JawaPos.com — Film animasi terbaru Naoko Yamada yang berjudul Kimi no Iro atau The Colors Within baru saja tayang di bioskop-bioskop Indonesia sejak tanggal 4 Desember kemarin.
Bagi anda yang sudah menonton serta merasakan sendiri puncak pengalaman sinema dari anime bertemakan pendewasaan tersebut, dan ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang filmografi sang sutradara yang pernah bekerja di bawah naungan Studio Kyoto Animation ini, berikut beberapa rekomendasi film-film animasi garapan Naoko Yamada yang begitu indah dan penuh makna.
- K-ON! Movie
Film animasi ini merupakan sekuel sekaligus penutup dari serial animasi CGDCT (Cute Girls Doing Cute Things) berjudul K-ON! yang menceritakan detik-detik kelulusan para senior yang semakin dekat, semua anggota Klub Musik Ringan, kecuali Azusa, akan meninggalkan keseruan bermusik di klub tersebut untuk selamanya. Namun, para gadis itu tidak akan membiarkan hal konyol seperti kelulusan memisahkan mereka! Sebagai perayaan terakhir, para gadis itu akan melakukan sebuah tur liburan yang luar biasa sampai ke London! Perjalanan mereka ke luar negeri akan membawa mereka pada perjalanan penemuan dan persahabatan saat mereka naik panggung untuk terakhir kalinya demi penampilan terakhir mereka bersama. Dan seperti yang anda duga, melihat para karakter di lingkungan yang sama sekali asing dan dalam berbagai situasi yang aneh dan unik adalah hal yang sangat menyenangkan dan menghibur.
Banyak orang bertanya-tanya apa yang benar-benar memenuhi syarat sebagai sesuatu yang patut dicontoh dari sebuah film sekuel dan penutup untuk suatu judul serial animasi. Bagi sebagian orang, kualitas semacam ini dikaitkan dengan judul-judul dengan tema yang mendalam dan cerita yang kompleks, dan bagi yang lain mungkin sesuatu yang subjektif seperti apa yang bagi mereka "menyenangkan." Namun, yang dapat disetujui oleh semua orang adalah bahwa apa pun sifat judulnya, ketika kualitas yang melekat di dalamnya muncul, maka kualitas tersebut akan bersinar melalui cerita. Kualitas tersebut akan membuat penonton merasakan sesuatu yang penting dan akan membuat mereka terpesona dan terdiam saat bagian kredit film dimulai.
Matahari terbenam merupa ungkapan selamat tinggal, tetapi terbitnya matahari esok akan menandai hari lain bagi K-On! dan Hokago Tea Time, sebuah tradisi yang akan terus berlanjut selamanya.
- Tamako Love Story
Film animasi ini merupakan sekuel dari serial anime Tamako Market. Bercerita tentang akhir masa SMA dari Tamako Kitashirakawa, siswa kelas tiga yang energik tetapi umumnya tidak tahu apa-apa. Ia hanya memiliki satu perhatian utama, yaitu melakukan pertunjukan tongkat yang memukau di Festival Marching Usagiyama. Namun, segalanya berlangsung terlalu cepat, Tamako dihadapkan pada kenyataan bahwa semua temannya memiliki rencana besar untuk masa depan mereka; si gadis, di sisi lain, hanya menjalani hari-harinya dengan tujuan yang moderat untuk terus bekerja di restoran keluarganya.
Di bawah langit yang sama cerahnya, Mochizou Ooji bermaksud untuk belajar di sebuah universitas di Tokyo, meninggalkan keluarga, teman-teman, dan yang terpenting, cinta pertama serta satu-satunya: Tamako. Sayangnya, pengagum yang pemalu itu tidak dapat menyatakan cintanya, dan Tamako belum menyadari bahwa ia adalah sumber penderitaan tersebut. Dengan waktu yang hampir habis, Mochizou harus segera mengungkapkan perasaannya kepada Tamako, atau impiannya tentang romansa tidak akan pernah terpenuhi.
Ide utama film sekuel ini sangat sederhana, yaitu tentang cinta yang berkembang di antara para remaja; berbagai film yang menggunakan pola plot ini mengalami kegagalan di jajarannya, tetapi Tamako Love Story mampu membawa semua potensinya ke layar lebar dalam satu bagian.
Naoko Yamada, melalui film animasi ini, membawakan kita tradisi lama dari judul-judul anime produksi Studio Kyoto Animation, yaitu seni yang manis, jernih, dan rapi. Tamako Love Story memiliki perkembangan yang hebat, semua bagian yang tersebar di prekuelnya, saling terhubung menciptakan ikatan yang kuat antara kedua tokoh utamanya.
- Koe no Katachi
Film animasi adaptasi manga karangan Ooima Yoshitoki ini menceritakan penyesalan Shouya Ishida. Sebagai seorang remaja berandal, Shouya Ishida berusaha mengatasi kebosanan-nya dengan cara yang paling tidak bisa dimaafkan. Ketika Shouko Nishimiya yang tuli baru saja pindah ke kelasnya, ia dan teman-teman sekelasnya pun tanpa pikir panjang langsung merisak dan menindas si anak baru.
Namun, ketika perisakan tersebut sampai ke telinga ibunda Shouko, teman-teman Shouya pun langsung menunjuk si remaja berandal tersebut tanpa ragu. Praktis, Shouya-lah yang disalahkan. Dia yang mulanya dikelilingi oleh banyak teman, berubah jadi penyendiri sebab dikucilkan. Dihantui oleh perasaan bersalah, ia dengan tulus berusaha untuk menebus dosanya di masa lalu dengan berusaha bertemu dengan Shouko dan meminta maaf padanya.
Koe no Katachi atau A Silent Voice, merupakan sebuah kisah pendewasaan yang mengharukan tentang pertemuan kembali Shouya dan Shouko dan upaya jujur mereka untuk menerima diri masing-masing. Digarap oleh Naoko Yamada, film animasi yang memenangkan Tokyo Anime Award Festival untuk kategori skenario terbaik ini menjadi sebuah pengingat agar kita selalu memaafkan dan menerima diri sendiri.
- Liz to Aoi Tori
Hari-hari Liz nan sunyi-sepi pun berakhir ketika dia berjumpa dengan seekor burung biru yang mampu bersalin rupa menjadi seorang gadis muda. Hari berganti hari, dan hubungan di antara mereka pun semakin berkembang sampai Liz diharuskan membuat keputusan yang mengiris hatinya demi mewujudkan cintanya kepada Blue Bird!
Nozomi Kasaki dan Mizore Yoroizuka, adalah sepasang sahabat yang tergabung dalam sebuah klub orkestra sejak SMP, bahkan sampai SMA pun mereka tetap bersama dan seolah tak terpisahkan.
Pada seleksi regional di tahun ketiganya, mereka didapuk sebagai pemain utama dan membawakan bagian soli pada gerakan ketiga Liz and The Blue Bird, partitur yang terinspirasi dari dongeng tersebut. Mizore yang introver, memainkan instrumen oboe, mewakili Liz yang lembut; sementara Nozomi yang supel, memainkan flute, merepresentasikan Blue Bird yang ceria dan energik. Namun, saat latihan, duet mereka tidak pernah berhasil memuaskan seluruh anggota klub. Keduanya berusaha keras untuk memahami lagi esensi dari partitur yang mereka bawakan. Berusaha memahami, siapakah Liz dan siapakah Blue Bird.
Akankah Mizore dan Nozomi menemukan harmoni di antara disrupsi tempo persahabatan mereka? Akankah keduanya memahami peran mereka untuk satu sama lain? Dapatkah mereka menemukan kekuatan ketika menghadapi kenyataan pahit yang menanti di ujung cerita?
Liz to Aoi Tori, adalah cerita selipan dari serial utama Hibike! Euphonium, yang memiliki gaya penceritaan dan animasi yang unik khas Naoko Yamada. Kisah Mizore dan Nozomi yang menari-nari di antara paralelnya dongeng Liz dan Blue Bird, membawa anda pada cerita nan menawan tentang pendewasaan serta persahabatan gadis SMA yang berusaha untuk menggapai mimpi mereka.
- Garden of Remembrance
Garden of Remembrance adalah film pendek garapan Naoko Yamada selepasnya dari Studio Kyoto Animation. Film ini menggambarkan seorang gadis melalui kehidupan sehari-harinya saat penonton mengetahui bahwa ia sedang berduka sebab baru saja kehilangan kekasihnya. Sejak awal, film pendek ini disiapkan untuk sebagian besar disajikan menggunakan metode show-don’t-tell melalui citranya, yang sebagian besarnya harus dipahami sendiri oleh pada penonton.
Anda bakal langsung disambut dengan citra bunga anemon, yang sering kali menjadi simbol kehilangan orang yang dicintai. Seperti yang diketahui, Naoko Yamada memang sering kali memasukkan hanakotoba dalam karya-karyanya; dan pada film pendek ini bahasa bunga menjadi bagian inti dari cerita.
Selain hanakotoba, semua perhatian khas Naoko Yamada terhadap detail-detail kecil seperti mikroekspresi pun hadir dalam film ini. Animasinya benar-benar terasa hidup melalui adegan-adegan remeh seperti perjuangannya untuk bangun, menggosok gigi, dan sarapan setiap hari.
Secara keseluruhan, film ini adalah presentasi yang sangat kuat dari salah satu karya terbaik Naoko Yamada di industri anime: ekspresi emosi murni melalui presentasi audio-visual yang menggugah. Mungkin tidak sesempurna karya-karyanya yang lebih panjang, tetapi Garden of Remembrance memiliki banyak kelebihan yang sama dengan karya-karyanya yang lain. Pasti layak untuk dicoba.
Editor : Hendra