Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Tujuh Ciri Kepribadian Orang yang Suka Berpura-pura Sibuk Menurut Psikologi, Butuh Validasi?

Nurul Fitriyah • Kamis, 19 Desember 2024 | 14:30 WIB
Ilustrasi orang yang berpura-pura lebih sibuk dari sebenarnya
Ilustrasi orang yang berpura-pura lebih sibuk dari sebenarnya

JawaPos.com – Perilaku berpura-pura sibuk sering kali dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun tampak seperti orang dengan jadwal yang padat, kenyataannya ada banyak faktor psikologis yang mendasari hal tersebut.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah keinginan untuk terlihat sibuk, yang sering kali berkaitan dengan perasaan tidak aman. Dengan mengetahui tanda-tanda perilaku ini, seseorang bisa lebih bijaksana dalam menilai interaksi sosial.

Penting untuk memahami ciri-ciri orang yang berpura-pura sibuk karena dapat memberi gambaran tentang kondisi emosional mereka. Hal ini juga dapat membantu membangun empati dan memperbaiki cara berkomunikasi.

Berikut tujuh ciri kepribadian orang yang berpura-pura lebih sibuk dari sebenarnya berdasarkan psikologi dilansir dari laman Baselinemag oleh JawaPos.com, Kamis (19/12):

1) Kebutuhan Validasi Diri

Orang yang berpura-pura lebih sibuk sering kali memiliki kebutuhan besar untuk validasi diri. Mereka merasa perlu menunjukkan kesibukan sebagai bukti bahwa mereka dihargai dan penting.

Perilaku ini sering kali muncul karena kurangnya rasa percaya diri atau harga diri yang rendah. Dengan terus-menerus menyatakan diri sibuk, mereka mencari pengakuan dari orang lain.

Kebutuhan untuk dipandang sukses atau dibutuhkan menjadi pendorong utama di balik sikap ini. Hal ini menggambarkan ketidakamanan pribadi yang lebih dalam dan bukan situasi sesungguhnya.

2) Takut Waktu Henti

Beberapa orang merasa cemas saat tidak ada kegiatan yang harus dilakukan. Waktu senggang menjadi hal yang mengganggu, karena mereka takut harus menghadapi perasaan atau pikiran sendiri.

Perasaan ini mengarah pada upaya untuk menghindari waktu henti dengan berpura-pura sibuk. Orang-orang ini lebih memilih untuk terus bergerak, meski terkadang kegiatan yang mereka lakukan tidak penting.

Ketakutan terhadap waktu henti ini menciptakan perasaan tidak nyaman yang mengarah pada perilaku yang tampak sibuk. Memahami hal ini dapat memberikan wawasan tentang bagaimana membantu mereka menemukan cara yang lebih sehat untuk mengatasi kecemasan.

Baca Juga: Dirut BTN Usulkan Kombinasi Skema Subsidi Bunga-FLPP, Untuk Program 3 Juta Rumah yang Tidak Bergantung APBN

3) Kebiasaan Menunda

Penundaan tugas adalah salah satu alasan mengapa orang berpura-pura sibuk. Orang ini sering kali menunda pekerjaan yang mereka anggap tidak menyenangkan atau sulit.

Untuk menutupi penundaan tersebut, mereka menciptakan ilusi kesibukan dengan berbagai kegiatan. Dalam banyak kasus, penundaan ini berkaitan dengan pengaturan emosi, bukan hanya manajemen waktu yang buruk.

Dengan terus menerus terlihat sibuk, mereka dapat menghindari tugas yang menyebabkan stres atau kecemasan. Siklus ini bisa memperburuk situasi, karena penundaan dan kesibukan terus berulang.

4) Perilaku Mencari Perhatian

Salah satu motivasi utama bagi orang yang berpura-pura lebih sibuk adalah mencari perhatian. Mereka ingin dihargai dan diakui oleh orang lain, dan salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan menunjukkan diri mereka selalu sibuk.

Kesibukan yang tampak ini menjadi alat untuk menarik perhatian, baik itu simpati, kekaguman, atau bahkan frustasi dari orang lain. Perilaku ini tidak selalu egois, melainkan lebih sebagai cara untuk mendapatkan pengakuan.

Dengan menjadi pusat perhatian, mereka merasa lebih dihargai dan lebih penting. Memberikan perhatian atau pengakuan dapat membantu memenuhi kebutuhan emosional mereka.

5) Keinginan untuk Mengendalikan

Banyak orang yang berpura-pura sibuk karena keinginan kuat untuk mengendalikan situasi dalam hidup mereka. Ketika seseorang merasa kehidupan mereka tidak teratur atau tidak dapat diprediksi, mereka mungkin menciptakan rutinitas yang sangat padat sebagai cara untuk merasakan kendali.

Jadwal yang penuh memberi mereka rasa aman, meski sering kali itu bukan hal yang benar-benar diperlukan. Kesibukan memberikan mereka kontrol atas interaksi dengan orang lain dan bagaimana mereka mengatur waktu mereka.

Rasa takut terhadap ketidakpastian atau perubahan sering kali mendorong mereka untuk terus bergerak dan terlibat dalam berbagai aktivitas. Keinginan untuk mengendalikan ini berakar pada ketidakamanan yang sering kali sulit untuk diatasi.

6) Berjuang dengan Harga Diri

Baca Juga: Operasi Lilin Digelar 21 Desember 2024 sampai 2 Januari 2025: Kawal Lalu Lintas Nataru, Polri Kerahkan 141 Ribu Personel

Bagi beberapa orang, harga diri sangat terkait dengan seberapa banyak yang bisa mereka capai dalam sehari. Mereka merasa lebih bernilai saat selalu sibuk dan produktif.

Hal ini menyebabkan tekanan untuk terus-menerus menunjukkan diri mereka sibuk, karena itu menjadi ukuran keberhasilan. Namun, hal ini bisa menyebabkan stres, kelelahan, dan masalah kesehatan mental jika dibiarkan berlanjut.

Orang-orang ini cenderung mengaitkan harga diri mereka dengan pencapaian eksternal, bukan dengan siapa mereka sebenarnya. Kesadaran bahwa nilai diri tidak tergantung pada seberapa sibuknya seseorang dapat membantu mereka melepaskan beban yang tidak perlu.

7) Takut Ketinggalan

Takut ketinggalan (FOMO) adalah salah satu pendorong utama bagi orang yang berpura-pura sibuk. Mereka merasa cemas bahwa jika mereka tidak terlibat dalam setiap kegiatan atau proyek, mereka akan ketinggalan informasi atau peluang penting.

Oleh karena itu, mereka menciptakan citra kesibukan yang terus-menerus untuk merasa terlibat dalam segala hal. Meskipun ini memberi mereka perasaan seolah-olah mereka terhubung dengan dunia, kenyataannya bisa sangat melelahkan.

Keinginan untuk tidak terlewatkan sering kali mengarah pada kelelahan dan ketidakpuasan, bukan kebahagiaan. Menerima kenyataan bahwa tidak perlu terlibat dalam segala hal dapat membantu mengurangi kecemasan tersebut.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#kepribadian #ciri-ciri #Berpura-pura #psikologi #sibuk