Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

HanaShura: Anime Karya Ayano Takeda yang Kisahkan Indahnya Laung Mekar sang Bunga yang Jadi Surat Cinta dari Masa SMA

Erie Dewangga • Kamis, 20 Februari 2025 | 15:00 WIB

Hana Haruyama, tokoh utama dalam anime HanaShura
Hana Haruyama, tokoh utama dalam anime HanaShura
JawaPos.com - Apakah anda gemar membaca karya sastra seperti puisi, novel, dan cerpen; atau anda pernah ikut ekskul broadcasting? Jika iya, ada satu judul anime di musim dingin ini yang cocok untuk diikuti setiap minggunya. Yuk, simak daya tarik kegiatan sastra yang dipadukan dengan ekskul penyiaran yang tersaji dalam serial HanaShura.

Satu Lagi Karya Dramatis dari Penulis Hibike! Euphonium

Anime bergenre drama dengan tema kehidupan sekolah ini merupakan proyek adaptasi dari seri manga berjudul sama, yaitu Hana wa Saku Shura no Gotoku atau The Flower Blooms Like Ashura, yang dikarang oleh Ayano Takeda, penulis dari serial Hibike! Euphonium yang telah mendapatkan adaptasi 3 musim anime serta 4 judul film (Kitauji Koukou Suisougaku-bu e YoukosoTodoketai MelodyLiz to Aoi Tori, dan Chikai no Finale).

Diproduksi di bawah naungan Studio Bind, Ayumu Uwano, yang baru menjalani debutnya pada tahun 2019 sebagai sutradara untuk beberapa episode dari judul-judul seperti Hitoribocchi no 00 Seikatsu (eps. 10), Majo no Tabitabi (eps. 1, 5, dan 8), OniMai (eps. 7), serta musim kedua dari Mushoku Tensei (eps. 1 dan 6), dipercaya penuh untuk mengarahkan proses adaptasi serial yang menghangatkan hati ini.

Hampir serupa dengan Hibike! Euphonium, dalam Hana wa Saku Shura no Gotoku, Ayano Takeda masih mengangkat kegiatan ekstrakurikuler sebagai sarana penggerak plot dalam cerita karangan-nya. HibiEupho dengan ekskul orkes tiup atau wind ensemble, sedangkan HanaShura dengan ekskul penyiaran atau broadcasting. Keduanya sama-sama menjadi semacam surat cinta dari masa SMA siapa saja, yang begitu cepat berlalu tapi kenangannya tak akan pernah layu.

Baca Juga: Rekomendasi 7 Anime dengan Latar Belakang Budaya Tiongkok: Penuh Intrik, Kisah Asmara Kerajaan, sampai Cara Memasak Makanan

HanaShura berkisah tentang Hana Haruyama (VA: Minori Fujidera), yang tinggal di pulau kecil bernama Tonakijima yang hanya berpopulasi 600-an orang, yang suka membacakan buku cerita untuk anak-anak di pulau itu. Kemampuan berceritanya tak tertandingi, dan Mizuki Usurai (VA: Miyuri Shimabukuro), ketua klub penyiaran dari SMA Sumomogaoka, langsung menyadari bakat Hana untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengajak mereka untuk ikut ke dalam dunia yang ia ceritakan.

Diundang oleh Mizuki yang ekspresif untuk bergabung, Hana yang pemalu pun memulai perjalanan barunya di klub penyiaran dan mengalami berbagai "pengalaman pertama" yang membawanya lebih menyadari kecintaannya terhadap kegiatan membaca bersama dengan pembimbing ekskul penyiaran, Hiromi Kichijouji (VA: Kouji Yusa), yang unik; para senior, seperti Ryouko Totonoi (VA: Kiyono Yasuno) yang suka sastra klasik serta Setarou Hakoyama (VA: Taito Ban) yang bersuara dalam dan rendah; juga teman-teman seangkatan, yaitu An Natsue (VA: Fuuka Izumi) yang benci kekalahan, Shuudai Touga (VA: Shouya Chiba) yang suka dengan suara, dan Matsuyuki Akiyama (VA: Seiichirou Yamashita) si Peringkat Satu.

Mengenal Keindahan Monolog: Menghidupkan Dunia Cerita Berbekal Seni Suara

Dalam beberapa tahun terakhir, ada lebih banyak anime yang berhubungan dengan sastra, tetapi menggabungkannya dengan kegiatan penyiaran merupakan sesuatu kebaruan. Pun pemilihan unsur monolog di dalamnya, ini mungkin bukan pilihan bagi banyak orang.

