JawaPos.com - Konfilk atau pertengkaran adalah bagian alami dari setiap hubungan, termasuk dalam kehidupan keluarga. Namun, ketika pertengkaran terjadi di hadapan anak-anak, hal ini dapat menimbulkan dampak psikologis yang tidak boleh diabaikan.
Lalu, bagaimana anak merespons pertengkaran orang tuanya? Dilansir dari peacefulparenthappykids.com, banyak ahli di masa lalu percaya bahwa melihat orang tua bertengkar bukanlah masalah besar, selama anak-anak juga menyaksikan proses rekonsiliasi setelahnya.
Namun, penelitian terbaru di bidang neurologi menunjukkan bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya benar.
Ketika anak-anak mendengar suara kemarahan yang meledak-ledak, kadar hormon stres dalam tubuh mereka meningkat. Bahkan bayi yang sedang tidur pun dapat merasakan perubahan itu dan mengalami lonjakan zat kimia stres yang memerlukan waktu lama untuk mereda.
Ketakutan yang muncul akibat melihat orang tua bertengkar dapat bertahan dalam jangka panjang. Anak-anak mungkin mengalami kecemasan, kesulitan tidur, atau menunjukkan perilaku negatif seperti pembangkangan.
Lebih buruk lagi, jika mereka terus-menerus menyaksikan orang dewasa menyelesaikan konflik dengan teriakan atau sikap kasar, mereka bisa menganggap bahwa cara tersebut adalah hal yang wajar dalam menghadapi perselisihan.
Bagaimana Cara Menunjukkan Ketidaksepakatan yang Sehat di Depan Anak?
Perbedaan pendapat dalam rumah tangga adalah hal yang wajar, dan anak-anak justru dapat belajar dari ketidaksepakatan yang disampaikan dengan penuh rasa hormat. Jika orang tua dapat mendiskusikan perbedaan dengan tenang dan saling memahami, anak-anak akan belajar bahwa konflik bisa diselesaikan tanpa harus berteriak atau bersikap kasar.
Namun, jika perdebatan mulai memanas hingga keluar dari batas yang sehat, penting bagi orang tua untuk menunda diskusi dan melanjutkannya secara pribadi.
Salah satu cara efektif adalah dengan menetapkan kode atau frasa khusus yang menandakan bahwa pertengkaran perlu dihentikan sementara, seperti "Oke, kita bicarakan nanti saat lebih tenang".
Selain itu, menunjukkan sikap hangat setelah diskusi juga penting. Menutup perdebatan dengan pelukan atau senyuman dapat membantu anak merasa lebih tenang, sehingga mereka memahami bahwa perbedaan pendapat bukan berarti hubungan menjadi hancur.
Bagaimana Jika Anda Terlanjur Bertengkar di Depan Anak?
Jika Anda dan pasangan sempat bertengkar dengan nada tinggi di hadapan anak, jangan panik. Dampak negatif biasanya muncul dari pengalaman yang berulang, bukan dari satu kejadian saja.
Untuk memperbaiki situasi, cobalah melihat hubungan Anda dari sudut pandang anak. Ajukan beberapa pertanyaan berikut:
- Apakah Anda dan pasangan tetap berbicara dengan sopan meskipun tidak sepakat?
- Apakah nada suara tetap tenang?
- Apakah Anda mengekspresikan kebutuhan tanpa menyalahkan satu sama lain?
- Apakah suasana rumah tetap hangat dan penuh dukungan?
- Apakah anak melihat tanda-tanda kasih sayang dan kemurahan hati dalam hubungan Anda setiap hari?
- Apakah ada lebih banyak interaksi positif dibanding negatif?
Jika jawabannya "tidak" pada beberapa pertanyaan di atas, mungkin inilah saatnya untuk mengevaluasi kembali cara Anda menangani konflik.
Mengadopsi kebiasaan berkomunikasi yang lebih sehat bukan hanya baik bagi hubungan Anda, tetapi juga menjadi contoh berharga bagi anak dalam menghadapi perselisihan dengan cara yang lebih dewasa dan penuh pengertian.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah