dan diperbuatnya telah menyakiti orang lain. Dan, seusai menyaksikan sendiri bagaimana tindakan kebaikan dan cinta bisa memengaruhi orang lain, Violet juga mulai memahami bahwa, meskipun beban masa lalunya tak mungkin terhapuskan, ia memiliki kekuatan untuk melangkah menuju masa depan yang jauh dari kekerasan yang pernah mendefinisikan eksistensinya.
Memang, Violet mungkin telah membunuh banyak tentara musuh sebelumnya, dan orang-orang yang tewas tidak akan pernah kembali ke rumah serta pelukan keluarga mereka. Namun, dengan pengetahuan bahwa masa kini adalah yang terpenting, Violet berusaha untuk melangkah ke masa depan, menggunakan tangan yang sama yang dulunya merupakan alat pemisah dan mengubahnya menjadi alat yang menyatukan orang-orang.
Dilema Boneka Otomatis, Antara Kekakuan Mekanis atau Ketidakpastian Emosi
Terdapat satu adegan yang, walaupun singkat, hanya berlangsung 11 detik, tapi cukup meninggalkan kesan yang mendalam pada episode perdana dari serial ini, yaitu adegan ketika refleksi Violet terpantul pada jam yang ada di kantor Claudia Hodgins. Adegan ini menyiratkan dua hal: kondisi pikiran gadis itu saat ini serta potensinya di masa depan.
Jam, sebagai penanda waktu, pada dasarnya bersifat mekanis dan kaku; fungsinya ditentukan oleh satu kebutuhan. Violet adalah seorang prajurit yang tidak mengenal apapun selain menerima perintah dan menindaklanjutinya; fungsinya mendefinisikan dirinya, merambahnya dari balik sangkar transparan. Fungsi dari adegan ini, lebih dari sarana estetika saja, melainkan sebagai media yang merepresentasikan hambatan pada diri Violet yang kaku dan tak memahami emosi bagaikan robot atau boneka. Selain itu, adanya gerakan jarum jam yang berdetak maju, juga menambah kesan kedinamisan yang ada di sekitar si gadis.
Bahasa Bunga sebagai Sarana Ungkap Perasaan yang Sulit Diucapkan Kata-kata
Tidak banyak yang menyadari, bahwa sutradara Taichi Ishidate peduli dengan pendekatan langsung terhadap floriografi dalam seri ini seperti yang dilakukan rekan senegaranya Naoko Yamada untuk adaptasi film animasi A Silent Voice. Dalam film itu, Naoko Yamada menggunakan bahasa bunga sebagai alat komunikasi, memberikan komentar emosional yang tepat melalui visual, yang menekankan ketulian Shoko Nishimiya. Pun, dalam Violet Evergarden, anda akan melihat pesan berkode serupa, meskipun pengambilan gambar latar tidak selalu menghadirkan bunga.
Namun, bunga beserta ikonografi atau floriografi secara konsisten hadir sejak episode pertama Violet Evergarden sejalan dengan estetika ala Victoria. Meningkatnya jumlah konservatori bunga juga mengiringi meningkatnya ragam kekayaan bebungaan pada era itu memungkinkan lebih banyak bunga-bunga non-asli yang masuk ke berbagai wilayah. Tak terkecuali Kota Leiden yang menjadi tempat kerja baru Violet di perusahaan pos CH yang dipenuhi dengan beraneka macam flora khas daerah tropis. Bunga melimpah ruah dan mudah didapat; tak mengherankan bila rangkaian bunga dalam pot menghiasi setiap ruangan interior dan sebagian besar eksterior bangunan di kota ini.
Dalam serial seperti Violet Evergarden yang berfokus pada penulisan surat dan kata-kata tertulis untuk menyampaikan perasaan, masuk akal jika bunga lebih berperan sebagai penyokong dan latar belakang. Bunga dalam anime ini membantu mengatur nada dan mengingat kembali periode waktu Victoria. Perjalanan emosional Violet lebih mungkin diungkapkan melalui surat tertulis, sementara bunga memberikan latar belakang serta konteks pada cerita yang membuat transkripsi serta kata-kata yang tertulis menjadi lebih menyentuh.
Serial ini merupakan gambaran fenomenal dan mengharukan tentang gagasan bahwa meskipun masa lalu tidak dapat dibatalkan, melangkah maju adalah satu-satunya cara untuk menebus dan menghormati apa yang telah hilang dan tak mungkin kembali. Serial ini menjanjikan anda kisah romantis yang menawan, terlebih ketika narasinya mulai bermain-main menggunakan pesan yang lebih halus daripada kata-kata, seperti dengan bahasa bunga. Sehingga, tak pelak, bunga menjadi elemen yang tidak bisa dipisahkan dari serial ini.
Violet Evergarden adalah serial yang begitu menyentuh, baik dari aspek cerita, penokohan, ataupun tampilan visualnya. Mengingat betapa cantiknya desain serta akting karakter yang halus yang ditambah dengan animasi yang begitu indah, serial produksi Kyoto Animation ini pun memberikan narasi lugas seperti halnya film-film beranggaran tinggi, sehingga pantas untuk disebut sebagai salah satu produksi anime terbaik sepanjang masa.
Editor : Hendra