JawaPos.com – Warga Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), tentu sudah mengenal Situ Gintung. Bendungan yang populer sebagai lokasi rekreasi yang indah ini ternyata memiliki latar belakang sejarah yang kelam.
Situ Gintung dibangun pada masa penjajahan Belanda tahun 1932-1933. Pada awalnya, Situ Gintung dengan kapasitas penyimpanan mencapai 2,1 juta meter kubik air berfungsi sebagai tempat penampungan hujan dan sumber perairan lahan pertanian.
Insiden jebolnya Situ Gintung pada 27 Maret 2009 menjadi peristiwa tragis yang tidak pernah terbayangkan oleh masyarakat sekitar. Banjir bandang terjadi secara tiba-tiba menyerupai gelombang tsunami yang dahsyat, sehingga banyak warga tak sempat melarikan diri.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sekitar 90 orang dilaporkan meninggal dunia, lebih dari 100 orang luka-luka, dan beberapa hilang tak ditemukan. Insiden ini juga membuat 178 bangunan mengalami kerusakan.
Kronologi Jebolnya Situ Gintung
Jauh sebelum jebol, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sempat meneliti kondisi Situ Gintung dan menemukan beberapa kejanggalan. BPPT juga telah menyarankan pihak pengelola untuk bertindak atas potensi risiko bendungan yang sudah tua tersebut.
Sayangnya, perbaikan hanya dilakukan di bagian hulu, sementara bagian hilir yang lebih berdampak jika terjadi kecelakaan tidak mendapat perhatian yang cukup.
Pada 26 Maret 2009, hujan deras mengguyur wilayah Ciputat, Tangerang Selatan, sepanjang hari. Keesokan harinya, pada 27 Maret 2009, sekitar pukul 04.30 WIB dini hari, Situ Gintung akhirnya melepaskan seluruh airnya, mengakibatkan banjir bandang yang menerjang permukiman di sekitarnya.
Kontroversi Penyebab Jebolnya Situ Gintung
Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum tahun 2004-2014 menyatkan bahwa Situ Gintung jebol dikarenakan intensitas hujan yang tinggi. Hal itu membuat tanah mengalami erosi dan tidak mampu menahan volume air.
Namun, pernyataan Djoko dibantah dalam artikel jurnal yang berjudul "Jebolnya Tanggul Situ Gintung (27 Maret 2009) Bukan Karena Faktor Curah Hujan Ekstrim" tahun 2010 karya Budi Harsoyo dari BPPT. Berdasarkan hasil analisis spasial dan hidrologi, hujan yang terjadi pada 26-27 Maret 2009 tidak terlalu berisiko terhadap kapasitas penyimpanan air di Situ Gintung.
BPPT beranggapan faktor utama insiden adalah usia bangunan tanggul yang sudah tua dan kondisi saluran pembuangan yang tidak berfungsi dengan baik. Selain itu, penyempitan saluran pembuangan juga menambah beban pada bendungan.
Baca Juga: Deretan Artis dan Rundown Lengkap Day 1, 2, 3 Event Tangsel Land di Bintaro Jaya Xchange Mall
Editor : Candra Mega Sari