JawaPos.com — Aliansi BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) terus memperkuat upaya dedolarisasi dalam perdagangan internasional. Rusia sebagai salah satu anggota utama mendorong negara-negara berkembang untuk bertransaksi menggunakan mata uang lokal, mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Sebagai bukti konkret, perdagangan antara Rusia dan Belarusia pada 2024 berhasil mencatat transaksi sebesar USD 37 miliar (sekitar Rp 600 triliun). Transaksi tercatat pada Januari–September itu menggunakan mata uang lokal. Angka tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 8,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Presiden Rusia Vladimir Putin aktif mengajak negara-negara mitra untuk meninggalkan dolar AS dalam perdagangan lintas negara. Strategi itu tidak hanya menjadi bagian dari upaya Rusia mengatasi sanksi ekonomi Barat, tetapi juga menciptakan peluang bagi negara lain untuk mempertimbangkan jalur serupa. Menurut Putin, inisiatif tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap stabilitas ekonomi dan keuangan negara-negara berkembang.
’’Indikator pertumbuhan perdagangan yang meningkat adalah bukti nyata efisiensi integrasi Rusia-Belarusia. Alexander Grigoryevich Lukashenko (presiden Belarusia) telah menyampaikan proyeksinya untuk angka perdagangan tahun ini. Saya percaya, proyeksi tersebut akurat,’’ ujar Presiden Rusia Vladimir Putin dilansir watcher.guru kemarin (1/1).
’’Pada akhir tahun (2024), kemungkinan besar angkanya akan mendekati yang diproyeksikan Presiden Lukashenko,” tambahnya.
Misi utama berdirinya BRICS adalah berupaya membangun sistem ekonomi alternatif yang tidak bergantung pada dolar AS. Negara berkembang diberi peluang untuk melakukan transaksi secara langsung dalam mata uang mereka sendiri. Jika tren itu berlanjut, dominasi dolar sebagai mata uang cadangan dunia dapat tergerus secara bertahap.
Meski demikian, transisi tersebut memunculkan tantangan besar. Terutama terkait stabilitas dan kepercayaan terhadap mata uang lokal. Keberhasilan inisiatif itu sangat bergantung pada kemampuan negara-negara BRICS untuk membangun infrastruktur keuangan yang mendukung transaksi lintas batas secara aman dan efisien.
Langkah Rusia dan Belarusia dapat menjadi preseden bagi negara-negara lain yang ingin memperkuat kedaulatan ekonomi mereka. Dengan semakin banyak negara yang terlibat, perubahan dalam arsitektur keuangan global tampaknya tidak dapat dihindari dalam beberapa tahun mendatang. (din/c6/bay)
Editor : Hendra