JawaPos.com — Apa yang pertama kali terpikirkan di dalam benak anda ketika mendengar ada serial anime berjudul Death Parade?
Apakah itu tentang parade jiwa-jiwa orang mati seperti yokai, siluman, jurig, dedemit, atau jejadian di jalan-jalan kota? Bukan. Serial anime ini bukan bercerita tentang Hyakki Yakou atau malam parade seribu makhluk supranatural di Jepang atau Trick-or-Treat perayaan Halloween di Eropa, melainkan tentang penghakiman manusia kelak di alam barzah.
Ya, anda tidak salah baca.
Serial anime orisinal produksi Studio Madhouse yang bisa anda saksikan melalui kanal Crunchyroll, Funimation, ataupun Hulu ini memang bercerita tentang bagaimana seorang hakim atau juri di alam kematian memberi putusan mereka terhadap jiwa-jiwa yang telah mati; apakah mereka pantas untuk kembali ke siklus reinkarnasi atau malah tidak sama sekali.
Konsep yang diangkat oleh serial orisinal garapan Yuzuru Tachikawa (Mob Psycho 100, Deca-Dence, Blue Giant) yang berhasil meraih penghargaan sebagai Anime Orisinal Terbaik pada tahun 2016 versi AniTrendz ini memang bukanlah hal yang baru, sebab kisah-kisah tentang orang-orang yang dihakimi setelah kematian telah ada di dalam ajaran-ajaran agama serta kepercayaan sejak dulu.
Namun, yang membuat Death Parade berbeda adalah anda akan diajak secara langsung untuk menyaksikan berbagai jiwa orang mati yang diadili dan bagaimana proses penghakiman itu sendiri.
Penasaran dengan siapa sebenarnya sosok para Juri di alam barzah itu, apakah mereka berhak untuk menjatuhkan putusan terhadap nasib jiwa-jiwa yang telah mati, dan bagaimana cara mereka memutuskan siapa yang pantas-tidak pantas untuk bereinkarnasi di kehidupan selanjutnya? Mari, simak ulasan berikut.
Baca Juga: Mechanical Arms: Berawal dari Proyek Anime Indie, Menjadi Serial Animasi Mecha yang Patut Dinanti
Siapakah Mereka, yang Berhak Menilai Jiwa-jiwa Orang Mati?
Mengutip situs MyAnimeList, serial anime ini bercerita tentang alam setelah kematian di mana bukan surga atau neraka yang menunggu orang-orang dengan situasi serta kondisi khusus. Bagi para manusia ‘pilihan’ itu, yang menunggu mereka setelah mati adalah seorang bartender jangkung berambut putih dan tanpa ekspresi bernama Decim yang menjalankan sebuah bar misterius yang berada di batas antara ada dan tiada bernama QuinDecim.
Alih-alih disebut ‘antara ada dan tiada’, alam di mana bar yang dijaga oleh Decim itu eksis lebih tepat apabila dideskripsikan sebagai alam persimpangan atau ‘Purgatory’ sebelum jiwa-jiwa orang mati bisa melanjutkan perjalanan mereka menjemput takdir masing-masing.
Selain jadi bartender, Decim juga berperan sebagai seorang arbitrer atau judges di alam itu; dia akan mengajak jiwa-jiwa orang mati yang selalu datang berpasangan ke bar-nya untuk berpartisipasi ke dalam berbagai gim: darts, bowling, biliar, kartu, arcade, dan lain-lain. Decim mengatakan bahwa permainan-permainannya akan memaksa para pemain untuk mempertaruhkan nyawa mereka, tanpa keduanya mengetahui bahwa mereka telah mati.
Bukan tanpa alasan bagi Decim mengajak mereka untuk terlibat dalam berbagai permainan yang mempertaruhkan nyawa di barnya, sebab tiap-tiap permainan itu memang telah didesain untuk mengungkap jati diri para pemain-nya. Peran Decim sebagai juri-lah yang nanti menjadi penentu nasib dari jiwa-jiwa yang datang ke bar-nya: apakah mereka akan kembali ke siklus reinkarnasi atau jatuh ke dalam kehampaan tak berdasar sepanjang usia Tuhan.
Salah satu yang unik dari Death Parade, yaitu cara Yuzuru Tachikawa yang terkesan mengajak penonton untuk juga ikut andil menjadi seorang juri yang ‘mengadili’ jiwa orang-orang yang berpartisipasi dalam tiap gim yang sedang berlangsung.
Ya, anda secara sadar-tidak sadar akan diajak ikut serta untuk menilai apakah para tokoh yang datang ke bar QuinDecim itu layak atau tidak layak untuk mendapatkan takdirnya. Mereka yang layak, akan dikembalikan ke dalam lingkaran reinkarnasi; mereka yang tidak layak, akan dijebloskan ke jurang kehampaan tak berujung.
Sebagai penonton (sekaligus bagian dari dewan juri), anda bakalan dibawa larut dalam ketegangan ritme dari setiap permainan yang disuguhkan sembari dibuat menebak-nebak nasib para pemain yang berpartisipasi di dalam gim reality-show ini.
Sekarang, pertanyaan-nya: Bagaimana sih, cara untuk menilai kelayakan seseorang untuk menerima takdirnya di akhirat kelak? Apa saja, kalau ada, yang jadi kriteria penilaian-nya? Kemudian, anda pasti tahu kalau manusia itu unik dan kompleks secara individu, bahkan kematian pun tidak mengubah hal tersebut, sehingga masing-masing jiwa tentu punya banyak sekali aspek untuk dijadikan dasar penilaian… lalu, apakah hal itu tidak membuat penilaian justru menjadi semakin rumit?
Sekali lagi: Bagaimana, sih, cara untuk menilai seseorang itu layak-tidak layak masuk surga atau neraka; pantas-tidak pantas untuk bereinkarnasi atau jatuh ke jurang kehampaan tak berdasar?
Siapa, sih, yang layak untuk menilai manusia? Apakah juri seperti Decim adalah merupakan ‘eksistensi’ yang layak untuk menilai nasib jiwa-jiwa manusia yang telah mati tersebut? Belum tentu.
Lalu, apakah kita, yang manusia, layak untuk menilai sesama manusia? Memangnya siapakah kita, berani sekali menudingkan telunjuk kepada sesamanya?
Serial anime Death Parade akan membawa anda untuk merenungkannya sembari pelan-pelan menyingkap misteri besar di dalam ceritanya sendiri.
Dilema Metode Juri dalam Memutuskan Nasib Seseorang di Alam Barzah
Pada poin di atas telah disinggung perihal eksistensi juri seperti Decim di alam barzah yang bertugas untuk memutuskan nasib jiwa orang-orang yang telah mati. Namun, tidak pernah disebutkan apakah para Juri tersebut telah melalui semacam pelatihan seperti membaca buku tentang psikologi manusia atau mempelajari rekaman video dari penilaian-penilaian sebelumnya.
Dalam hal ini, jika tugas Juri adalah untuk menghakimi orang, mengapa mereka dilarang memiliki emosi? Masalah menjadi rumit ketika mereka tidak diizinkan untuk memahami emosi, satu elemen yang paling penting dalam penilaian mereka. Bagaimana bisa, Juri yang diciptakan untuk tidak merasakan emosi yang mencoba menghakimi jiwa-jiwa yang memiliki emosi? Sesuatu yang absurd.
Jika penilaian memang diatur secara subjektif, maka seharusnya semakin banyak Juri mengetahui tentang jiwa-jiwa yang diadilinya, tidak hanya tentang fisik dan morfologisnya, tetapi juga emosinya, semakin baik mereka memahaminya. Namun, nyatanya para Juri tidak dibekali dengan informasi yang mendetail perihal orang-orang yang telah mati yang datang ke bar mereka; emosi saja mereka tidak punya.
Namun, jika penilaian dimaksudkan untuk dilakukan dari sudut pandang objektif, mengapa permainan itu sendiri diatur untuk menguntungkan salah satu peserta pada saat tertentu. Merekayasa skenario bersama dengan emosi asli dari mereka yang berpartisipasi dalam permainan penilaian ini bukankah tidak objektif?
Memang ada beberapa hal yang dibiarkan tak terjawab di dalam serial ini, hampir seolah-olah anime ini mengajarkan pada para penonton bahwa tidak ada yang mutlak dalam hidup dan tidak ada yang bisa diukur dengan sempurna.
Singkatnya, Death Parade adalah salah satu anime orisinal serta drama gelap terbaik. Desain karakter dan pengaturan latarnya tepat sasaran. Pokok bahasan dalam setiap episodenya merupakan perpaduan sempurna antara intensitas dan individualitas, menjadikan serial ini salah satu anime langka yang setiap episodenya cukup kuat secara keseluruhan untuk berdiri sendiri.
Serial orisinal garapan Yuzuru Tachikawa ini benar-benar menyenangkan untuk ditonton dengan mana ia akan membawa anda untuk mulai mempertanyakan beberapa masalah besar dalam hidup tentang penilaian dan sifat kegelapan dalam jiwa manusia.
Death Parade adalah sebuah perjalanan, dan meskipun tidak sempurna, itu adalah petualangan fantastis ke dalam kegelapan jiwa manusia, kesedihan yang dapat dirasakan seseorang, dan harapan yang dapat ditemukan seseorang dari keutuhan emosi manusia.
Editor : Hendra