Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Benarkah Gen Z Pemalas? Simak 11 Alasan Logis Mengapa Mereka Putus Asa hingga Menolak Tawaran Kerja

Indira Defa Fortuna • Minggu, 23 Februari 2025 | 13:30 WIB
Ilustrasi Gen Z. (Pexels)
Ilustrasi Gen Z. (Pexels)

JawaPos.com – Banyak orang sepakat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, dinamika kehidupan telah berubah secara drastis, termasuk lonjakan harga barang yang semakin membebani keuangan.

Di tengah meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian masa depan, banyak anak muda dari Generasi Z atau Gen Z mulai merasa putus asa dalam mencari pekerjaan. Bagi mereka, apa gunanya bekerja jika di usia hampir 30 tahun pun mereka masih kesulitan mencukupi kebutuhan dasar?

Selain itu, ketidakstabilan dunia kerja juga menjadi pertimbangan. Tawaran gaji yang tidak sebanding dengan beban kerja, serta risiko tergantikan oleh kecerdasan buatan (AI), membuat mereka semakin ragu untuk terjun ke dunia korporat.

Meskipun generasi sebelumnya—seperti baby boomer, Gen X, dan millennial—sering mengkritik etos kerja Gen Z, ada alasan yang masuk akal mengapa banyak anak muda kini kehilangan minat pada pekerjaan konvensional. Berikut adalah 11 alasan utama yang membuat mereka semakin enggan terikat pada dunia kerja korporat, seperti dirangkum dari YourTango pada (21/1):

1. Tidak Ada Fleksibilitas

Gen Z, terutama yang masih muda, sering kali berada dalam posisi sulit. Mereka diharapkan untuk sepenuhnya berkomitmen pada pekerjaan, padahal mereka juga memiliki kehidupan pribadi yang perlu diurus.

Banyak dari mereka masih berkuliah, merawat keluarga, atau memiliki tanggung jawab lain yang membutuhkan fleksibilitas dalam hal waktu dan lokasi kerja. Sayangnya, masih banyak perusahaan yang belum memahami pentingnya fleksibilitas ini, sehingga para pekerja muda kerap terjebak dalam situasi yang sulit.

Sebagai contoh nyata, penulis pernah menyaksikan sendiri seorang teman yang justru diminta untuk berhenti kuliah oleh atasannya ketika ia melamar pekerjaan paruh waktu di semester lima. Hal ini menunjukkan betapa dunia kerja masih kurang mendukung keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional bagi generasi muda.

2. Ekspektasi Lembur Tanpa Dibayar

Kebanyakan orang di generasi tua akan menerima nasib begitu saja ketika atasan mereka datang di jam penghujung kerja dan menyuruh menyelesaikan tugas yang banyak isinya, meski menyita waktu pribadi yang berharga untuk beristirahat.

Namun tidak dengan Gen Z. Mereka sudah berani melawan jika disuruh kerja lembur tanpa jaminan upah tambahan.

3. Tidak Mau Berhubungan dengan Lingkungan Toxic

Hal ini bisa terjadi jika si pegawai Gen Z sudah pernah mengalami lingkungan kerja yang toxic sebelumnya.

Lingkungan kerja yang toxic akan berujung ke interaksi dari karyawan yang semakin berkurang, serta menyebarkan aura negatif antar pegawai yang dapat menyebabkan stres, burnout, kecemasan dan depresi.

Tetapi alih-alih memperbaiki struktur kerja, dunia korporat malah mengeluh bahwa calon pekerja yang lahir di tahun-tahun Generasi Z itu terlalu menuntut dan susah dikasih tahu.

4. Tidak Ada Jaminan Kesehatan

Generasi Z semakin selektif dalam memilih pekerjaan, terutama jika tidak ada jaminan kesehatan atau asuransi kecelakaan kerja. Meskipun kini semakin banyak perusahaan yang menawarkan kompensasi di bidang medis, cakupannya masih terbatas. Banyak yang hanya menanggung biaya dasar, sementara perawatan mata, gigi, hingga kesehatan mental masih sering diabaikan.

Akibatnya, banyak pekerja yang tetap harus merogoh kocek sendiri untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan yang layak.

Di Amerika Serikat, berdasarkan riset KFF tahun 2024, mayoritas buruh lebih memilih menahan sakit dan tetap bekerja karena perusahaan mereka tidak menyediakan jaminan kesehatan yang memadai. Bahkan, bukan hanya pekerja—setengah dari populasi AS masih kesulitan membayar tagihan sebesar $500 tanpa harus berutang. Situasi ini semakin memperjelas betapa pentingnya tunjangan kesehatan dalam dunia kerja modern.

Baca Juga: Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren (Pospekot) Tangsel 2025 Resmi Dibuka, Ajang Santri untuk Unjuk Bakat

5. Gaji Tak Sesuai Biaya Hidup

Meskipun Upah Minimum Regional (UMR) telah disesuaikan dengan biaya hidup di setiap daerah, masih banyak perusahaan yang enggan membayar sesuai standar tersebut. Berbagai alasan dikemukakan, mulai dari efisiensi biaya hingga kebijakan internal perusahaan.

Padahal, pekerja tidak akan bersedia bekerja keras jika hanya dibayar dengan upah yang tidak mencukupi. Mereka memiliki berbagai kebutuhan dasar, seperti sewa atau cicilan tempat tinggal, transportasi, tagihan listrik dan air, serta beban keuangan lainnya. Di Amerika Serikat, misalnya, banyak lulusan yang harus membayar pinjaman pendidikan (student loan), yang semakin menambah tekanan finansial.