Monolog adalah saat seseorang membacakan sebuah frasa/cerita/puisi dengan nada suara dan jeda yang membuat pendengar yang mendengarnya, benar-benar memvisualisasikan cerita yang dibacakan di kepala mereka. Monolog memiliki arti yang sangat penting di Jepang, jadi bagi masyarakat Negeri Sakura hal ini mungkin indah, tetapi bagi yang lain, mereka mungkin menganggapnya membosankan.

Seperti yang telah disinggung di atas, bahwa anime HanaShura mengangkat kegiatan ekskul penyiaran sebagai poin utamanya. Sehingga, tak mengherankan jika anda akan mendapat banyak referensi terkait dunia broadcasting, mulai dari aspek produksi sampai dengan cara membaca yang baik dan benar.

Anda dapat melihat bahwa sang penulis, Ayano Takeda, telah menyelidiki subjek ekskul penyiaran secara mendalam untuk memasukkan semua elemen-nya tanpa membuat penonton bosan. Ia menciptakan karakter-karakter solid yang memiliki momen-nya masing-masing untuk menonjol dengan dialog yang sangat baik di sepanjang plot. Hal ini dapat dilihat pada momen-momen utama protagonis yang dipikirkan dengan baik sehingga tidak berulang-ulang sehingga pembaca tidak lelah memberikan dialog yang mengharukan.

Selain itu, serial anime ini juga membawa banyak sekali referensi dari dunia susastra, seperti puisi Haru to Shura karya Miyazawa Kenji (penulis A Night on the Galactic Railroad) yang dibawakan oleh tokoh Shura Saionji (VA: Youko Hikasa) yang diidolakan oleh Hana, atau Metamorfosis-nya Frans Kafka yang menjadi salah satu bahan yang akan dilombakan dalam kompetisi penyiaran nasional yang juga sempat direkomendasikan oleh An Natsue kepada Hana, Yume Jūya  atau Ten Nights of Dreams karangan Natsume Sōseki, serta masih banyak lagi karya-karya sastra yang lain.

Namun, mengingat apa yang jadi titik fokus anime ini dan bagaimana cara penyampaiannya, siapapun pasti merasa hal itu jauh lebih penting daripada yang mungkin disadari. Karena penyiaran membutuhkan banyak usaha, gairah, serta dorongan untuk melakukannya. Namun, bukan hanya perkara rasa saja, mampu menceritakan sebuah kisah, menarik minat pembaca, memiliki bakat dan gairah kreatif. Itu dapat menambahkan elemen yang sama sekali berbeda, dan cara Ayumu Uwano menangkapnya visi Ayano Takeda melalui animasi yang mengalir indah sungguhlah menawan dan menyenangkan untuk dilihat.

Anime ini memang menawarkan gaya animasi yang memukau, terutama jika dibandingkan dengan tayangan rata-rata yang ditayangkan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, tak hanya melalui apa yang nampak, seperti visual, skema warna, dan animasi, HanaShura juga sangat mengandalkan peran akting suara dari para aktor pengisi untuk menyampaikan pesonanya, dengan fokus pada pembacaan puisi sebagai bentuk seni, yang masuk akal karena anime ini merupakan media yang sangat bergantung pada keindahan seni suara.

Peran suara memanglah luar biasa, sebab suara bisa menghidupkan setiap paragraf dengan menciptakan suasana yang nyata dan mendalam, memberikan kehidupan pada kata-kata dan membuatnya terasa lebih dari sekadar teks yang ditulis di halaman buku.

Arahan Ayumu Uwano membuat penceritaan HanaShura begitu berdampak melalui suara, sehingga pada suatu waktu penonton tidak akan mendengar apa pun dalam sekejap, tetapi kemudian mengalir dengan mudah ke jenis trek yang berbeda yang secara alami mengalir dengan sangat baik bersama-sama, bertransisi dengan cara yang sopan dan hebat.

Awalnya, mungkin penampilan pembacaan puisi atau cerita terkesan biasa saja, tidak ada yang istimewa, sampai Hana melangkah maju dan membacakan puisi yang sama yang didengarnya di TV saat ia masih kecil, berdiri sendirian di pantai.

Adegan tersebut bisa dibilang merupakan titik awal yang akan membuat anda terpesona untuk mengikuti serial ini setiap minggunya. Suara Hana, melalui intonasi, nada, dan emosinya yang mendalam, benar-benar memikat. Bahkan jika anda belum akrab dengan sastra, apalagi memaknai puisi, anda akan tetap merasakannya atmosfer yang ada di sana. Sungguh luar biasa betapa suara Hana sendiri bergema melawan debur ombak serta desau angin pantai.

Tak dapat dipungkiri, bahwa penataan suara dan komposisi musik dalam anime ini cukup fenomenal. Setiap detail kecil, dari deburan ombak hingga musik latar belakang, dibuat dengan hati-hati, sehingga menjadikannya salah satu anime dengan suara terbaik musim ini. Desain suaranya adalah apa yang disebut sebagai kualitas film-angin, ombak, air, bahkan tanaman merambat, setiap suara terasa dibuat dengan cermat dan dimaksimalkan hingga titik tertingginya. Anda tidak hanya mendengarnya; anda benar-benar merasakannya.

Tak hanya itu, kualitas selama adegan pembacaan puisi terasa jauh lebih baik daripada pertunjukan biasa. Halus tetapi kuat, sempurna untuk jenis cerita yang diceritakannya.

Berbagai Cara untuk Pahami Sifat Para Karakter

Tak hanya membuat penonton terpukau dengan keindahan karya-karya sastra yang dibacakan melalui monolog, HanaShura juga mengajak anda untuk memperhatikan beberapa detail kecil yang tampil melalui mikroekspresi, simbol-simbol tertentu, dan bahkan bahasa bunga atau hanakotoba (yang sepertinya banyak dipengaruhi oleh gaya Naoko Yamada) yang benar-benar membuatnya menonjol sebagai sesuatu yang lebih yang menampilkan lapisan-lapisan kedalaman suatu karakter.

Flower and Ashura seolah mengambil ide dan presentasi yang sederhana, lalu melakukannya dengan cara yang paling kreatif. Cara-cara seperti menyorot langkah kaki, gerakan tangan, atau berbagai ekspresi tokoh dari jarak yang sangat dekat, benar-benar membawa gaya penceritaan anime jadi sesuatu yang sama sekali baru, yang membuat karakter-karakter di dalamnya, yang semula terlihat seperti karakter biasa yang pada umumnya cocok dengan latar sekolah, ternyata memiliki lebih banyak cita rasa, lebih menarik, miliki kedalaman sifat yang kompleks, dan terasa lebih dekat dengan para penontonnya.

Hal-hal yang demikian membuat pengenalan karakter jadi jauh lebih menyenangkan dan mengena bagi penonton. Membuatnya lebih seperti menonton untuk melihat serta mengalaminya sendiri; membiarkan para tokoh itu datang ke dalam hidup kita, dan membiarkan mereka mengekspresikan diri mereka sebagaimana adanya daripada membaca kata-kata di layar.

Laung Mekar sang Bunga bagaikan Asura: Sebuah Kisah tentang Masa Muda

Tetapi kembali ke ceritanya, HanaShura sangatlah berpotensi untuk benar-benar menarik minat penonton, terutama mereka yang akrab dengan dunia sastra dan penyiaran, seolah-olah ada lebih banyak hal daripada yang disadari tentangnya daripada yang ada di atas permukaan, dan bahwa serial ini menjamin siapa saja akan mengalami lebih banyak liku-liku emosi seiring berjalannya cerita.

Seolah-olah judulnya memiliki bunga dalam namanya, seolah-olah kita sedang menunggu untuk melihat bunga ini mekar menjadi kesuksesan, atau justru kegagalan. Membuat kita terus menerus dihantui oleh rasa harap-harap cemas yang meresahkan.

HanaShura, sama seperti karya terdahulu Ayano Takeda, adalah karya yang semarak dengan masa muda yang hadir untuk menggemakan semangat mengejar mimpi dan mencari jati diri; surat cinta dari masa SMA yang akan mengajak siapa saja untuk menjelajahi kembali berbagai emosi yang tercipta dalam kenangan-kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Baca Juga: Sinopsis Manga Tsureneko-Maruru to Hachi: Melihat dan Belajar Bagaimana Cara Para Kucing Liar Hidup di Jalanan

Editor : Candra Mega Sari
#hanashura #Ayano Takeda #anime #hanakotoba