JawaPos.com - Program Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) yang berada di bawah naungan Kementerian Sosial (Kemensos) terus berjalan di berbagai daerah, termasuk Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Namun, sejumlah siswa di SRMA 33 Kota Tangsel diketahui memilih mengundurkan diri karena tak sanggup menyesuaikan diri dengan pola hidup dan kedisiplinan yang diterapkan.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Tangsel Mohammad Ervin Ardani menjelaskan, dari 17 siswa asal Tangsel yang diterima di Sekolah Rakyat, kini tersisa 16 siswa aktif. Satu siswa resmi mengundurkan diri sejak September lalu.
"Sekarang tinggal 16 orang. Yang satu sudah mundur. Kalau dilihat sih penyebabnya bukan karena ekonomi, tapi lebih ke mental dan penyesuaian diri," kata Ervin kepada Jawa Pos, kemarin (20/10).
Dia menjelaskan, siswa Sekolah Rakyat tinggal di asrama yang sudah disediakan. Para siswa harus menjalani rutinitas ketat, seperti bangun pagi, mandi, sekolah dan kegiatan disiplin lainnya.
"Yang biasa nonton TikTok, bangun siang, atau merokok, tiba-tiba harus bangun pagi, nggak boleh pegang HP. Nah, itu yang bikin banyak yang nggak kuat. Walaupun alasannya macam-macam, tapi intinya ya soal mental dan kedisiplinan," ujarnya.
Secara keseluruhan, lanjut Ervin, berdasarkan data terakhir dari Kemensos, jumlah siswa di SRMA 33 Kota Tangsel saat ini ada 138 orang. Sebelumnya, jumlahnya mencapai 150 siswa, namun 12 di antaranya telah mengundurkan diri atau tidak melanjutkan.
"Yang mundur totalnya 12, dari semua kabupaten dan kota di Banten, kecuali Lebak. Kalau dari Tangsel tetap satu, belum ada perubahan sejak September," jelasnya.
Meski ada yang mundur, Ervin menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat tetap mendapat dukungan penuh dari Pemkot Tangsel. Menurutnya, program tersebut membuka kesempatan bagi anak-anak kurang mampu untuk memperoleh pendidikan dan pembinaan karakter secara menyeluruh.
"Saya pribadi sangat mendukung. Ini kesempatan besar bagi anak-anak untuk punya masa depan lebih baik. Sekolah Rakyat bukan hanya mengajarkan akademik, tapi juga membentuk karakter dan kedisiplinan. Kita ingin semua anak punya kesetaraan untuk meraih mimpi dan cita-cita," pungkasnya.
Editor : Hendra