Fakta Menarik Tinta Ungu Pemilu: Diawali dari India, Digunakan Sejak Era Orde Baru
Ibnu Baihaqi• Rabu, 27 November 2024 | 21:30 WIB
Warga menggunakan hak pilihnya pada Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2024 di TPS 024 Kebagusan, Jakarta, Rabu (27/11/2024). Pelaksanaan pemungutan atau pencoblosan suara di tempat pemungutan suara (TPS) dimulai dari pukul 07.00 sampai 13.00
JawaPos.com - Setiap Pemilihan Umum (Pemilu) terjadi, pasti bertebaran postinganfoto jari kelingking yang dilumuri tinta berwarna biru atau ungu. Ini adalah tanda bahwa orang tersebut telah menggunakan hak pilihnya untuk menentukan pemimpin yang akan menjalankan pemerintahan selama lima tahun ke depan.
Tinta ini digunakan supaya voters tidak menggunakan hak pilihnya lebih dari satu kali. Selain dari fungsinya, terdapat beberapa fakta menarik lain tentang tinta Pemilu. Berikut tiga fakta tentang tinta Pemilu dilansir dari kantor berita nasional RRI.
1. Pertama Kali Digunakan di India
Pada tahun 1950-an, banyak terjadi pencurian identitas saat Pemilu di India. Ditambah lagi banyak orang yang menggunakan hak pilihnya lebih dari satu kali.
National Physical Laboratory of India (NPL) diperintahkan untuk membuat formula tinta unik yang tidak mudah untuk dihapus. Hingga akhirnya tinta ini pertama kali digunakan pada Pemilu ketiga di India, pada tahun 1962.
Solusi ini efektif untuk mengatasi masalah pencurian identitas dan masalah lainnya. Kemudian 44 negara termasuk Indonesia meniru metode ini hingga sekarang.
2. Sulit Dihilangkan
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, tinta Pemilu sulit dihilangkan. Tinta yang dicelupkan pada jari kelingking ini terbuat dari bahan kimia seperti perak nitrat, gentian violet, dan bahan alami berupa gambir, kunyit, getah kayu, air, serta campuran lainnya.
Tinta yang biasanya berwarna biru tua atau ungu ini memiliki daya rekat yang kuat pada kuku atau lapisan kulit ari. Tanda ini akan sangat sulit untuk dibersihkan meskipun menggunakan sabun atau alkohol.
Pemilu Indonesia yang pertama terjadi pada tahun 1955, namun tinta ini baru digunakan pada masa orde baru pada tahun 1995. Metode ini digunakan untuk menjadi simbol demokrasi yang bersih hingga saat ini.