JawaPos.com – Dalam dunia psikologi, beberapa kebiasaan yang digemari anak muda ternyata bisa berdampak buruk pada kondisi fisik maupun kesehatan mental mereka.
Kebiasaan yang sekilas terlihat menyenangkan sering kali menyimpan konsekuensi tersembunyi terhadap kesejahteraan psikologis generasi muda.
Anak muda umumnya mengikuti tren tanpa mempertimbangkan dampaknya, dan psikologi memberikan sinyal waspada terhadap pola perilaku semacam ini.
Oleh karena itu, penting bagi anak muda untuk menyeimbangkan kesenangan dengan kesehatan mental sejak dini agar terhindar dari efek negatif jangka panjang.
Mengutip geediting.com pada Selasa (1/7), berikut delapan kebiasaan populer di kalangan anak muda yang justru berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental menurut pandangan psikologi:
1. Bermain ponsel hingga larut malam
Daya tarik dunia digital memang kuat, terutama saat malam ketika seharusnya tubuh mendapatkan waktu tidur yang berkualitas.
Banyak anak muda terjebak dalam kebiasaan bermain ponsel hingga larut malam, baik untuk berselancar di media sosial maupun menonton serial.
Tindakan ini bisa mengganggu siklus tidur alami dan memicu ketegangan mata akibat paparan layar secara berlebihan.
Cahaya biru dari gawai di malam hari dapat mengacaukan jam biologis tubuh dan membuat otak keliru mengira hari masih siang.
Akibatnya, seseorang mengalami kesulitan tidur dan kualitas istirahat terganggu.
Selain itu, pikiran pun dipenuhi informasi yang tidak perlu, menyebabkan kebisingan mental ketika seharusnya otak beristirahat.
Baca Juga: 9 Cara Ampuh Mengatasi Kantuk saat Bekerja, Dijamin Produktivitas Kembali Meningkat!
2. Melewatkan sarapan pagi
Rutinitas pagi yang padat kerap membuat sebagian orang langsung meneguk kopi dan pergi tanpa sempat sarapan.
Padahal, setelah semalaman tidak makan, tubuh memerlukan energi baru untuk memulai hari.
Mengabaikan sarapan justru memperpanjang waktu tanpa asupan makanan, sehingga berisiko menimbulkan rasa lapar berlebihan saat siang.
Hal ini dapat memicu pola makan berlebihan, berat badan naik, dan kurangnya nutrisi penting.
Tanpa energi cukup di pagi hari, tubuh cenderung lesu sepanjang waktu.
Bahkan, suasana hati pun dapat terpengaruh negatif saat tubuh tidak mendapatkan “bahan bakar” yang dibutuhkan untuk berfungsi optimal.
3. Gaya hidup kurang gerak
Kemajuan teknologi membuat banyak aktivitas bisa dilakukan dengan mudah dari satu tempat, mulai dari bekerja, bermain, hingga berbelanja.
Kenyamanan ini mendorong gaya hidup yang minim aktivitas fisik di kalangan anak muda.
Duduk terlalu lama berkaitan dengan risiko kesehatan serius seperti obesitas, gangguan jantung, dan beberapa jenis kanker.
Selain dampak fisik, gaya hidup pasif juga dapat meningkatkan risiko gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.
Yang mengejutkan, meski seseorang rutin berolahraga, tetap duduk sepanjang hari tetap berdampak buruk bagi tubuh.
Inilah yang disebut sebagai “active couch potato syndrome”, menegaskan pentingnya untuk tetap aktif sepanjang hari, bukan hanya saat berolahraga.
4. Terlalu sering makan makanan olahan
Makanan seperti burger, kentang goreng, pizza, dan minuman bersoda memang praktis dan lezat.
Namun, makanan olahan cenderung mengandung lemak jahat, gula, dan garam dalam kadar tinggi.
Jika dikonsumsi secara berlebihan, makanan ini bisa menyebabkan kenaikan berat badan, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, hingga diabetes.
Tak hanya merusak fisik, pola makan seperti ini juga dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan suasana hati seperti depresi dan kecemasan.
Sebaliknya, makanan alami seperti buah, sayur, protein sehat, dan biji-bijian dapat memberikan nutrisi penting bagi tubuh.
Jenis makanan tersebut juga terbukti membantu meningkatkan kesejahteraan emosional secara menyeluruh.
5. Mengabaikan perawatan diri
Dengan tekanan dari berbagai tanggung jawab seperti pekerjaan, tugas sekolah, atau aktivitas sosial, banyak orang melupakan pentingnya merawat diri.
Sering kali, kebutuhan pribadi dianggap kurang penting dibanding hal lain yang tampak lebih mendesak.
Padahal, merawat diri bukanlah bentuk kemewahan, melainkan kebutuhan mendasar untuk menjaga kesehatan jiwa dan raga.
Mengabaikan kebutuhan dasar seperti tidur, makan sehat, dan kesehatan emosional dapat menyebabkan kelelahan berat dan akhirnya burnout.
Tak ada pencapaian apa pun yang sebanding jika harus mengorbankan kesejahteraan diri sendiri.
Memberi waktu untuk merawat diri setiap hari, sekecil apa pun bentuknya, merupakan investasi yang sangat berharga.
6. Ketergantungan berlebihan pada kafein
Kafein sering dijadikan “penyelamat” untuk melawan rasa kantuk, menyelesaikan tugas malam, atau mengatasi lelah saat sore hari.
Banyak orang merasa tidak bisa beraktivitas tanpa asupan kafein yang terus meningkat setiap harinya.
Konsumsi kafein berlebihan bisa menimbulkan dampak negatif seperti gangguan tidur, tekanan darah naik, masalah pencernaan, hingga serangan panik.
Semakin sering mengonsumsi kafein, tubuh akan menuntut dosis lebih besar untuk efek yang sama, menciptakan siklus ketergantungan.
Saat asupan dikurangi, gejala putus kafein bisa muncul dan mengganggu aktivitas.
Mengurangi kafein secara perlahan dan menggantinya dengan minuman sehat seperti teh herbal atau air putih bisa membantu tubuh beradaptasi.
7. Mengabaikan kesehatan mental
Dalam kesibukan menjaga kebugaran fisik, pekerjaan, atau hubungan sosial, aspek kesehatan mental kerap terabaikan.
Padahal, jika diabaikan, kesehatan mental bisa menurun dan menimbulkan berbagai gangguan seperti stres berat, depresi, dan kecemasan.
Perlu disadari bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kondisi fisik dalam menciptakan kualitas hidup yang baik.
Menerapkan kebiasaan seperti meditasi, relaksasi, atau yoga bisa menjadi langkah awal untuk menjaga ketenangan batin.
Jika merasa tidak mampu mengelola tekanan hidup, mencari bantuan profesional merupakan tindakan bijak, bukan kelemahan.
Menyadari bahwa tidak selalu harus merasa baik-baik saja adalah bagian dari proses menjaga kesehatan mental yang sehat.
8. Kurangnya rutinitas aktivitas fisik
Olahraga adalah salah satu cara terbaik untuk menjaga tubuh dan pikiran tetap sehat.
Aktivitas fisik membantu menjaga berat badan, mencegah penyakit, dan juga memberikan manfaat mental seperti mengurangi stres dan meningkatkan kualitas tidur.
Namun, masih banyak anak muda yang kurang berolahraga karena alasan seperti kesibukan, kurangnya minat, atau motivasi.
Padahal, manfaat olahraga teratur sangat penting untuk kesehatan jangka panjang.
Tidak harus melakukan aktivitas berat; hal-hal sederhana seperti berjalan kaki, naik tangga, atau menari dapat memberi manfaat besar.
Langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten bisa memberikan dampak positif bagi tubuh dan pikiran. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah