JawaPos.com - Akhir tahun 2024 hampir tiba. Sudahkah anda mencapai hasil berat badan yang diinginkan? Jika sudah rutin berolahraga tapi hasilnya kurang maksimal, bisa jadi beberapa kebiasaan justru menghambat. Beberapa perubahan sederhana dapat membantu menghindari siklus naik-turun berat badan yang tidak sehat dan mulai menciptakan kebiasaan yang bisa diandalkan seumur hidup.
Dilansir dari cnet.com pada Sabtu (9/11), berikut adalah beberapa kebiasaan yang bisa menghambat kesuksesan dalam menurunkan berat badan. Perubahan ini mungkin tidak sebesar yang dibayangkan, namun dampaknya cukup signifikan.
1. Berhenti Memikirkan Hasil Jangka Pendek
Jika pendekatan penurunan berat badan terlalu fokus pada hasil jangka pendek, biasanya hasilnya tidak akan tahan lama, dan hanya berakhir dengan diet yo-yo.
Dengan memikirkan hasil jangka pendek, anda mungkin akan berhasil menurunkan beberapa kilogram dalam dua minggu, tetapi berat badan ini bisa kembali naik saat metode diet tak lagi berfungsi. Ini sering terjadi ketika mencoba diet ketat seperti keto atau paleo yang menjanjikan hasil cepat. Padahal, diet seimbang yang mencakup semua kelompok makanan, dan bahkan sesekali camilan, biasanya lebih efektif dalam jangka panjang.
Menurunkan berat badan dan mempertahankannya butuh kesadaran bahwa diet populer, olahraga berlebihan, dan "detoks" biasanya tidak memberikan hasil jangka panjang. Semua ini hanya berlangsung selama masih ada motivasi untuk bertahan, dan umumnya tidak lebih dari beberapa minggu atau bulan.
Tidak ada solusi instan, obat ajaib, atau pil khusus untuk menurunkan berat badan, meskipun industri kesehatan sering kali menyarankan sebaliknya. Penurunan berat badan yang efektif dan berkelanjutan memerlukan komitmen pada rencana yang mendukung kebiasaan sehat jangka panjang.
Secara umum, disarankan untuk menurunkan berat badan sekitar 0,5-1 kg per minggu. Penurunan yang lebih cepat mungkin terjadi pada awalnya bagi orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas, lalu berlanjut sesuai rekomendasi. Penelitian menunjukkan bahwa ini adalah cara yang lebih efektif untuk menurunkan berat badan tanpa kehilangan terlalu banyak air atau massa otot, serta mengurangi kemungkinan berat badan kembali naik.
2. Pola Pikir Serba-atau-Tidak Sama Sekali Bisa Berbahaya
Banyak orang yang kesulitan mempertahankan komitmen jangka panjang juga sering terjebak dalam pola pikir serba-atau-tidak sama sekali. Contoh kasus, seseorang memulai perjalanan kesehatan dan kebugarannya dengan menghindari semua makanan olahan, termasuk roti, pasta, susu, keju, dan camilan kemasan. Hasilnya, ia hanya mengonsumsi ayam, sayuran, dan buah-buahan.
Awalnya, pola makan ini tampak efektif. Namun, pada suatu titik, ia tergoda untuk membeli cokelat dan camilan lain dari toko. Setelah "merusak" dietnya, muncul pemikiran,"Kenapa tidak sekalian saja?" dan ia pun makan dalam jumlah banyak. Keesokan harinya, ia kembali ke pola makan yang ketat dengan perasaan bersalah, dan siklus ini terus berulang. Ini adalah pola yang cukup merusak, dan banyak orang lain yang menjalani pola makan ketat sering kali mengalami hal serupa.
Pola pikir serba-atau-tidak seperti ini sering kali membuat seseorang berada dalam siklus penurunan dan kenaikan berat badan, disertai rasa malu dan bersalah.
3. Sistem Dukungan yang Lebih Kuat Bisa Jadi Solusinya
Dukungan dari teman, keluarga, dan orang-orang terdekat sangat penting untuk keberhasilan dalam menurunkan berat badan. Apabila ditanya alasan paling umum mengapa banyak orang kesulitan menjalani diet sehat, mungkin jawabannya adalah stigma.
Memang terdengar aneh, tapi kenyataannya orang sering di-bully karena memilih makan makanan sehat, apalagi di tempat-tempat di mana makanan jadi bagian penting dalam budaya mereka.
Di acara keluarga atau kumpul-kumpul, seseorang mungkin sering mendapatkan komentar seperti, "Hanya itu yang anda makan?" atau, "Anda tidak mau coba dessert?" atau dengan sarkasme, "Lain kali kita bikin pesta salad deh".
Tidak enak sekali diejek, apalagi soal hal yang dianggap penting seperti kesehatan. Karena itu, mudah sekali untuk terjebak dalam kebiasaan makan (dan minum) yang tidak sehat demi ikut pergaulan.
Oleh karena itu, punya sistem dukungan yang solid tentu saja sangat penting bagi proses penurunan berat badan. Tanpa dukungan seperti itu, proses penurunan berat badan bisa terasa kesepian dan menakutkan.
4. Olahraga Tidak Selalu Jadi Solusi untuk Semua Masalah