Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Mengenal Filsafat: Perjalanan Panjang Pencari Pengetahuan Melintasi Zaman, Mulai dari Yunani Kuno Sampai Post-Modernisme

Erie Dewangga • Rabu, 20 November 2024 | 20:00 WIB

Filsafat merupakan ilmu yang memiliki sejarah yang sangat panjang.
Filsafat merupakan ilmu yang memiliki sejarah yang sangat panjang.

JawaPos.com — Sudah kenalkah anda dengan siapa itu Socrates, Plato, dan Aristoteles? Ya, mereka adalah tokoh-tokoh filsafat yang mungkin paling sering anda dengar namanya.

Namun, tahukah anda, apa itu filsafat? Apa yang sebenarnya filsafat itu? Benarkah tuduhan kalau mempelajari filsafat otomatis atheis? Anda ingin mengetahui lebih dalam tentang filsafat? Yuk, simak artikel berikut membahas sejarah perkembangan filsafat sampai masa kini.

Filsafat: Ilmu yang Mengalir dari Gunung sampai Laut Dalam

Berasal dari bahasa Yunani, pencari (philos) dan pengetahuan (sophia), ilmu filsafat memiliki sejarah yang bahkan lebih panjang daripada semua ilmu serta kebanyakan kepercayaan religi yang ada.

Filsafat bermula dari sebuah keheranan, kesangsian, keraguan, serta kesadaran akan keterbatasan diri, yang akhirnya mendorong akal manusia untuk lebih menghayati serta menyelidiki kejadian-kejadian tertentu di alam semesta ini secara mendalam dan radikal (mengakar).

Makin banyak manusia mengetahui sesuatu, maka semakin banyak pertanyaan yang muncul; sebab, manusia memang selalu ingin tahu segala hal: perihal asal dan tujuan penciptaan, perihal eksistensi, perihal kebebasan, dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mendorong manusia untuk mencari apa yang ingin diketahuinya melalui serangkaian metode ilmiah.

Filsafat merupakan ilmu yang mengalir. Perkembangan ilmu filsafat mulai dari Yunani Kuno hingga Modern (bahkan, Post-Modern) bisa diibaratkan sebagai sumber mata air yang mengalir dari gunung-gunung melalui cabang-cabang sungai hingga lepas ke lautan dalam.

Yunani Kuno: Usaha Para Pemikir Mengubah Mitos Jadi Logos

Pada tahap filsafat Yunani Kuno, para pemikir Yunani berusaha untuk mengubah orientasi pikiran manusia dari yang awalnya bersifat mitos menjadi logos. Filsafat alam berkembang pesat, karena rasa penasaran manusia tentang semesta. Pemikiran teoritis tersebut menjadi permulaan lahirnya filsafat di Yunani pada abad ke 6 SM. Ciri-ciri umum filsafat pada masa ini adalah rasionalisme. Pada masa pra-Socrates, tujuan filosofi filsafat ialah memikirkan asal-usul terjadinya alam semesta.

Thales (624-546 SM), mengatakan bahwa asal alam adalah air karena unsur terpenting bagi setiap makhluk hidup adalah air. Air dapat berubah menjadi gas seperti uap dan benda padat seperti es, dan bumi ini juga berada di atas air.

Sedangkan, Heraklitos (540-480 SM) berpendapat bahwa segala yang ada selalu berubah dan sedang menjadi. Ia mempercayai bahwa arche (asas yang pertama dari alam semesta) adalah api. Api dianggapnya sebagai lambang perubahan dan kesatuan. Api mempunyai sifat memusnahkan segala yang ada dan mengubah sesuatu tersebut menjadi abu atau asap.

Kemudian, ada Permenides (540-475 SM), yang pertama kali memikirkan hakikat tentang ada. Lalu ada Anaximenes (570-526 SM) yang memiliki prinsip bahwa asal-usul segala sesuatu di alam semesta ini adalah udara; serta Pythagoras (575-492 SM) yang menyatakan bahwa alam semesta merupakan satu keseluruhan yang sudah tertata teratur.

Yunani Klasik: Masa Jaya Filsafat di Tangan Socrates-Plato-Aristoteles

Baca Juga: Hari Anak Sedunia 2024: UNICEF Usung Tema 'Dengarkan Masa Depan untuk Dukung Hak-Hak Anak'

Zaman klasik berawal dari Socrates, tetapi Socrates belum sampai pada suatu sistem serta metode yang memberikan nama kepada ilmu ini. Ia baru membuka jalan. Ia baru mencari kebenaran.

Filsafat Socrates di antaranya adalah pernyataan perihal adanya kebenaran secara objektif, yang mana untuk memvalidasi suatu kebenaran perlu melihat realita yang ada dan menggunakan metode yang disebut dialektika. Selain itu, Socrates juga memiliki pemikirannya sendiri tentang etika.

Setelah wafatnya Socrates, tongkat estafet filsafat ini diteruskan oleh muridnya, Plato (427-347 SM). Ia melanjutkan metode sang Guru dalam mencari pengetahuan dengan mendialogkan berbagai hal bersama teman diskusinya. Ia juga menggunakan metode dialektika untuk mengantarkan filsafatnya. Plato mencetuskan dunia ide, etika, dan konsep-konsep negara serta politik.

Kemudian, aliran sungai filsafat ini berlanjut pada cabang Aristoteles (384-322 SM), murid dari Plato, yang sangat berjasa dalam meletakkan sendi-sendi pertama rasionalitas Barat. Aristoteles menulis banyak bidang, meliputi logika, etika, politik, metafisika, psikologi dan ilmu alam. Pemikiran-pemikirannya yang sistematis tersebut banyak menyumbang kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Aristoteles terkenal sebagai Bapak Logika.

Abad Pertengahan: Menjelang Terbitnya Kegelapan Pengetahuan yang Panjang di Eropa

Pada abad pertengahan ini, pertentangan antara gereja yang diwakili oleh para pastur dan para raja yang pro-gereja dengan para ulama filsafat meruncing, sehingga pada masa ini filsafat mengalami kemunduran. Para raja membatasi kebebasan berpikir, sehingga filsafat mati suri. Ilmu menjadi beku, kebenaran hanya menjadi otoritas gereja dan para raja yang berhak mengatakan dan menjadi sumber kebenaran.

Zaman Kegelapan: Ilmu Pengetahuan Tenggelam di Barat, Terbit di Timur

Pada abad ini, ilmu pengetahuan di Eropa seolah tenggelam dan tergantikan oleh dogma gereja. Namun, di negara-negara Timur, ilmu pengetahuan justru terbit dan malah menjadi masa keemasan Islam yang ditandai dengan pemikir-pemikir seperti Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali yang ahli dalam hukum Islam; Al-Farabi yang ahli astronomi dan matematika; Ibnu Sina yang ahli kedokteran; Al-Kindi, ahli filsafat; Al-Ghazali, intelek menyintesis antara agama, filsafat, mistik, dan sufisme; Ibnu Khaldun yang ahli sosiologi, filsafat sejarah, politik, ekonomi, sosial dan kenegaraan.

Masa jaya Islam ini berlangsung tak lama, sebab setelah pecah Perang Salib, perkembangan ilmu pengetahuan pun seketika kembali ke titik nol.

Zaman Patristik dan Skolastik: Era Filsafat Teologi Kristiani

Kedua filsafat ini berkembang bersamaan dengan terbitnya abad kegelapan ketika ilmu pengetahuan di Eropa seolah tenggelam dan tergantikan oleh dogma gereja, sehingga filsafat pada jaman ini dikuasai oleh pemikiran-pemikiran Kristiani.

Tokoh-tokoh Patristik Yunani antara lain Clemens dari Alexandria (150-215), Origenes (185-254). Gregorius dari Naziane (330-390), Basilius (330-379); sedangkan tokoh-tokoh Patristik Latin, antara lain Hilarius (315-367), Ambrosius (339-397), Hieronymus (347-420), dan Augustinus (354-430). Ajaran dari para Bapa Gereja ini adalah falsafi-teologis yang ingin memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia.

Renaisans: Sambut Fajar Baru dan Kembalinya Sinar Cerah Ilmu Pengetahuan

Renaisans merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Ciri utama renaisans yaitu humanisme, individualisme, sekulerisme, empirisisme, dan rasionalisme.

Baca Juga: Ada yang Panjangnya Enam Meter! Yuk Kenali Peran dan Perbedaan Usus Kecil dan Usus Besar pada Sistem Pencernaan Manusia

Pada abad ini muncul seorang astronom berkebangsaan Polandia. Astronom tersebut bernama Nicolaus Copernicus (1473-1543 M). Pada saat itu, Copernicus mengemukakan temuannya bahwa pusat peredaran benda-benda angkasa adalah matahari (heliosentrisme). Namun, ide tersebut tidak disambut baik oleh otoritas Gereja sebab mereka menganggap bahwa teori yang dikemukakan oleh Copernicus bertentangan dengan teori geosentrisme (Bumi sebagai pusat peredaran benda-benda angkasa) yang dikemukakan oleh Ptolomeus.

Tokoh penemu lain di bidang sains pada masa renaisans di antaranya, yaitu Johanes Kepler (1571-1630 M), Galileo Galilei (1564-1643 M), dan Francis Bacon (1561-1626 M).

Aufklärung: Era Pencerahan Akal Budi Manusia yang Dianggap Telah Dewasa

Era ini sebenarnya sudah terintis mulai dari abad 15 M. Namun, indikator yang nyata baru terlihat jelas pada abad 17 M dan terus berlangsung hingga abad 20 M. Hal ini ditandai dengan adanya penemuan-penemuan dalam bidang ilmiah.

Era ini juga disebut dengan zaman Barok yang mana tradisi rasionalisme kian ditumbuh-kembangkan oleh filsuf-filsuf seperti Rene Descartes (1596-1650), Baruch Spinoza (1632-1677), dan G. Leibniz (1646-1710). Para Filsuf tersebut menekankan pentingnya kemungkinan-kemungkinan akal-budi dalam mengembangkan pengetahuan manusia.

Pada abad ke-18, aliran ilmu pengetahuan mulai memasuki perkembangan baru. Setelah reformasi, Renaisans dan setelah rasionalisme zaman Barok, pemikiran manusia pun dianggap telah dewasa. Periode sejarah perkembangan pemikiran filsafat kemudian disebut sebagai Zaman Pencerahan atau Fajar Budi. Filsuf-filsuf pada jaman ini disebut sebagai para empirikus, yang ajarannya lebih menekankan bahwa suatu pengetahuan eksis karena adanya pengalaman indrawi manusia. Para empirikus besar Inggris antara lain J. Locke (1632-1704), G. Berkeley (1684-1753) dan D. Hume (1711-1776). Di Perancis, JJ. Rousseau (1712-1778) dan di Jerman Immanuel Kant (1724-1804).

Modern: Menuju Empirisme Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Immanuel Kant, melalui bukunya, Kritik der reinen vernunft, yang terbit tahun 1781, memberi arah baru mengenai filsafat pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan dihimpun setelah melalui (aposteriori) sistem penginderaan (sensory system) manusia, tetapi tanpa pikiran murni (a priori) yang aktif tidaklah mungkin tanpa kategorisasi dan penataan dari rasio manusia.

Kant berpendapat bahwa empirisme mengandung kelemahan karena anggapan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia hanyalah rekaman kesan-kesan (impresi) dari pengalamannya. Bagi Kant yang terpenting bagaimana pikiran manusia mamahami dan menafsirkan apa yang direkam secara empirikal, bukan bagaimana kenyataan itu tampil sebagai benda itu sendiri.

Post-Modernisme: Era Humanisme, Mulai dari Positivisme sampai Fenomenologi

Pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas, perkembangan pemikiran filsafat pengetahuan memperlihatkan aliran-aliran besar: rasionalisme, empirisme, dan idealisme dengan mempertahankan wilayah masing-masing.

Dibandingkan dengan filsafat abad ketujuh belas dan abad kedelapan belas, filsafat abad kesembilan belas dan abad kedua puluh banyak bermunculan aliran-aliran baru dalam filsafat seperti positivisme, marxisme, eksistensialisme, pragmatisme, neokantianisme, neo-tomisme, dan fenomenologi.

Pemikiran pada zaman ini memfokuskan bahwa manusia adalah pusat kehidupan (Humanisme). Dengan berfikir bahwa manusia sebagai hal yang paling penting menimbulkan banyak pemikiran tentang kemasyarakatan semisal Empirisme, Idealisme, dan Politik (meskipun pada zaman klasik sudah disinggung).

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#zaman kegelapan #Yunani kuno #modern #Filsafat #abad pertengahan