JawaPos.com — Serial anime Houseki no Kuni atau Land of Lustrous diadaptasi dari manga karya Haruko Ichikawa yang diproduksi oleh Studio Orange (Beastars dan Trigun Stampede) di bawah arahan sutradara Takahiko Kyôgoku (Love Live! Superstar!!).
Anime ini memiliki nuansa filosofis dan penuh dengan metafora serta simbolisme, salah satunya melalui makna yang terkandung dalam bebungaan yang muncul di dalam cerita. Yuk, simak artikel berikut membahas hanakotoba dari bebungaan yang hadir dalam serial anime Houseki no Kuni.
Houseki no Kuni: Anime Filosofis tentang Pencarian Diri Sejati
Houseki no Kuni, atau Land of Lustrous, karya Haruko Ichikawa ini menceritakan bahwa di masa depan yang misterius, organisme kristal yang disebut dengan “Gems” atau permata antropomorfik adalah para penghuni dari dunia pasca-apokaliptik. Masing-masing permata ini diberi peran oleh Master Kongou untuk melawan Lunarian, spesies asing yang senantiasa menyerang serta menghancurkan tubuh para Gems dan menggunakannya sebagai perhiasan.
Phosphophyllite, yang juga dikenal sebagai Phos, adalah permata belia nan rapuh yang bermimpi untuk membantu teman-temannya berperang melawan Lunarian. Namun, sebab kerapuhan tubu-nya, ia pun hanya disuruh untuk menyusun ensiklopedia.
Setelah dengan berat hati memulai tugas ini, Phos lantas bertemu dengan Cinnabar, seorang gem cerdas yang bertugas untuk berpatroli di pulau terpencil pada malam hari karena racun korosif yang dihasilkan oleh tubuhnya. Setelah melihat betapa tidak bahagianya Cinnabar, Phos pun memutuskan untuk mencari perannya di dunia ini.
Hanakotoba: Berikan Kedalaman Makna Cerita Melalui Ragam Simbol dan Metafora
Dunia tempat di mana para permata ini hidup merupakan sebuah lanskap yang indah, tetapi tak diberkahi daya hidup. Terletak di sebuah pulau yang menyerupai sapuan kuas cat melengkung, Gems adalah satu-satunya makhluk yang cocok untuk lingkungan yang tidak ramah seperti itu.
Dengan nyaris punahnya makhluk hidup di dunia mereka, Houseki no Kuni memberikan kesan yang kuat dari betapa sedikitnya flora dan fauna yang masih ada. Hampir semua yang tersisa digunakan sebagai alat bantu cerita visual, yang paling jelas adalah kupu-kupu serta ragam bunga yang muncul selama diri Phos bertransformasi.
Kehadiran bunga-bunga ini tidak hanya mempercantik tampilan latar belakang pada visual anime Houseki no Kuni saja, tetapi juga memberikan kedalaman makna pada ceritanya, terutama karakterisasi tokoh utama serial ini, yaitu Phosphophyllite atau Phos.
Tanpopo: Simbol Harapan dan Terkabulnya Keinginan
Bunga pertama adalah benih dandelion (Taraxacum officinale) atau tanpopo (タンポポ).
Hanakotoba dari bunga yang sering kali dianggap sebagai gulma ini adalah keceriaan dan pemenuhan keinginan; sebab setelah tanpopo mekar ia akan meninggalkan biji putihnya yang mengembang dan, konon, meniup semua biji dari batangnya akan mengabulkan keinginan. Kepercayaan inilah yang menjadikan bunga randa tapak sebagai simbol harapan dan kekuatan untuk mewujudkan keinginan terdalam siapa saja. Pun, memberikan bunga ini kepada orang lain juga memiliki maksud untuk mendoakan orang yang sakit agar lekas sembuh, atau kebahagiaan di saat-saat tergelap dalam kehidupan. Namun, bunga ini juga dapat melambangkan perpisahan.
Pada sekuen ketika bunga ini muncul, Phos sejatinya masih mencari tujuan-nya. Saat itu ia berasumsi bahwa dirinya akan bergabung ke garis depan bersama dengan jajaran permata lainnya ketika Master Kongou memanggilnya. Harapan Phos seketika pupus saat sang Master meniup benih dandelion dari rambutnya dan memberi tahu bahwa ia ditugaskan untuk menyusun sebuah ensiklopedia. Alih-alih menerima tugasnya, Phos lebih terkesan untuk menunda setiap langkahnya hingga ia mengalami transformasi dramatis setelah mengalami sebuah tragedi.
Seperti yang telah disinggung di atas, serial Houseki no Kuni adalah tentang bagaimana Phos yang menemukan tujuannya—dengan demikian mengabulkan keinginan-nya—tetapi tidak dengan cara yang telah ia duga. Pemisahan, termasuk kehilangan ingatan dan menjauhkan diri dari orang lain, adalah bagian dari proses penemuan jati diri ini; dan semuanya dimulai ketika pertemuan-nya dengan Master Kongou.
Rabendā: Lambang Kesetiaan dan Pengabdian
Setelah Phos diberi tugas untuk membuat ensiklopedia oleh Master Kongou, ia pun berangkat untuk mencari Cinnabar dengan mengunjungi berbagai tempat—yang sebagian besar akan memiliki arti bagi Phos di kemudian hari dalam seri ini—sebelum akhirnya berdiri di ladang bunga ungu yang tampak seperti lavender atau lupine.
Bunga lavender (Lavandula sp.) atau rabendā (ラベンダー), dalam hanakotoba melambangkan kesucian, kehalusan, keanggunan, ketenangan, keheningan, pengabdian, dan kesetiaan.
Loyalitas Phos kepada Cinnabar, bahkan ketika si Permata Korosif secara aktif menjauhinya, menjadi kekuatan pendorong di balik transformasi Phos. Ketika si Permata Hijau Rapuh sejenak melupakan hubungan-nya dengan Cinnabar pada episode-episode selanjutnya, itu adalah momen yang menakjubkan sekaligus salah satu yang paling menyedihkan dalam seri ini.
Nobori Fuji: Lambang Daya Imajinasi, Kreativitas, serta Pertumbuhan
Sedangkan bunga lupine (Lupinus polyphyllus) atau nobori fuji (昇藤 のぼりふじ) miliki hanakotoba yang bermakna imajinasi, kreativitas, kekaguman, pertumbuhan, kebahagiaan utuh, ketenangan, keanggunan, dan ketekunan. Makna-makna ini pun masih sejalan dengan karakter Phos, dengan mana permata rapuh tersebut, suka-tidak suka, sadar-tidak sadar, akan terus tumbuh demi mencari kesejatian dirinya di sepanjang seri.
Suzuran: Simbol Pengorbanan dan Menemukan Kebahagiaan Kembali
Interaksi fisik pertama di antara Phos dengan Cinnabar terjadi ketika si Permata Rapuh menginjak genangan racun yang secara tidak sengaja membunuh seekor kupu-kupu, yang dalam anime Houseki no Kuni membawa pesan umum tentang transformasi, dan di sini mereka dipasangkan dengan bunga putih kecil yang menyerupai bunga lili lembah (Convallaria majalis) atau suzuran (鈴蘭).
Bunga lili of the valley, dalam hanakotoba bermakna sifat manis atau janji kebahagiaan. Selain itu, bunga ini juga melambangkan pengorbanan, bahaya, cinta yang suci, kerendahan hati, sikap manis, kemurnian, kebijaksanaan, serta menemukan kebahagiaan kembali. Karena sifatnya yang beracun (dan digunakan sebagai racun yang sebenarnya), bunga ini juga dapat berarti kesedihan, rasa sakit, atau kehilangan setelah kematian dalam floriografi Barat. Uniknya, bunga ini menyiratkan tingkat penderitaan dan keputus-asaan tertentu yang harus dilalui seseorang dalam hidup, dan bagaimana kerendahan hati juga berperan di dalamnya.
Makna-makna ini sangat merepresentasikan tokoh Cinnabar yang pada saat itu merasa kesepian dan mengusir permata-permata lain dari dirinya. Baik Cinnabar maupun Phos sama-sama tidak bergerak atau lebih tepatnya terjebak kubangan stagnasi—Phos, yang belum berubah; dan Cinnabar, yang tanpa tuju—seperti kupu-kupu yang mati. Bunga ini, walaupun tampak cantik dan beraroma manis, tetapi sejatinya beracun, mengingatkan pada karakteristik Cinnabar sendiri.
Ajisai: Lambang Harga Diri, Penyesalan, dan Permintaan Maaf
Ketika Phos mempertanyakan keputusan Master Kongou memberi Cinnabar pekerjaan yang tidak berarti dengan berpatroli di malam hari ketika Lunarian bahkan tidak aktif, ia meminta maaf kepada Phos dan memberi tahu mereka bahwa ia belum menemukan sesuatu yang lebih substansial untuk si Permata Merah. Ketika ia memberi tahu Phos tentang keputusan Cinnabar, tangan mereka terlihat menggapai bunga yang tampak seperti hortensia atau ajisai (紫陽花) dan geranium atau fûrosou (フウロソウ), yang kemudian terlihat luruh di dalam kotak bunga dari jendela kamarnya.
Meskipun hydrangea memiliki hanakotoba yang berbeda-beda tergantung dari warnanya. Dan pada serial ini, bunga tersebut hadir dalam warna biru dan agak keunguan yang dalam hanakotoba dimaknai sebagai permintaan maaf dan penyesalan (biru) serta harga diri (ungu).
Master Kongou adalah karakter berharga diri tinggi. Ia tidak banyak mengungkapkan hal kepada para permata, meskipun ia mengawasi perkembangan mereka sebagai sosok guru dan ayah. Phos, dan penonton, tidak tahu banyak tentang niatnya, tetapi kegagalannya untuk menemukan pekerjaan yang berarti bagi Cinnabar kemungkinan besar membuatnya, paling tidak, menjadi bagian kecil dari dunia mereka yang tidak dapat ia perbaiki.
Bunga ini juga miliki relasi yang lebih jelas dengan kebanggaan Cinnabar. Permata merah ini adalah salah satu permata paling sombong dalam serial Houseki no Kuni. Menyingkirkan diri secara paksa sebelum mereka dapat membahayakan orang lain sangat cocok dengan sifat Cinnabar yang peduli. Menerima "pekerjaan" untuk menutupi kebaikan mereka adalah aspek penting lain dari kepribadian-nya. Cinnabar tidak ingin dikasihani oleh siapapun. Melakoni pekerjaan seperti patroli malam, bahkan jika mereka dan permata lainnya tahu bahwa pekerjaan itu tidak penting, memungkinkan Cinnabar untuk melindungi harga diri mereka.
Fûrosou: Simbol Ungkapan Persahabatan, Perlindungan, dan Kebimbangan
Geranium atau fûrosou (フウロソウ) terkadang memiliki makna yang luas dalam hanakotoba atau bahasa bunga, mulai dari melambangkan cinta dan persahabatan, perlindungan dan rasa aman, harmoni dan keseimbangan, kestabilan dan kepercayaan diri. Di Jepang, khususnya, bunga ini dikenal sebagai tanaman sosial dan dapat diartikan sebagai ungkapan ketidakpercayaan atau keragu-raguan.
Meskipun bunga ini sering diberikan sebagai hadiah, tetapi geranium (khususnya dari jenis Pelargonium zonale atau geranium tapal kuda) dapat memiliki implikasi bahwa anda sedang menyebut seseorang bodoh atau dungu.
Dalam memisahkan diri dari permata lainnya dan memulai patroli malam karena kesombongan, Cinnabar bersikap sedikit bodoh. Ia tidak memiliki cukup keyakinan pada cinta orang lain, termasuk Master Kongou, tetapi ia cukup percaya pada cinta yang sama (dan kemudian Phos) untuk menunggu mereka membuat rencana yang berbeda.
Cinnabar adalah karakter yang bimbang. Pun, Master Kongou juga bimbang di sini. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan Cinnabar dan, jika dia dapat dipercaya, menerima saran si Permata Korosif untuk secara efektif mengkarantina dirinya sendiri dengan kedok berpatroli di pulau pada malam hari untuk membantu menyelamatkan muka permata lain.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah