Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Ingin Sukses Menurunkan Berat Badan? Segera Hentikan Enam Kebiasaan Ini Mulai Sekarang

Siti Nur Qasanah • Sabtu, 9 November 2024 | 10:30 WIB
Ilustrasi orang yang sedang menimbang berat badan
Ilustrasi orang yang sedang menimbang berat badan

JawaPos.com - Akhir tahun 2024 hampir tiba. Sudahkah anda mencapai hasil berat badan yang diinginkan? Jika sudah rutin berolahraga tapi hasilnya kurang maksimal, bisa jadi beberapa kebiasaan justru menghambat. Beberapa perubahan sederhana dapat membantu menghindari siklus naik-turun berat badan yang tidak sehat dan mulai menciptakan kebiasaan yang bisa diandalkan seumur hidup.

Dilansir dari cnet.com pada Sabtu (9/11), berikut adalah beberapa kebiasaan yang bisa menghambat kesuksesan dalam menurunkan berat badan. Perubahan ini mungkin tidak sebesar yang dibayangkan, namun dampaknya cukup signifikan.

1. Berhenti Memikirkan Hasil Jangka Pendek

Jika pendekatan penurunan berat badan terlalu fokus pada hasil jangka pendek, biasanya hasilnya tidak akan tahan lama, dan  hanya berakhir dengan diet yo-yo.

Dengan memikirkan hasil jangka pendek, anda mungkin akan berhasil menurunkan beberapa kilogram dalam dua minggu, tetapi berat badan ini bisa kembali naik saat metode diet tak lagi berfungsi. Ini sering terjadi ketika mencoba diet ketat seperti keto atau paleo yang menjanjikan hasil cepat. Padahal, diet seimbang yang mencakup semua kelompok makanan, dan bahkan sesekali camilan, biasanya lebih efektif dalam jangka panjang.

Menurunkan berat badan dan mempertahankannya butuh kesadaran bahwa diet populer, olahraga berlebihan, dan "detoks" biasanya tidak memberikan hasil jangka panjang. Semua ini hanya berlangsung selama masih ada motivasi untuk bertahan, dan umumnya tidak lebih dari beberapa minggu atau bulan.

Tidak ada solusi instan, obat ajaib, atau pil khusus untuk menurunkan berat badan, meskipun industri kesehatan sering kali menyarankan sebaliknya. Penurunan berat badan yang efektif dan berkelanjutan memerlukan komitmen pada rencana yang mendukung kebiasaan sehat jangka panjang.

Secara umum, disarankan untuk menurunkan berat badan sekitar 0,5-1 kg per minggu. Penurunan yang lebih cepat mungkin terjadi pada awalnya bagi orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas, lalu berlanjut sesuai rekomendasi. Penelitian menunjukkan bahwa ini adalah cara yang lebih efektif untuk menurunkan berat badan tanpa kehilangan terlalu banyak air atau massa otot, serta mengurangi kemungkinan berat badan kembali naik.

2. Pola Pikir Serba-atau-Tidak Sama Sekali Bisa Berbahaya

Banyak orang yang kesulitan mempertahankan komitmen jangka panjang juga sering terjebak dalam pola pikir serba-atau-tidak sama sekali. Contoh kasus, seseorang memulai perjalanan kesehatan dan kebugarannya dengan menghindari semua makanan olahan, termasuk roti, pasta, susu, keju, dan camilan kemasan. Hasilnya, ia hanya mengonsumsi ayam, sayuran, dan buah-buahan.

Awalnya, pola makan ini tampak efektif. Namun, pada suatu titik, ia tergoda untuk membeli cokelat dan camilan lain dari toko. Setelah "merusak" dietnya, muncul pemikiran,"Kenapa tidak sekalian saja?" dan ia pun makan dalam jumlah banyak. Keesokan harinya, ia kembali ke pola makan yang ketat dengan perasaan bersalah, dan siklus ini terus berulang. Ini adalah pola yang cukup merusak, dan banyak orang lain yang menjalani pola makan ketat sering kali mengalami hal serupa.

Pola pikir serba-atau-tidak seperti ini sering kali membuat seseorang berada dalam siklus penurunan dan kenaikan berat badan, disertai rasa malu dan bersalah.

3. Sistem Dukungan yang Lebih Kuat Bisa Jadi Solusinya

Dukungan dari teman, keluarga, dan orang-orang terdekat sangat penting untuk keberhasilan dalam menurunkan berat badan. Apabila ditanya alasan paling umum mengapa banyak orang kesulitan menjalani diet sehat, mungkin jawabannya adalah stigma.

Memang terdengar aneh, tapi kenyataannya orang sering di-bully karena memilih makan makanan sehat, apalagi di tempat-tempat di mana makanan jadi bagian penting dalam budaya mereka. 

Di acara keluarga atau kumpul-kumpul, seseorang mungkin sering mendapatkan komentar seperti, "Hanya itu yang anda makan?" atau, "Anda tidak mau coba dessert?" atau dengan sarkasme, "Lain kali kita bikin pesta salad deh".

Tidak enak sekali diejek, apalagi soal hal yang dianggap penting seperti kesehatan. Karena itu, mudah sekali untuk terjebak dalam kebiasaan makan (dan minum) yang tidak sehat demi ikut pergaulan.

Oleh karena itu, punya sistem dukungan yang solid tentu saja sangat penting bagi proses penurunan berat badan. Tanpa dukungan seperti itu, proses penurunan berat badan bisa terasa kesepian dan menakutkan.

4. Olahraga Tidak Selalu Jadi Solusi untuk Semua Masalah

Apabila sering mengikuti dunia kebugaran, pasti familiar dengan pepatah ini, "Perut terbentuk di dapur, bukan di gym". Walaupun tujuan diet bukan untuk punya perut rata, pepatah ini tetap berlaku. Pola makan yang buruk tidak bisa diatasi hanya dengan olahraga.

Olahraga memang harus jadi bagian dari rencana keseluruhan untuk menurunkan berat badan karena terbukti efektif, selain punya banyak manfaat kesehatan lainnya. Namun, menurunkan berat badan hanya dengan olahraga itu sulit. Banyak orang yang berpikir bisa membakar banyak kalori lewat olahraga, padahal kenyataannya jumlahnya jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan, dan bahkan lebih sedikit dari pada kalori yang dibakar tubuh hanya untuk mempertahankan fungsi dasar sehari-hari.

Selain itu, fokus hanya pada olahraga bisa membuat seseorang terjebak dalam siklus yang tidak sehat, seperti berolahraga lebih banyak untuk membakar kalori dari makanan yang seharusnya tidak dikonsumsi. Atau merasa perlu "mendapatkan" kalori lewat olahraga. Cara pikir seperti ini bisa membuat hubungan antara makanan dan olahraga jadi tegang, dan justru menghambat penurunan berat badan.

Mengonsumsi makanan yang kaya akan buah, sayur, lemak sehat, protein rendah lemak, dan biji-bijian utuh sangat membantu dalam penurunan berat badan dan kesehatan jangka panjang. Ditambah dengan rutinitas olahraga yang konsisten, seseorang bisa mendapatkan penurunan berat badan yang berkelanjutan dan mempertahankan berat badan ideal.

5. Tidur Lebih Banyak, Kurangi Stres, dan Makan Lebih Sehat

Menurunkan berat badan akan jauh lebih susah jika anda terus-terusan stres, kurang tidur, atau terlalu banyak kerja. Mungkin ini terdengar familiar:

  • Pagi-pagi, anda bangun dengan semangat untuk siap menjalani hari. Anda memiliki rencana lari santai setelah kerja. Anda juga punya makan malam sehat yang sudah siap di kulkas.
  • Setelah kerja, anda ternyata terlalu capek, renana untuk lari pun akhirnya batal.
  • Karena lelah dan mungkin lagi stres atau mood lagi buruk, anda juga batal makan malam sehat dan justru ke restoran cepat saji, cari makanan yang enak buat merasakan kenyamanan.

Hal seperti ini memang tidak masalah jika hanya sesekali, karena setiap orang butuh waktu untu bersantai. Namun, jika ini jadi kebiasaan, penurunan berat badan bisa jadi terasa mustahil.

6. Suplemen Tidak Bisa Mengerjakan Semuanya

Suplemen pembakar lemak yang ada di lemari obat mustahil jadi solusi ajaib. Beberapa suplemen bisa bantu mencapai tujuan penurunan berat badan, tapi tetap harus diimbangi dengan usaha agar suplemen itu bisa efektif.

Misalnya, minum protein shake setiap pagi bisa membantu  merasa kenyang lebih lama, yang bisa mengurangi rasa ingin makan. Selain itu, tambahan protein juga bisa bantu membangun otot, yang penting buat rekomposisi tubuh.

Memang ada beberapa suplemen penurun berat badan yang memiliki bukti pendukung untuk khasiatnya, tapi tidak ada suplemen yang bisa menggantikan cara yang pasti yakni makan lebih sedikit kalori dari pada yang dibakar.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#menurunkan berat badan #diet #berat badan #kebiasaan