JawaPos.com - Hujan semakin sering turun dalam beberapa hari terakhir. Perubahan cuaca bisa berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan. Salah satu cara yang sudah teruji untuk mengantisipasinya adalah dengan mengonsumsi minuman berbahan alam yang telah dipakai turun-temurun untuk ’’menghangatkan” tubuh. Bahan-bahannya antara lain jahe, cabai jawa, cengkih, dan kapulaga. Studi ilmiah juga sudah mulai memberikan dukungan, termasuk manfaatnya sebagai pendongkrak imun, antiradang, dan pereda nyeri.
Di kalangan masyarakat Jawa, tradisi menghangatkan tubuh biasanya dengan meminum beberapa ramuan. Misalnya, minuman beras kencur, cabai lempuyang, wedang uwuh, wedang jahe, wedang empon, dan bandrek. Yang menarik adalah penggunaan jahe bersama bahan lain pada hampir semua ramuan penghangat tubuh itu.
Popularitas jahe di kawasan Asia Tenggara memang tidak diragukan. Sistem pengobatan tradisional Tiongkok percaya pada kerja jahe sebagai penghangat tubuh. Bahkan, efek itu sudah diteliti periset Jepang yang dipublikasikan pada 2005.
Peneliti ingin mengetahui efek pemberian jahe pada peningkatan suhu tubuh manusia. Ternyata, pada kelompok relawan yang mengonsumsi jahe terjadi peningkatan suhu yang teraba pada dahi. Sementara, kelompok yang hanya minum air tidak mengalaminya. Peningkatan tersebut juga terjadi pada kelompok yang diberi roti jahe dibandingkan dengan roti tanpa jahe.
Baca Juga: Rahasia Jahe yang Bisa Bikin Awet Muda, Cocok Untuk Masker Wajah, Lulur Badan, sampai Jadi Sampo
Susu Jahe Merah
Minuman yang cukup populer saat ini adalah ’’sujamer”, singkatan dari susu jahe merah. Ulasan peneliti Malaysia dan Tiongkok (2022) mengungkapkan banyak hal tentang jahe merah. Jahe merah adalah salah satu varietas tanaman jahe. Jadi, nama ilmiahnya Zingiber officinalis varietas rubrum dari suku Zingiberaceae. Rimpangnya berwarna merah. Bagian dasar pucuk daun berwarna merah. Tanaman bisa mencapai ketinggian 50–100 cm.
Bentuk rimpang lebih kurang sama dengan jahe biasa, hanya warnanya yang merah cokelat dan tebal. Jahe merah utamanya ditanam di Tiongkok, Indonesia, dan Malaysia. Rasanya lebih pedas dari jahe biasa. Dan khasiatnya didapat melalui sinergi antar 169 macam zat kandungannya yang sangat kompleks. Ada minyak atsiri, vitamin, serta mineral (tembaga, zat besi, manganum, zink, nikel, dan stronsium).
Jahe merah mengandung gingerol dan shogaol seperti jahe biasa. Sementara kadar fenol dan flavonoid lebih tinggi ketimbang jahe biasa. Berbagai riset menunjukkan khasiat jahe merah yang cukup banyak, termasuk antioksidan, antiradang, pereda nyeri, pelindung fungsi saraf, pengendali kadar gula, kolesterol, dan lipida. Artinya, mengonsumsi jahe merah bukan sekadar berkhasiat meningkatkan suhu tubuh.
Ada studi menarik oleh peneliti Indonesia (2022), yang memeriksa efek penambahan jus jahe merah ke dalam minuman yoghurt yang disimpan selama 30 hari. Ternyata, hasil studi menengarai terjadinya peningkatan aktivitas antioksidan yoghurt yang cukup tinggi dan tekstur yang terlihat lebih baik. Jadi, kombinasi itu memberikan nilai tambah yoghurt berupa aktivitas antioksidan dan sebagai probiotik. Bagaimana dengan minuman sujamer? Mengingat jahe merah punya khasiat dan aman, diharapkan minuman ini bisa membantu mempertahankan dan meningkatkan keadaan sehat.
