JawaPos.com - Mendapati mata berdarah atau bercak merah pada bagian putih mata sering kali membuat panik. Pada umumnya, kondisi itu bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, konsultasikan ke dokter jika disertai gejala lain.
Pecahnya pembuluh darah kecil di bawah selaput lendir mata (subkonjungtiva) menjadi salah satu penyebab mata berdarah. Pendarahan subkonjungtiva ditandai dengan munculnya bercak merah darah pada bagian putih mata (sklera).
”Mata berdarah ditandai dengan mata yang berwarna merah terang. Berbeda dengan sakit mata karena debu, radang, atau infeksi, itu pembuluh darahnya melebar. Jadi, warna merahnya tidak terang,” kata dr Susy Fatmariyanti SpM.
Angka kejadian mata berdarah spontan dan berulang banyak dialami usia di atas 45 tahun. Risikonya meningkat pada orang dengan diabetes melitus, hipertensi, kelainan darah, penggunaan obat antiradang (NSAID/non steroid anti inflammatory drug), dan obat-obat pengencer darah atau anti pembekuan darah.
Pada usia muda biasanya disebabkan trauma atau benturan, tapi juga bisa terjadi spontan. ”Misalnya karena mengejan, melakukan aktivitas berat atau mengangkat terlalu berat, batuk yang terlalu keras sehingga terjadi kerentanan pembuluh darah, kemudian pecah,” ungkap dokter spesialis mata di RSUD dr Soetomo tersebut.
Tidak Diikuti Gejala Lain
Umumnya, pendarahan subkonjungtiva tidak disertai gejala apa pun. Hanya perubahan warna merah pada mata. Bisa berupa bercak atau meliputi seluruh permukaan mata.
”Kalau diikuti rasa nyeri, tiba-tiba matanya kabur, dalam penglihatan ada bintik-bintik hitam, tidak nyaman, segera periksakan. Kondisi seperti itu biasanya pendarahannya di dalam bola mata,” bebernya.
Pendarahan subkonjungtiva dapat sembuh sendiri dalam 7–12 hari tanpa treatment khusus, selama tidak ada luka atau robekan pada selaput lendir. ”Kalau selaput lendirnya robek, perlu dijahit terlebih dahulu,” lanjut dokter Susy.
Pendarahan di Dalam Bola Mata
Lain halnya jika pendarahan di dalam bola mata yang bisa terjadi di beberapa tempat sekaligus. Antara lain, bilik mata depan, badan kaca, dan retina. Perlu dilakukan observasi lebih lanjut terkait lokasi dan penyebab pendarahan. ”Treatment-nya bisa diobati, dilaser, diinjeksi, atau bahkan dioperasi, bergantung lokasi dan penyebab,” ujar dokter yang juga berpraktik di klinik mata JEC-JAVA Surabaya itu.
Pendarahan di dalam bola mata berisiko menjadi kondisi kegawatdaruratan yang dapat berujung kehilangan penglihatan. Pada pasien diabetes, kondisi mata berdarah yang dibiarkan tanpa penanganan dapat menjadi komplikasi seperti kebutaan.
Untuk itu, penting mendeteksi sejak dini. ”Kalau ada penyakit metabolik, hindari aktivitas berat. Yang nggak sakit juga kurangi kucek-kucek mata, seringan apa pun akan melukai dan membuat mata trauma,” pesannya.
Masing-masing jenis pendarahan memiliki penyebab, gejala, dan penanganan yang berbeda. Jika ada tanda-tanda pendarahan pada mata, penting segera memeriksakan ke dokter mata untuk diagnosis yang tepat dan pengobatan yang sesuai. (lai/c6/nor)
*dr Susy Fatmariyanti SpM, Dokter spesialis mata
Baca Juga: Tidak Perlu Panik! Ini Delapan Cara Mudah untuk Mengatasi Bintitan di Mata dengan Cepat dan Efektif