JawaPos.com - Aset kripto semakin menarik perhatian investor yang ingin mendiversifikasi portofolio dan mencari potensi keuntungan baru. Salah satu caranya adalah melalui trading dan staking. Keduanya menyediakan dua jalur berbeda untuk mendapatkan keuntungan.
Trading memungkinkan perolehan keuntungan dari pergerakan harga aset. Sementara itu, investor staking memperoleh ’’dividen’’ dalam bentuk aset yang sama dari jaringan kripto yang di-staking-kan.
Dalam konteks diversifikasi portofolio, aset kripto memberikan nilai tambah karena tidak selalu berkorelasi dengan aset tradisional seperti saham, obligasi, atau dengan investasi sejenis. Karena itu, cryptocurrency dapat menjadi pengaman bagi portofolio ketika terjadi volatilitas di pasar keuangan lainnya.
Perlu diperhatikan bahwa trading kripto juga memiliki risiko, sama dengan instrumen lain. Pasarnya sangat fluktuatif dan harga aset dapat berubah dalam waktu singkat. Investor yang ingin masuk ke pasar kripto perlu memperhatikan strategi manajemen risiko yang baik. Misalnya, menetapkan target profit dan stop-loss untuk mengurangi potensi kerugian. Atau jika ingin untuk jangka panjang, harus benar-benar memahami aset yang akan dibeli.
Investor juga harus memahami mekanisme staking. Sistem itu merupakan proses menyimpan aset di dompet khusus atau platform untuk membantu menjaga keamanan dan validasi jaringan blockchain tertentu. Sebagai imbalannya, investor akan mendapatkan ’’dividen” dalam bentuk kripto yang berasal dari blok baru yang dihasilkan oleh jaringan.
Salah satu aset populer yang biasa di-staking adalah ethereum 2.0. Pengguna dapat mengunci aset ETH dalam jaringan dan menerima imbalan ETH baru sebagai dividen. Proses tersebut relatif mudah dan tidak memerlukan keterampilan teknis tingkat lanjut. Hal itu cocok bagi investor yang mencari keuntungan pasif dari aset kripto.
Staking juga memiliki manfaat tambahan bagi investor jangka panjang karena proses itu umumnya membantu menjaga stabilitas jaringan. Selain itu, hasil dari ’’dividen” bisa menjadi tambahan yang cukup signifikan untuk nilai portofolio jika dilakukan dalam waktu lama.
Jadi, trading memungkinkan pengambilan keuntungan dari volatilitas pasar. Sementara itu, staking menawarkan penghasilan pasif dalam bentuk reward. Keduanya memiliki potensi keuntungan yang signifikan sekalipun ada risiko jika tidak bijak dalam berinvestasi. Karena itu, sebelum memulai, investor harus memahami karakteristik masing-masing strategi dan memilih yang paling sesuai dengan profil investasi mereka. (bil/c7/dio)
JORDAN SIMANJUNTAK, Chief marketing officer (CMO) Triv