Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Perang Apple vs Meta Memanas, Ada Perbedaan Pandangan Isu Privasi Pengguna

Hendra Eka • Senin, 23 Desember 2024 | 09:00 WIB

 

Meta vs Apple.
Meta vs Apple.

JawaPos.com – Perseteruan antara Apple Inc dan Meta Platforms kembali mencuat. Hal itu terkait permintaan interoperabilitas yang diajukan Meta. Apple mengkritik permintaan tersebut dengan alasan bahwa hal itu dapat membahayakan privasi dan keamanan data pengguna.

Sebagai informasi, interoperabilitas merujuk pada kemampuan sistem atau perangkat lunak yang berbeda untuk saling bekerja sama dengan lancar, berbagi data, atau mengintegrasikan layanan tanpa hambatan teknis. Dalam konteks ini, interoperabilitas memungkinkan aplikasi atau perangkat dari pihak ketiga untuk terhubung dan berfungsi dengan layanan atau ekosistem Apple, seperti iOS dan perangkat kerasnya.

Di bawah aturan Digital Markets Act (DMA) Uni Eropa yang mulai berlaku tahun lalu, Apple diwajibkan membuka akses bagi pesaing dan pengembang aplikasi untuk mengintegrasikan layanan mereka dengan ekosistem Apple, seperti dilansir dari Reuters, Jumat (20/12/2024).

Baca Juga: Indonesia Butuh Investasi Padat Karya, Menteri Rosan Optimistis Komitmen USD 1 Miliar dari Apple

Menurut laporan, Meta telah mengajukan 15 interoperabilitas, jumlah terbanyak dibandingkan perusahaan lain. Apple menyebut permintaan tersebut mencakup akses yang terlalu luas terhadap teknologi mereka.

’’Jika semua permintaan ini dikabulkan, aplikasi seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp dapat mengakses seluruh data pengguna, termasuk pesan pribadi, panggilan telepon, file, kalender, foto, hingga log aktivitas aplikasi,’’ tegas Apple dalam laporannya. Apple menilai permintaan ini dapat mengubah fungsi perangkat dengan cara yang berisiko bagi privasi dan keamanan pengguna.

Apple juga mengingatkan bahwa Meta sebelumnya telah beberapa kali dikenai denda terkait pelanggaran privasi di Eropa. Hal ini memperkuat kekhawatiran Apple terhadap potensi risiko yang ditimbulkan oleh permintaan interoperabilitas tersebut.

Sebaliknya, Meta menuding bahwa Apple menggunakan alasan privasi untuk menutupi tindakan yang dianggap antikompetitif. ’’Pada dasarnya, Apple sedang menyampaikan bahwa mereka tidak percaya pada interoperabilitas,’’ ujar juru bicara Meta, seperti dikutip dari Channel News Asia. ’’Setiap kali Apple dipertanyakan atas perilaku antikompetitif mereka, mereka selalu berlindung di balik alasan privasi yang sebenarnya tidak memiliki dasar yang kuat,’’ lanjut pihak Meta.

Di tengah perdebatan ini, Uni Eropa melalui Komisi Eropa telah meminta Apple untuk mematuhi aturan DMA. Dalam temuan awal yang dirilis pekan lalu, Komisi Eropa meminta Apple memberikan panduan yang jelas kepada pengembang aplikasi mengenai proses, kriteria, dan tenggat dalam menilai permintaan interoperabilitas.

Keputusan akhir terkait kepatuhan Apple terhadap DMA diharapkan diumumkan pada Maret 2025. Jika terbukti melanggar, Apple berisiko dikenai denda hingga 10 persen dari pendapatan global tahunan, yang setara dengan triliunan rupiah. (din/c19/bay)

Baca Juga: Meta AI Resmi Hadir di WhatsApp Indonesia, Begini Cara Berinteraksi dalam Bahasa Indonesia

Editor : Hendra
#DMA #privasi #apple #meta #ios