JawaPos.com – “... It is my pleasure, as the special envoy of the President of the Republic of Indonesia to announce Indonesia’s intention to join BRICS and become it’s member...”
Masih ingat dengan pernyataan yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono pada KTT BRICS di Kazan, Rusia (24/10) silam? Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sugiono sebagai wujud ketertarikan Indonesia untuk bergabung dalam organisasi antarpemerintah BRICS.
BRICS atau Brazil, Rusia, India, China (Tiongkok), dan South Africa (Afrika Selatan) termasuk salah satu organisasi antarpemerintah berfokus pada ekonomi dan politik yang terbentuk pada tahun 2009 silam. Didirikannya BRICS memiliki tujuan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan politik antar anggota, serta memperkuat pengaruhnya di kancah dunia.
Proses terbentuknya BRICS serta anggota dan perannya selama hampir 15 tahun berdiri telah melewati peristiwa yang sangat panjang. Untuk lebih memahami konsep organisasi antarpemerintah BRICS, simak rangkuman sejarah, anggota, dan peran BRICS berikut ini.
Sejarah Terbentuknya BRICS
Singkatan atau sebutan BRICs sebenarnya muncul pertama kali pada tahun 2001 ketika Kepala Riset Ekonomi Global Goldman Sachs, Jim O’Neill menyebutkan bahwa Brazil, Rusia, India, dan China dapat menjadi negara yang mendominasi perekonomian global di abad ke-21 jika terus mempertahankan pertumbuhan ekonomi negaranya.
Lima tahun kemudian Menteri Luar Negeri setiap negara yang disebutkan oleh O’Neill melakukan pertemuan informal di tengah pertemuan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk membicarakan kemungkinan hubungan kerja sama dan kepentingan nasional masing-masing negara.
Setelah pertemuan informal pertama tersebut, kepala pemerintahan negara BRIC terus melakukan pertemuan, hingga pertemuan ‘perdana’ BRIC pada 16 Juni 2009 di Yekaterinburg, Rusia yang akhirnya meresmikan terbentuknya BRIC.
Sebutan BRIC akhirnya berubah menjadi BRICS ketika Afrika Selatan bergabung pada tahun 2010. Kehadiran Afrika Selatan sebagai anggota membuat BRICS dilihat sebagai sebuah wadah negara-negara dengan ekonomi yang masih berkembang untuk meningkatkan ekonomi negaranya melalui kolaborasi.
Pada perkembangan selanjutnya, BRICS dilihat sebagai wadah utama bagi negara berkembang untuk mempengaruhi kebijakan global dan dominasi ekonomi yang saat ini masih didominasi oleh Barat. Dalam arti lain kehadiran BRICS bertujuan untuk menciptakan sebuah keseimbangan pada tatanan dunia yang selama ini lebih condong dan kuat di Barat.
Negara Anggota BRICS
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa BRIC awalnya hanya memiliki empat negara anggota pada awal terbentuk. Di tahun selanjutnya yaitu pada 2010, barulah bergabung Afrika Selatan dan membuat BRIC mengubah sebutannya dengan BRICS.
Di perkembangan selanjutnya, BRICS memiliki beberapa negara anggota baru yang semuanya memiliki niat untuk melakukan kolaborasi dalam bidang ekonomi dan politik. Hingga saat ini (06/11), BRICS memiliki 10 negara anggota, dan beberapa negara yang memiliki niat dan keinginan untuk bergabung ke dalam BRICS, salah satunya Indonesia.
Negara anggota BRICS terdiri dari Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UAE). Sedangkan negara lain yang memiliki niat untuk bergabung ke dalam BRICS, masih memerlukan pertimbangan anggota tetap untuk dapat ditetapkan sebagai negara anggota BRICS.
Peran BRICS pada Tatanan Dunia
Setelah mengetahui sejarah dan anggota tetap organisasi antarpemerintah BRICS, selanjutnya perlu dipahami apa tujuan dan peran BRICS dalam tatanan dunia. Selain berusaha untuk menciptakan sebuah keseimbangan pada tatanan dunia, BRICS juga hadir untuk menciptakan peningkatan pada pembangunan.
Pada tahun 2014, negara anggota BRICS melakukan penandatanganan perjanjian dibentuknya New Development Bank (NDB). Disetujuinya NDB sebagai lembaga pinjaman bertujuan untuk membantu atau memberikan tambahan pada upaya pembangunan infrastruktur di negara anggota BRICS dan negara berkembang yang lain.
Saat NDB diresmikan, ke lima negara BRICS secara sama rata memberikan modal awal sebesar 10miliar USD. Modal tersebut berlaku sebagai pinjaman untuk negara anggota dan negara berkembang yang hendak membangun infrastruktur pada negaranya.
Selain membantu perekonomian dan perkembangan pembangunan di negara anggota dan negara berkembang. BRICS juga berperan dalam menemukan jalan keluar terhadap tantangan yang saat ini sedang dihadapi oleh dunia.
BRICS cukup vokal dalam membicarakan dan menyampaikan solusi terhadap masalah perubahan iklim yang sedang terjadi, serta upaya memulihkan ekonomi setelah terjadinya pandemi Covid-19 silam. Sebagai bentuk upaya ini, negara anggota BRICS pernah mengeluarkan pernyataan bersama (joint statement) mengenai tantangan dunia saat ini.
Editor : Hendra