JawaPos.com — Bermula dari sebuah hal yang sangat-sangat sepele, siapa yang bisa menduga kalau takdir bisa bergerak ke arah yang sangat tidak disangka-sangka?
Ya, itulah premis Akudama Drive, anime sains-fiksi original terbaik di tahun 2020 hasil kolaborasi antara Studio Pierrot (Bleach, Naruto, Tokyo Ghoul) dengan Too Kyo Games (Danganronpa Series), yang idenya ditulis oleh Kazutaka Kodaka (Danganronpa Series) dan kemudian naskahnya diarahkan oleh Tomohisa Taguchi (Bleach: Thousand Year Blood War dan The Tunnel to Summer, the Exit of Goodbyes).
Serial anime bergenre aksi berbalut unsur-unsur sains-fiksi ini berlatar di sebuah dunia pasca-apokaliptik dan berada pada suatu era distopia dengan nuansa cyberpunk yang sangat kental di mana tindak kriminal sudah begitu merajalela, sampai-sampai polisi biasa pun tak lagi sanggup untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh para penjahat yang disebut sebagai ‘Akudama’.
Bila anda mencari sebuah tontonan yang memiliki atmosfer yang sama dengan film-film seperti Suicide Squad, Blade Runner, atau Ghost in The Shell, maka anime produksi Studio Pierrot satu ini bisa anda masukkan ke dalam daftar tontonan di akhir pekan.
Penasaran sebagus apa, sih, anime yang berhasil menyabet penghargaan sebagai serial anime original terbaik versi AniTrendz ini? Yuk, simak ulasan berikut!
Butterfly Effect: Satu Kepakan Sayap Kecil di Sini, Mencipta Badai di Tempat Lain
Siapa yang menyangka hal yang sangatlah remeh, seremeh tidak menyiapkan uang fisik untuk pembayaran suatu transaksi di era yang serba digital, ternyata bisa mengubah takdir seseorang sampai 180° dari kehidupan yang mulanya biasa-biasa saja menjadi kehidupan yang penuh teror dan aksi kejar-kejaran yang mencekam?
Hiperbolis memang, tapi itulah yang terjadi pada tokoh utama anime Akudama Drive yang sampai akhir serial ini tidak diungkap identitas aslinya sama sekali. Dia adalah tokoh perempuan biasa yang tidak disebutkan namanya, dengan tipikal karakter selayaknya remaja-remaja Gen Z yang doyan hangout dan kulineran.
Plot bermula ketika tokoh perempuan biasa (VA: Tomoyo Kurosawa), yang selanjutnya boleh disebut ‘Mbak A’ ini, hendak berwisata kuliner di distrik perbelanjaan yang terang-benderang penuh gemerlap lelampu neon dan layar-layar sibernetik. Salah satu kedai takoyaki yang terpencil di pojokan gang pun menarik perhatiannya. Dan lantas dia pun membeli satu porsi takoyaki yang dari baunya aja udah menggoda banget, apalagi kalo dimakan, kan? Pastinya “Maknyus,” dan “Mumtaz!”
Tapi, eh, tapi… sialnya, ibu-ibu penjual takoyaki enggak menerima pembayaran cashless seperti GoPay, Ovo, Dana, bahkan Qris! Duh, mana Mbak A enggak bawa cash sepeser pun pula. Duh, heran, zaman sudah canggih, tapi kok masih kolot gini, sih, ibu-ibu takoyaki!
Eh, kebetulan, tiba-tiba ada Mas Courier (VA: Yūichirō Umehara) yang sedang beli jajan di situ juga sebelum lanjut mengirim paket lagi. Waktu hendak membayar, dia enggak sadar kalo recehan-nya jatuh. Mbak A, sebagai anak yang baik, pintar, jujur, rajin menabung, dan tidak sombong, pun berniat mengembalikan recehan itu ke Mas Courier. Tapi, ditolak begitu saja dengan alasan kalau “Uang yang jatuh cuma bawa sial,” dan langsung tancap gas buat mengantarkan paket ke alamat selanjutnya.
Mbak A pun dilema: hendak bayar takoyaki pakai recehan tadi, tapi itu bukan uangnya; tapi kalau enggak bayar, dia sudah telanjur beli dan makan sebiji takoyaki pula.
Masa bodoh dengan dilema yang dialami oleh tokoh utama, ibu-ibu takoyaki tadi pun langsung menelepon polisi. Tentu saja, Mbak A pun segera diciduk dan diseret ke polsek terdekat selayaknya kriminal kelas kakap dan tanpa basa-basi langsung diberi cap sebagai Swindler atau Penipu di pusat data. Waduh, pasti sulit, nih, kalau Mbak A nanti mau melamar kerja dengan adanya noda pada SKCK-nya; tidak seperti para pejabat yang sudah pasti selalu bersih itu.
Meski bukan karena kesalahannya sendiri, Swindler yang sama sekali tidak berdaya itu kini mendapati dirinya sudah berkalungkan bom di leher! Dan ketika jumlah korban tewas tiba-tiba meroket, polisi yang brutal dan sewenang-wenang dengan kuasanya tanpa pikir panjang langsung menyimpulkan bahwa dalang di balik semua kekacauan ini pasti adalah Swindler. Lho, kok bisa?
Bermula dari tidak membawa uang cash, mendapat cap sebagai Swindler, kemudian tiba-tiba mendapat misi misterius yang memintanya bekerja sama dengan para Akudama lain untuk membebaskan Cutthroat dengan imbalan sejumlah besar uang! Sebuah permulaan misi yang mengubah kehidupannya yang biasa-biasa saja menjadi kehidupan yang selayaknya buronan Interpol yang akan terus dikejar-kejar meski sampai ke ujung dunia sekalipun.
Butterfly Effect itu nyata adanya!
Aksi Suicide Squad Anonim Tuntaskan Misi Bunuh Diri di Antara Kejaran Waktu dan Polisi
Akudama Drive, seperti yang telah disinggung di atas, berlatar di Jepang masa depan. Setelah pecah perang antara Kanto dengan Kansai, keduanya dipisahkan oleh zona terkontaminasi raksasa yang hanya dapat diakses oleh Shinkansen yang dipuja oleh penduduk Kansai seperti layaknya dewa.
Di Jepang era distopia tersebut penjahat merajalela dan dikenal sebagai Akudama yang diburu oleh para Executioner. Deberapa di antara penjahat kelas kakap ini dijatuhi hukuman sangat panjang, dan mereka juga merupakan karakter yang akan anda ikuti perjalanannya sampai serial ini berakhir.
Tokoh utama kita adalah Gadis Biasa yang, karena serangkaian situasi yang ekstrem, harus menjadi Swindler dan bergabung dengan kelompok Akudama yang kemudian disewa untuk merampok Shinkansen yang didewakan oleh orang-orang.
Kemudian ada Courier yang selalu fokus pada bisnis, Brawler (VA: Shunsuke Takeuchi) yang terobsesi dengan pertarungan, Hoodlum (VA: Sabaru Kimaru) yang banyak bicara dan pandai menjilat seperti buzzer atau pendengung, Doctor (VA: Megumi Ogata) yang haus kekuasaan, Cutthroat (VA: Takahiro Sakurai) yang sadis dan psikopat, serta Hacker (VA: Shun Horie) yang jenius.
Ketujuh Akudama tersebut, yang tidak pernah bertemu satu sama lain sebelumnya, tiba-tiba saja terpaksa tergabung dalam satu tim Suicide Squad dan mendapat misi rahasia dari seekor kucing hitam yang muncul bersama dengan seorang gadis misterius; sebuah misi bunuh diri dengan imbalan berupa uang yang tak terkira jumlahnya (yang mungkin saja setara dengan aset yang dimiliki seorang penjahat HAM berbadan sangat menggemaskan di suatu negeri antah-berantah) yang mengharuskan ketujuh ‘penjahat’ ini saling bekerja sama untuk pertama kalinya sebagai satu tim yang solid; sebuah mission impossible yang memaksa mereka untuk berkejaran dengan bom waktu mengalungi leher masing-masing!
Mereka diharuskan untuk membobol sistem keamanan super ketat, mencuri paket dari dalam kereta, lalu mengantarkan paket itu kepada seseorang yang berada di Kanto sembari lari dari satuan polisi elit Kansai: “Executioner.”
Serial Akudama Drive akan membawa anda pada sebuah petualangan berbahaya yang mengungkap kebobrokan sistem yang otoriter dan tragedi mengerikan di masa silam yang menyebabkan terpecahnya Negeri Sakura itu menjadi dua wilayah, Kansai dan Kanto.
Siapakah yang Menjadi Penjahat, Siapakah yang Menjadi Pahlawan?
Serial Akudama Drive mencoba untuk memberi tahu anda bahwa kejahatan pun akan tetap muncul di manapun itu, apalagi dengan berlakunya sistem yang otoriter, superketat, serta represif di masyarakat.
Selain itu, anime ini juga menyajikan sebuah realita di sekitar penonton yang berkaitan dengan betapa mudah dan cepatnya bagi seseorang untuk mendapat cap sebagai ‘penjahat’ hanya dikarenakan oleh hal-hal remeh sekalipun.
Anime bertema distopia arahan Tomohisa Taguchi ini terkesan sengaja membuat penikmatnya untuk menunda penilaian baik-buruk mereka terhadap para tokoh yang eksis di dalam cerita, siapa yang pantas-tidak pantas untuk dilabeli sebagai ‘penjahat’ dan juga seolah berusaha untuk menyingkap kebobrokan sebuah sistem yang mungkin saja pernah, sedang, atau bahkan akan berlaku di suatu tempat entah di mana.
Salah satu hal lain yang menarik dari serial 12 episode ini adalah penokohan-nya yang cukup kuat, kesebangunan dunia-nya yang kokoh, serta premis-premisnya yang cukup relevan dengan realita yang ada di sekitar penonton. Ketiganya didukung dengan gaya animasi serta sakuga yang memukau serta arahan koreografi pada tiap adegan pertarungan yang hiper-kinetik sehingga terasa begitu intens dan beradrenalin tinggi yang membuat penonton hampir-hampir tidak dibiarkan untuk mengambil napas sampai akhir!
Hal lain yang menarik adalah saat para tokoh dalam serial ini melanjutkan aksi mereka dan menimbulkan riak-riak konflik antara warga sipil dengan satuan Executioner yang menciptakan cerita sampingan yang sangat menghibur untuk ditonton karena konflik ini semakin intensif dan benar-benar mengaburkan batasan baik-jahat dengan momen-momen yang benar-benar membuat anda mempertanyakan moralitas di hampir semua aspek dalam serial ini.
Akudama Drive sangat menyenangkan sekaligus menawarkan tokoh-tokoh dengan karakter yang kuat, pembangunan dunia, dan komentar yang relevan tentang kehidupan nyata saat ini. Ditambah lagi, tidak seperti banyak anime lainnya, anime ini memiliki akhir yang fantastis.
Editor : Hendra