Ramuan Warisan Sunan Kudus
Dalam sebuah Jurnal Manuskrip Nusantara tahun 2011 disebutkan, ada racikan jamu sebagai obat hangat itu adalah salah satunya karya Sunan Kudus. Secara lengkap bahan racikan meliputi cabai jawa, cengkih, kayu manis, kembang pala, buah pala, kapulaga, buah kemlaka, jinten hitam, babakan kayu, minyak wijen, dan madu. Manfaat minum ramuan itu dikatakan antara lain membuat badan lelah menjadi segar, rasa lesu bisa menjadi bersemangat, dan muram menjadi ceria kembali. Ini dapat diartikan khasiatnya sebagai penjaga stamina tubuh, yaitu berkat kerja bareng zat kandungan fito, berbagai vitamin, dan mineral.
Cabai Jawa punya efek memperlebar pembuluh darah (vasodilator) sehingga terjadilah kelancaran aliran darah yang membawa berbagai zat untuk proses metabolisme sel. Metabolisme menghasilkan energi yang perlu untuk menjaga suhu tubuh. Biji pala berkhasiat antara lain sebagai penenang, pereduksi stres, dan pereda nyeri. Khasiat antioksidan dimiliki oleh hampir semua bahan ramuan sehingga kerusakan sel dapat terkendali. Jumlah bahan pada resep asli menggunakan istilah bahasa Jawa ’’ketheng”, yaitu nama uang logam peser.
Namun, dengan mempertimbangkan manfaat dan kemudahan mendapatkan bahan, kita dapat membuat ramuan serupa dari resep ramuan asli (hasil survei yang tidak dipublikasikan) yaitu: cabai jawa 3 biji, cengkih 2, kayu manis 3 cm, biji pala 1, kapulaga 5, dan jinten hitam 20 butir. Semua bahan dicuci bersih, tambahkan air 750 ml, rebus dengan api sedang hingga mendidih. Kecilkan api, lanjutkan pemanasan selama 20 menit. Setelah disaring, minum hangat 250 ml sekali sehari 2 kali seminggu. Resep ini diutamakan bagi mereka yang tidak sedang minum obat dokter.
Wedang Uwuh
Perpaduan bahan pada resep wedang uwuh boleh diandalkan untuk menjaga daya tahan tubuh. Kekuatan itulah yang mampu mempertahankan kesehatan pada setiap pergantian musim. Syaratnya, mulai digunakan secara teratur pada periode awal pergantian musim, menjaga pola makan kaya nutrisi, istirahat 7–8 jam sehari, dan olahraga 30 menit setiap hari. Rebusan kayu secang yang menimbulkan warna merah bekerja sebagai antioksidan kuat, pengatur kelancaran sirkulasi darah, antiradang, serta mengatasi atau mencegah gangguan saluran napas dan saluran cerna. (*)
Pemanfaatan
Membuat Sendiri Sujamer
Bahan
250 ml susu UHT
5 cm jahe merah dimemarkan
50 ml air mineral
Cara membuat
- • Rebus jahe merah, gula aren, dan daun pandan dalam air hingga mendidih.
- • Lanjutkan pemanasan selama 10 menit.
- • Masukkan susu, aduk, dan angkat dari api.
- • Saring dan siap dihidangkan.
Saran penyajian
- • Pada awal pergantian musim dapat diminum setiap pagi.
- • Bagi mereka dengan kadar lemak tinggi, gunakan susu rendah lemak.
- • Bagi pengguna obat jenis pengencer darah, harap berhati-hati dalam mengonsumsi jahe. Sebaiknya berkonsultasi dengan dokter yang merawat.
*Prof Dr Apt Mengestuti Agil MS, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. YouTube: Kanal Kesehatan Prof Mangestuti
Editor : Hendra