Ironisnya, banyak lowongan kerja saat ini justru menawarkan gaji di bawah standar minimum. Bahkan, menurut surat terbuka dari National Association of Colleges and Employers (NACE), sebanyak 41 persen program magang tidak memberikan bayaran sama sekali. Ini menimbulkan pertanyaan besar, untuk apa membayar biaya kuliah yang mahal jika pada akhirnya harus bekerja tanpa penghasilan

6. Mikro-manajemen dari Atasan

Punya bos yang selalu berkomentar atas performa karyawannya demi kesempurnaan tentu mengganggu. Gaya manajemen seperti itu hanya akan membuat pegawai, tak peduli dia termasuk Gen Z atau bukan, cepat-cepat keluar karena tidak mau bosnya memberi beban yang tidak perlu.

Baca Juga: Lelah setelah Berkeliling Kota? Ini 5 Rekomendasi Hotel untuk Menginap di Tangerang Selatan

7. Tidak Ada Peluang Naik Pangkat

Banyak orang beranggapan bahwa loyalitas terhadap perusahaan akan berujung pada promosi dan kenaikan gaji. Sayangnya, kenyataan tidak selalu seperti itu.

Tidak adil jika seorang pegawai yang telah bekerja keras selama bertahun-tahun tetap berada di posisi yang sama tanpa ada peningkatan karier. Apalagi jika mereka sudah memiliki pengalaman lebih dari dua atau tiga tahun, latar belakang pendidikan yang mumpuni, serta etos kerja yang baik.

Namun, masih banyak perusahaan yang enggan memberikan kenaikan gaji kepada karyawannya. Hal ini tidak hanya terkesan eksploitatif, tetapi juga menjadi alasan bagi pencari kerja dari Generasi Z untuk menghindari perusahaan semacam ini. Bagi mereka, jika tidak ada prospek pengembangan karier yang jelas, lebih baik mencari peluang di tempat lain yang lebih menghargai kontribusi karyawan.

8. Hierarki Korporat

Favoritisme di lingkungan kerja bukanlah hal baru, tetapi dampaknya bisa sangat merugikan karyawan muda. Sering kali, pekerja yang lebih lama berada di perusahaan mendapatkan perlakuan istimewa, seperti kelonggaran dalam absen atau fleksibilitas dalam menyelesaikan tugas.

Baca Juga: Peron Jalur 1 di Stasiun Tanah Abang Baru Kini Dibuka untuk Pengguna Commuter Line, Ini Rincian Jalur yang Berubah

Sebaliknya, karyawan baru—terutama dari Gen Z—harus berusaha lebih keras untuk membuktikan diri. Sayangnya, meskipun sudah bekerja dengan maksimal, tidak ada jaminan bahwa mereka akan mendapatkan apresiasi yang setimpal.

Situasi yang tidak adil ini menjadi salah satu pemicu utama burnout dan membuat generasi muda enggan bekerja di kantor yang tidak memberikan kesempatan yang sama bagi semua pegawai.

9. Ekspektasi Tidak Realistis

Pernah menemukan deskripsi pekerjaan yang terasa terlalu berat untuk dikerjakan sendiri? Ini menjadi masalah yang semakin sering terjadi.

Generasi Z sebenarnya tidak keberatan menghadapi tantangan di tempat kerja, asalkan mereka mendapatkan akomodasi dan kompensasi yang setimpal. Sayangnya, tunjangan tambahan seperti bonus atau fasilitas kerja yang mendukung kini semakin langka.

Jika perusahaan tidak mau menyesuaikan ekspektasi dengan sumber daya yang ada, mereka harus siap menghadapi lonjakan permintaan resign. Pada akhirnya, hal ini juga dapat berdampak pada profit perusahaan yang merosot akibat tingginya turnover karyawan.

10. Pelatihan yang Kurang Mumpuni

Baca Juga: Jangan Sampai Kehabisan! KAI Tambah 538.280 Kursi untuk Mudik Lebaran 2025, Ini Jadwal Pemesanan Tiketnya

Tidak semua lulusan baru memiliki pengalaman magang atau pelatihan yang cukup sebelum memasuki dunia kerja. Terlebih lagi, sebagian besar Gen Z yang lahir antara 1997 hingga 2002 lulus kuliah di tengah pandemi Covid-19, yang membatasi kesempatan mereka untuk mendapatkan pengalaman langsung di dunia kerja.

Sayangnya, masih banyak perusahaan yang terburu-buru dalam menempatkan karyawan baru tanpa memberikan pelatihan keterampilan yang memadai. Akibatnya, mereka kesulitan untuk memenuhi ekspektasi perusahaan, padahal sebenarnya mereka hanya membutuhkan bimbingan yang lebih baik.

11. Cuti Tidak Dibayar

Setiap pekerja, tanpa memandang generasi, membutuhkan waktu istirahat. Baik untuk keperluan darurat maupun sekadar memulihkan tenaga, cuti berbayar menjadi faktor penting dalam kesejahteraan karyawan.

Namun, masih banyak perusahaan yang enggan memberikan jatah cuti berbayar yang memadai. Hal ini membuat pekerja merasa tidak dihargai dan semakin mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan yang lebih memberikan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#putus asa #Gen Z #generasi z #toxic #kerja #pekerjaan