JawaPos.com - Bulan Dzulhijjah kembali hadir, membawa peluang istimewa yang tidak semua hamba Allah dapatkan. Hal ini mengingatkan bahwa kita patut bersyukur karena masih diberikan nikmat hidup dan keimanan hingga hari-hari awal Dzulhijjah ini. Iman adalah anugerah yang tidak hanya diyakini, tetapi juga harus dibuktikan dalam tindakan.
Iman bukan hanya klaim semata, tapi harus dibuktikan lewat sikap dan tindakan. Ada dua bentuk pembuktian iman: mengerjakan perintah dan menjauhi larangan. Inilah yang disebut dalam Islam dengan amar ma’ruf dan nahi mungkar.
Baca Juga: Pasca Banjir 16 Titik di Tangsel: Simak Panduan Membersihkan Rumah Usai Air Surut
Indahnya Islam, setiap perintah dan larangan disertai alasan dan tujuan yang jelas. Tidak sekadar "kerjakan" atau "tinggalkan", tapi ada manfaat dunia dan akhirat yang menyertainya. Karena itu, setiap muslim dituntun untuk menjalani hidup dengan terang dan terarah.
Keistimewaan 10 Hari Dzulhijjah
Ustaz Adi Hidayat mengutip hadis sahih riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma. Nabi ﷺ bersabda: "ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر" yang artinya: "Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah selain dari sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah." Ini menandakan betapa istimewanya hari-hari ini.
Bahkan, sahabat bertanya, apakah amal di 10 hari ini lebih utama dari jihad di jalan Allah? Nabi ﷺ menjawab, iya—kecuali bagi mereka yang berjihad dengan seluruh jiwa dan hartanya lalu gugur dalam perjuangan. Artinya, nilai amal di 10 hari ini sangat tinggi, bahkan melebihi ibadah-ibadah besar.
Amal saleh tidak selalu berupa hal besar, kata Ustaz Adi Hidayat. Bisa berupa salat, tilawah, menyingkirkan duri dari jalan, atau membantu sesama dengan tulus. Yang penting niatnya karena Allah, maka nilainya bisa melampaui jihad fisabilillah.
Tak harus berharta, setiap orang bisa beramal sesuai kemampuan. Yang kuat secara fisik bisa beramal dengan tenaga, yang memiliki harta bisa berinfak, dan yang cerdas bisa menebar ilmu. Semua dinilai oleh Allah sesuai ketulusan niat dan kesungguhan usaha.
Amalan Khusus di Sepuluh Hari Dzulhijjah
Di 9 hari pertama Dzulhijjah, puasa sangat dianjurkan, terutama puasa Arafah pada tanggal 9. Dalam hadis disebut: "صيام يوم عرفة يكفر السنة الماضية والباقية" — "Puasa hari Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." Bagi yang mampu, kurban juga menjadi ibadah besar dengan nilai spiritual tinggi.
Menurut beliau, 10 hari ini menyempurnakan pelatihan Ramadan. Kita diajak menekan kesalahan, memperkuat kebaikan, hingga lahir pribadi yang disebut al-birr, dan jika konsisten disebut mabrur. Haji mabrur itu bukan hanya ritual, tapi perubahan nyata pada pribadi menjadi lebih baik.
Spirit Arafah dan Tasyriq
Bagi yang belum berhaji, kita tetap bisa merasakan makna Arafah. Di sana orang wukuf, di sini kita puasa, merenung, dan memperbaiki diri. Itulah makna "الحج عرفة" dan "صيام يوم عرفة", substansi spiritual yang sejatinya sama.
Hari ke-11, 12, dan 13 dikenal sebagai hari-hari tasyriq. Di masa itu, kita dianjurkan memperbanyak zikir: "وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ" – "Berzikirlah kepada Allah di hari-hari yang telah ditentukan." Ini bentuk ketundukan dan syukur setelah beribadah dan berkorban.
Jika ibadah ini dijalankan sungguh-sungguh, maka terbentuklah pribadi muslim yang unggul. Ia bukan hanya berubah secara spiritual, tapi juga berdampak sosial: tidak korupsi, tidak menipu, tidak zalim. Baik sebagai pemimpin, guru, pedagang, ayah, atau ibu—semua menjadi lebih dekat dengan takwa.
Baca Juga: Taman Edukasi Ganespa: Harmoni Alam, Edukasi, dan Komunitas di Pamulang
Editor : Candra Mega Sari